Malam itu, setelah terjebak dalam ciuman panas Bima, Reyna mengunci pintu kamarnya dengan tangan gemetar, mendekap tubuhnya sendiri di atas tempat tidur, berusaha menulikan telinga dari detak jantungnya yang membangkang.
Sisa-sisa ciuman ganas di perpustakaan itu masih terasa nyata, meninggalkan sensasi berdenyut yang panas di bibir Reyna.
Saat Reyna mengambil cermin kecil di meja kecil sebelah tempat tidur, dan bercermin dengan napas terengah, ia melihat pantulan dirinya yang mengerikan; bibir yang sedikit membengkak dan kemerahan, serta mata yang menyiratkan ketakutan luar biasa—bukan hanya pada Bima, tapi pada pengkhianatan jantungnya sendiri yang sempat berdegup liar karena sentuhan pria itu.
Ini gawat. Sangat gawat. Ia tidak bisa di sini lebih lama lagi.
Hatinya mulai tidak bisa diajak bekerja sama.
Minggu pagi, saat cahaya matahari baru saja menyentuh cakrawala, Reyna mengemasi beberapa helai pakaian ke dalam tas ranselnya.
Ia melarikan diri ke rumah petak lamanya, tempat ibunya sempat tinggal sebelum dipindahkan ke Sukabumi.
Meskipun sunyi, ia merasa lebih aman di sana daripada harus menghirup aroma sandalwood yang menyesakkan di apartemen Bima.
Namun, Senin pagi memaksanya kembali ke realitas. Sebagai mahasiswi teladan yang tak pernah mengenal kata bolos, Reyna tersadar bahwa beberapa buku referensi penting untuk mata kuliah pagi ini tertinggal di apartemen Bima. Dengan hati yang dirundung kecemasan, ia kembali ke gedung pencakar langit di Kuningan itu. Ia sengaja bersembunyi di balik pilar besar di koridor lobi, menunggu dengan napas tertahan hingga ia melihat sosok jangkung Bima melangkah keluar dan menghilang di balik pintu lift yang menuju basemen parkir.
Begitu keadaan dirasa aman, Reyna bergegas naik. Ia masuk ke apartemen dengan gerakan secepat kilat, langsung menuju kamarnya untuk menyambar buku-buku yang ia butuhkan.
Entah bagaimana ia harus menghadapi Bima di kelas nanti, tetapi bagi Reyna, pendidikannya lebih penting. Ia harus mengamankan beasiswa yang ia dapat dengan susah payah.
Namun, tepat saat ia hendak melangkah keluar, ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal muncul di layar.
[Arkan: Jangan kira aku takut dengan dosen b******k itu! Aku tahu di mana ibumu sekarang. Selain kehilangan harga dirimu, apa kau juga ingin melihat ibumu kehilangan napasnya?]
Dunia Reyna seolah runtuh seketika. Tubuhnya kaku, dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.
Ia mencoba menghubungi ponsel ibunya, lalu ponsel bibinya di Sukabumi, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Kepanikan mulai mengambil alih logikanya. Tanpa pikir panjang, Reyna memutuskan untuk melakukan hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya: bolos kuliah. Masa bodoh dengan pendidikan dan beasiswanya, nyawa ibunya adalah segalanya.
Reyna berlari turun menuju lobi. Naas, saat baru saja hendak keluar melewati pintu kaca besar, langkahnya terhenti seketika. Di seberang jalan, sebuah mobil sedan putih yang sangat ia kenali terparkir diam. Di balik kaca film yang gelap, Reyna bisa merasakan sepasang mata predator sedang mengawasinya.
Itu Arkan.
Kengerian merayap di sepanjang tulang punggungnya.
Arkan pasti serius terhadap ancamannya. Entah Arkan memang sudah tahu alamat ibunya, atau belum. Yang Reyna tahu pasti, jika ia nekat keluar sekarang, Arkan mungkin akan mengikutinya langsung ke Sukabumi.
Atau lebih buruk lagi, Arkan bisa saja membuat keributan di sini dan membongkar fakta di depan semua orang, bahwa ia tinggal bersama Bima—sebuah skandal yang akan menghancurkan hidupnya dalam sekejap.
Dengan sisa tenaga yang ada, Reyna kembali lari masuk ke dalam lift, naik ke lantai tiga puluh, dan mengunci diri di kamar tamu.
Ia duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya dalam kegelapan yang mulai turun seiring tenggelamnya matahari.
Saat matahari sudah sepenuhnya tenggelam, pesan berikutnya dari Arkan masuk, lebih berbisa dari sebelumnya.
[Arkan: Tidak ada belas kasihan lagi untuk kamu, sialan! Aku sudah tidak butuh taruhan itu. Aku hanya ingin melihatmu hancur sampai ke dasar neraka!]
[Arkan: IBUMU DI SUKABUMI YA?]
[Arkan: Kamu pikir mengirimnya ke sana membuatku tidak bisa menemuinya? Jangan mimpi, Rey. AKU ITU BISA MELAKUKAN APA PUN!]
Reyna membelalak, air mata mulai merembes deras membasahi pipinya yang pucat.
Ia terisak tanpa suara, merutuki nasibnya yang seolah tak pernah diizinkan bernapas tenang.
Mengapa Tuhan begitu tidak adil?
Apa dosanya hingga ia harus terjepit di antara dua monster yang sama-sama ingin menghancurkannya?
Di tengah isak tangis yang menyesakkan itu, tiba-tiba sebuah lengan yang kokoh melingkar di bahunya, menarik tubuh gemetarnya masuk ke dalam dekapan yang hangat.
Reyna terkesiap, hampir berteriak karena terkejut. Namun, saat matanya yang kabur oleh air mata menatap profil wajah pria yang berada sangat dekat dengan wajahnya, ia mendapati Bima di sana.
Ada kilat kemarahan di mata pria itu—kemarahan pada Arkan—namun juga ada kelembutan yang menyakitkan saat menatapnya.
"Tenanglah, Na... aku di sini," bisik Bima parau. Suaranya yang rendah entah bagaimana mulai meredam badai di d**a Reyna. "Jangan takut. Dia tidak akan bisa menyentuh ibumu. Aku bersumpah."
Untuk pertama kalinya, Reyna tidak menolak. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Bima, menghirup aroma sandalwood yang selama ini ia benci namun kini terasa seperti satu-satunya pelabuhan di tengah samudra yang mengamuk.
Dalam pelukan itu, ketegangan emosionalnya pecah, berganti dengan rasa lelah yang luar biasa hingga ia tertidur karena pengaruh serangan panik yang menguras energinya.
Dini hari, Reyna terbangun. Ia masih berada dalam pelukan Bima di atas tempat tidur kamar tamu. Pria itu tertidur sambil duduk bersandar pada headboard, lengannya tetap protektif mendekapnya. Napas Bima yang teratur terasa hangat saat berhembus ke pipinya.
Reyna mendongak, mengamati profil wajah Bima yang tampak seperti pahatan marmer dalam keremangan cahaya subuh.
Pria ini... pria ini memiliki kuasa untuk menghancurkan Arkan, ia tahu itu.
Tapi ia juga tahu, setiap perlindungan dari Bima memiliki harga yang sangat mahal: kebebasan jiwanya.
Aku tidak boleh berutang lebih banyak lagi padanya, batin Reyna perih.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, Reyna menyelinap keluar dari pelukan Bima.
Ia menyambar ranselnya, mengemasi sedikit pakaian, dan keluar dari apartemen itu tanpa suara.
Rencananya sederhana: ia akan pergi ke Sukabumi, membawa ibunya pindah lagi ke tempat yang lebih tersembunyi, dan jika perlu, ia akan berhenti kuliah.
Apa pun, asalkan ia tidak lagi menjadi pion di antara Bima dan Arkan.
Perjalanan menuju Sukabumi terasa sangat panjang. Begitu sampai di rumah kayu milik bibinya, Reyna langsung menghambur memeluk ibunya dan menangis sesenggukan.
"Loh, Na? Kok nangis? Kenapa pulang mendadak?" tanya ibunya yang kebingungan melihat kedatangan putrinya yang tiba-tiba.
"Cuma kangen, Bu. Kuliah Reyna lagi libur pengabdian masyarakat," bohong Reyna sambil menghapus air matanya. "Reyna mau di sini saja nemenin Ibu."
Siang harinya, ibunya bersiap-siap membawa rantang berisi makanan untuk suaminya adiknya (paman Reyna) yang sedang bekerja di kebun jagung.
Reyna memaksa ikut, ingin memastikan ibunya selalu berada dalam jangkauannya.
Sesampainya di sana, ternyata pamannya sedang panen jagung bersama banyak tetangga lain. Mereka menyapa Reyna dengan ramah. Ia pun mulai membantu memanen jagung sebentar.
Hanya sebentar, ibunya yang khawatir Reyna kelelahan setelah perjalanan jauh, memaksanya pulang lebih dulu untuk istirahat.
"Ibu masih mau bantu paman dan ibu-ibu lain di sini sebentar, Na. Kamu pulang dulu saja, ya? Nanti Ibu nyusul," ujar sang ibu lembut.
Reyna akhirnya mengangguk. Ia berjalan pulang menyusuri jalan setapak dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang tamu rumah bibinya, ia mendapati sebuah pemandangan yang hampir membuat jantungnya copot.
Di sana, di atas kursi rotan sederhana, duduk seorang pria dengan kemeja flanel yang rapi dan kacamata berbingkai tipis. Ia sedang tertawa-tawa bersama bibi Reyna, menyesap teh melati seolah mereka adalah teman lama yang sedang bernostalgia.
Reyna menjatuhkan rantang kosong di tangannya hingga menimbulkan suara dentang yang nyaring di lantai kayu.
"Loh, Reyna sudah pulang? Ini loh, Na... ada teman kamu dari Jakarta datang jauh-jauh mau menjenguk," ujar bibinya dengan wajah sumringah.
Mata Reyna membelalak. Pria itu... Bima Adi Wijaya.
Tanpa mempedulikan sopan santun, Reyna segera maju, mencengkeram lengan Bima, dan menarik pria itu dengan paksa menuju area dapur yang sempit dan remang di bagian belakang rumah. Setelah memastikan bibinya tidak mendengar, Reyna meledak.
"Bapak gila ya?! Kenapa Bapak bisa sampai ke sini?!" desis Reyna dengan amarah yang tertahan. Suaranya bergetar, wajahnya memerah karena emosi yang campur aduk.
Bima tidak langsung menjawab. Ia justru menatap bibir Reyna yang masih tampak sedikit membengkak—jejak ciumannya dua malam lalu—lalu beralih mengunci mata Reyna dengan intensitas yang membuat gadis itu terpojok ke dinding dapur.
"Lalu kamu? Lupa dengan perjanjian poin kelima kita?" tanya Bima dengan suara baritonnya yang tenang namun mengancam. "Kamu dilarang pergi tanpa memberitahuku, Reyna."
Reyna memajukan tubuhnya, menantang Bima lebih dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Bapak yang lebih dulu melanggar! Ingat?! Perjanjian untuk tidak pernah menyentuh saya?!"
Tangan Bima terangkat perlahan, jemarinya yang hangat hendak mengelus bibir Reyna yang menantangnya dengan berani. Namun, tepat sebelum jemari itu mendarat, suara langkah kaki terdengar dari pintu dapur.
"Loh, Na? Kamu bawa teman ke sini? Eh... atau ini pacarmu ya?"
Ibu Reyna berdiri di sana, menatap mereka dengan senyum malu-malu yang polos.
Ia tampak sangat senang melihat putrinya tampak begitu "dekat" dengan seorang pria yang terlihat rapi dan sopan.
Reyna tercengang, lidahnya mendadak kelu. "Pa... pacar, Bu?!"
Bima tidak melepaskan tatapannya dari Reyna. Malah, sebuah seringai tipis yang sangat menyebalkan sekaligus menawan, muncul di sudut bibirnya saat ia menoleh ke arah ibu Reyna.
"Selamat siang, Bu. Saya Bima, Bu. Pacar Reyna." ucap Bima dengan nada yang sangat sopan, namun matanya tetap melirik nakal ke arah Reyna yang kini merasa dunianya baru saja kiamat untuk kedua kalinya dalam sehari.
.............................