BAB 18: Pengejaran ke Sukabumi

1258 Words
Minggu pagi menyapa Jakarta dengan sisa hujan semalam yang meninggalkan hawa dingin di udara. Di lantai tiga puluh, kesunyian apartemen terasa sangat menekan. Bima berdiri mematung di depan pintu kayu jati kamar tamu, ingin meminta maaf. Tangannya yang sudah terkepal untuk mengetuk, tiba-tiba tertahan di udara. Ingatannya melayang pada kejadian di perpustakaan semalam—ketika amarah dan gairah membaur menjadi satu ledakan yang tak terkendali. Ia teringat bagaimana tangannya mulai menyelusup masuk ke balik kaos abu-abu Reyna, merasakan tekstur halus kulit punggung gadis itu yang hangat, sebelum akhirnya sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Bima mengelus pipi kanannya yang masih terasa sedikit berdenyut. Tiga kali. Sudah tiga kali ia menerima tamparan dari tangan yang sama. Namun, alih-alih marah, Bima justru merasa dihantam rasa bersalah yang luar biasa. Ia merutuki nafsunya yang tak masuk akal. Selama lima tahun menjalin kasih dengan Angel, ia adalah pria yang mampu mengendalikan diri sepenuhnya. Tapi bersama Reyna—gadis yang baru dikenalnya dalam hitungan minggu—semua kontrol itu seolah menguap, digantikan oleh dorongan primitif yang sulit ia pahami. Ia merasa sudah dirasuki monster c***l detik ia mengenal kelembutan kulit Reyna. Bima menahan napas sedetik. Kemudian mengetuk dengan seluruh tekad. "Reyna?" panggilnya lirih. Ketukan pertama tidak dijawab. Ketukan kedua pun sama. Hening. Bima akhirnya menunggu hingga matahari meninggi, hingga aroma steak semalam sudah hilang dari udara, namun tetap tidak ada suara gesekan lantai atau deru napas dari balik pintu itu. Reyna seolah lenyap ditelan kesunyian kamarnya sendiri. Karena tumpukan draf proposal investor dan tugas dekanat yang sudah menunggu di kampus, Bima terpaksa pergi. Ia berpikir Reyna mungkin hanya butuh waktu untuk sendiri, memproses apa yang terjadi semalam. Namun, saat ia pulang malam harinya, apartemen itu masih dalam kondisi yang sama. Gelap. Tidak ada cahaya yang keluar dari celah bawah pintu kamar tamu. "Mungkin dia sudah tidur," gumam Bima, mencoba menenangkan hatinya yang mulai didera firasat buruk. Senin pagi tiba, dengan kegelisahan yang memuncak. Jarum jam sudah mendekati angka delapan—waktu di mana Reyna seharusnya sudah siap untuk kuliah. Namun, meja makan tetap kosong. Pintu kamar itu tetap terkunci rapat. Rasa khawatir mengalahkan keraguan. Bima mengambil kunci cadangan dari laci kerjanya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia memutar kunci itu. Klik. Pintu terbuka, namun pemandangan di dalamnya membuat jantung Bima seolah berhenti berdetak. Kamar itu rapi, terlalu rapi. Kasur tersusun sempurna, buku-buku kuliah tertata di atas meja, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Reyna. Lemari pakaiannya sedikit terbuka, menunjukkan beberapa helai baju yang hilang. Bima segera mengambil ponselnya. [Bima: Reyna, kamu di mana? Kenapa keluar tanpa izin?] [Bima: Ingat poin kelima perjanjian kita. Kamu wajib memberitahu posisimu kapan pun. Jawab saya.] Pesan itu hanya berstatus terkirim, tanpa balasan. Dengan kecemasan yang membayang, Bima berangkat ke kampus, berharap menemukan sosok mungil itu duduk di barisan belakang kelasnya. Namun, hingga kuliah berakhir, kursi Reyna tetap kosong. Pencarian berlanjut ke laboratorium instrumen di basement, ke perpustakaan pusat, hingga ke rumah petak lamanya yang kini kosong. Nihil. Reyna seolah menghilang dari muka bumi tepat saat badai mulai mereda. "Ke mana kamu pergi di saat kamu tidak punya satu pun tempat untuk berteduh di kota ini, Rey?" bisik Bima frustrasi. Malam mulai turun menyelimuti Jakarta saat Bima kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Ia kembali memasuki kamar tamu yang kosong itu, hendak merenung, namun telinganya menangkap suara desis napas yang berat dari balik lemari besar di sudut kamar. Bima berlari mendekat. Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, ia menemukan Reyna. Gadis itu sedang meringkuk, tubuhnya gemetar hebat, dan napasnya tersengal-sengal seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik paru-parunya. "Reyna!" Bima jatuh berlutut, menarik tubuh gadis itu ke pangkuannya. Ia melihat ponsel Reyna tergeletak di lantai dengan layar yang masih menyala. Bima menyambar ponsel itu dan membaca rentetan pesan dari Arkan yang beracun: [Arkan: Jangan kira aku takut dengan dosen b******k itu! Aku tahu di mana ibumu sekarang. Selain kehilangan harga dirimu, apa kau juga ingin melihat ibumu kehilangan napasnya?] [Arkan: Tidak ada belas kasihan lagi, untuk kamu, sialan! Aku sudah tidak butuh taruhan itu. Aku hanya ingin melihatmu hancur sampai ke dasar neraka!] Amarah Bima mendidih hingga ke ubun-ubun, namun kondisi Reyna jauh lebih mendesak. Gadis itu sedang mengalami serangan panik (panic attack) yang parah disertai sesak napas akut. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan seluruh tubuhnya terasa sedingin es. "Dengarkan saya, Reyna! Tarik napas!" perintah Bima dengan suara baritonnya yang menenangkan namun tegas. Melihat Reyna yang mulai kehilangan kesadaran, Bima melakukan teknik grounding fisik yang ekstrem. Ia melepas jaketnya, menarik Reyna masuk ke dalam pelukannya yang sangat erat. Ia menempelkan d**a bidangnya ke punggung Reyna, memastikan terjadi kontak kulit yang maksimal untuk mentransfer suhu tubuhnya yang hangat kepada gadis yang sedang kedinginan itu. "Bernapaslah bersamaku, Rey..." bisik Bima tepat di puncak kepala Reyna. "Ikuti ritme napasku. Satu... dua... tiga..." Reyna yang dalam kondisi setengah sadar tidak lagi melakukan perlawanan. Dalam ketakutannya yang melumpuhkan, ia justru secara instingtif mencari perlindungan pada d**a Bima yang luas. Ia meremas kemeja Bima, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, mencari oksigen di tengah badai traumanya. Walau dua malam lalu laki-laki ini sempat membuatnya murka, kali ini, ada rasa aman yang membingungkan yang mulai merusak pertahanan dingin Reyna. "Aku akan membantumu. Aku bersumpah akan menyelesaikan ini," gumam Bima, tangannya mengusap jejak keringat dingin di pelipis Reyna dengan ibu jari secara lembut. "Arkan tidak akan menyentuh ibumu. Aku akan menghancurkannya sebelum dia sempat melakukannya. Tenanglah, Rey..." Gesekan fisik di antara mereka membangkitkan memori intim dua malam lalu di kepala Bima. Bima mati-matian menahan desakan hasratnya. Wangi vanila dan sabun bayi yang menguar dari rambut Reyna, juga menyerang indranya, namun ia menekan perasaan itu dalam-dalam. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan kewarasan gadis ini. Setelah getaran di tubuh Reyna mereda dan napasnya mulai teratur, Bima mengangkat tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati, menidurkannya di atas kasur. Ia menyelimutinya hingga ke dagu. Awalnya Bima berniat pergi, namun melihat tangan Reyna yang sesekali masih bergetar dalam tidurnya, ia memutuskan untuk tetap tinggal. Bima duduk di lantai, bersandar pada sisi tempat tidur. Ia terus menepuk-nepuk lengan Reyna secara ritmis—sebuah gerak penghibur yang biasa dilakukan seorang ibu kepada anaknya. Tanpa sadar, karena kelelahan setelah seharian mencari, Bima ikut tertidur dengan kepala bersandar pada pinggiran kasur. Saat cahaya matahari pagi menerobos celah gorden pada Selasa pagi, Bima terbangun dengan leher yang kaku. Ia segera mendongak, namun kasur itu sudah kosong. Kehangatan tubuh Reyna sudah menghilang, meninggalkan jejak sprei yang sedikit berantakan. "Reyna?" Bima menghela napas berat. Ia sudah menduganya. Gadis itu adalah petarung yang akan selalu berusaha lari. Bima mengambil ponselnya sendiri, membuka sebuah aplikasi pelacak yang tersembunyi. Bima melakukan hal yang lancang semalam. Saat Reyna tertidur pulas dalam pengaruh obat penenang ringan, Bima menggunakan sidik jari Reyna untuk membuka ponselnya yang tidak dikunci, lalu menginstal aplikasi pelacak (spyware) di sana. Bima tahu ini melanggar privasi, tapi ia tidak punya pilihan. Ia tidak bisa membiarkan Reyna hilang lagi. Di layar ponselnya, sebuah titik merah kecil terlihat bergerak keluar dari batas kota Jakarta, menyusuri jalur menuju arah Selatan. "Sukabumi," desis Bima. Sepertinya ia tahu ke mana tujuan Reyna. Gadis itu pasti nekat pergi untuk melindungi ibunya sendirian. Bima berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. Matanya memancarkan tekad yang dingin. Dosa-dosanya di masa lalu telah memberinya lubang hitam di hati, namun takdir seolah memberinya kesempatan untuk menebusnya melalui Arkan. Ia tidak akan membiarkan Reyna menghadapi monster itu sendirian. "Tunggu aku, Reyna. Kali ini, monster berdasi ini akan benar-benar menjadi pelindungmu," gumam Bima sebelum menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar menuju parkiran, memulai pengejaran yang akan menentukan masa depan mereka berdua. ............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD