BAB 17: Gairah atau Amarah yang Terbakar

1678 Words
"Sudah selesai bicaranya, Angel?" Suara Bima terdengar seperti guntur yang diredam, dingin dan sangat rendah. Ia baru saja hendak melangkah maju, tangannya sudah mengepal siap untuk menyeret Angel keluar dengan cara paling kasar yang bisa ia bayangkan. Namun, sebelum Bima sempat melakukan apa pun, sebuah pergerakan di sampingnya menghentikan langkahnya. Reyna maju. Gadis yang biasanya hanya diam seperti patung, yang selalu menunduk seolah memikul beban dunia di depan orang—selain Bima—kini berdiri tegak. Ia melangkah mendekati Angel hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa jengkal. Cahaya temaram dari lampu meja kerja Bima membiaskan sorot mata Reyna yang berkilat tajam—sesuatu yang belum pernah Bima lihat sebelumnya. "Nyonya..." Reyna memulai, suaranya sedatar es. Ia sengaja menggunakan panggilan yang terdengar sopan namun sarat akan jarak. "Atau siapa pun nama Anda. Anda datang ke sini, menggunakan kunci cadangan yang jelas-jelas bukan hak Anda lagi, lalu meludahkan tuduhan yang tidak memiliki basis data sama sekali. Wajah Nyonya cantik sekali, tapi sayang, cara bicara Anda sama sekali tidak menunjukkan kelas!" Angel tertegun, mulutnya sedikit menganga karena tidak menyangka asisten "lusuh" ini berani bersuara. "Apa kamu bilang?! Kamu! Kamu nggak tahu siapa aku?!" Reyna tertawa sinis, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan. "Biar aku tebak. Dari cara Anda berteriak histeris dan menyerang orang yang bahkan tidak Anda kenal, Anda sedang menunjukkan gejala insecurity yang akut. Nyonya sedang ketakutan, kan? Takut kalau Nyonya sebenarnya sudah tidak berarti apa-apa lagi di mata Pak Bima." "Kurang ajar!" tangan Angel terangkat, hendak melayangkan tamparan, namun Reyna sama sekali tidak bergeming. Mata Reyna justru menatap balik dengan keberanian yang membuat Angel bimbang. "Nyonya pasti diputuskan, ya?" Reyna menatap Angel dari atas ke bawah dengan tatapan yang sangat menghina. "Hubungan sudah selesai, tapi masih tidak tahu malu keluar masuk rumah mantan seenaknya. Wanita seperti Anda ini... dalam istilah ilmiah, tak ubahnya seperti zat kontaminan yang merusak sterilitas laboratorium. Anda hanyalah residu masa lalu yang tidak lagi berharga. Keberadaan Anda di sini hanya akan mengakibatkan degradasi kualitas udara." Di belakangnya, Bima tak mampu menahan diri. Sebuah tawa pendek namun penuh kemenangan lolos dari bibirnya. Ia melihat Angel yang kini kehilangan kata-kata, wajahnya merah padam karena malu dan marah yang meledak di saat yang bersamaan. Bima benar-benar terpesona pada Reyna. Ia tak menyangka bahwa seseorang bisa memaki dengan bahasa seilmiah itu. Angel menoleh ke arah Bima, berharap mendapatkan pembelaan, namun yang ia temukan hanyalah tatapan penuh kebencian. "Sudah dengar asistenku bicara, Angel?" Bima melangkah maju, kini berdiri tepat di samping Reyna, secara terang-terangan menunjukkan keberpihakannya. "Apa yang dia katakan adalah kebenaran. Kamu memang hanya residu masa lalu buatku. Jadi, sekarang pergilah, Angel!" "Kamu bodoh Bima! Siapa pun dia, dia nggak bakal lebih hebat dari aku!" Jawab Angel murka. "Oh ya? Menurutku dia jauh lebih baik darimu. Dia sopan, cerdas, dan yang paling krusial... dia punya harga diri yang tidak akan pernah kau pahami!" Bima menarik napas panjang, menatap Angel dengan pandangan muak. "Sekarang, angkat kakimu dari rumahku. Jangan paksa aku menggunakan cara kasar untuk mengeluarkanmu. Dan kunci cadangan itu... letakkan di meja sekarang, atau aku akan melaporkanmu atas tuduhan masuk tanpa izin." "Bima, kamu akan menyesal melakukan ini padaku!" teriak Angel, air mata mulai merusak riasannya. "Satu-satunya penyesalanku adalah pernah membiarkan parasit sepertimu masuk ke dalam hidupku! Sekarang, Keluar!" balas Bima dingin. Ia kemudian meraih lengan Angel, tidak dengan lembut, melainkan dengan tarikan paksa yang sangat kasar. Bima menyeret mantan tunangannya itu keluar dari ruang kerja, melewati koridor, hingga ke pintu depan apartemen. Suara pintu yang dibanting keras dan penguncian sistem biometrik yang terdengar setelahnya menjadi tanda berakhirnya drama absurd malam itu. Hening kembali menguasai apartemen. Bima kembali ke ruang kerja dengan napas yang masih sedikit memburu. Ia mendapati Reyna sudah kembali duduk di depan komputer, namun wajah gadis itu tampak aneh. Wajah gadis itu tampak "bengkok"—sebuah ekspresi yang sulit diartikan; antara marah, terhina, dan muak yang luar biasa. Jemarinya yang sebelumnya lincah mengetik, kini hanya diam mematung di atas papan ketik. Bima mendekat dengan perlahan, tangannya terjulur hendak menyentuh bahu Reyna, namun ia segera menariknya kembali sebelum sempat bersentuhan. "Reyna... aku minta maaf," bisik Bima parau. "Aku tidak menyangka dia akan datang dan... Bicara sekasar itu padamu." Reyna tidak menjawab. Ia justru bangkit berdiri dengan tiba-tiba, membuat kursi kayunya terdorong ke belakang dan menciptakan bunyi decit yang menyakitkan telinga. Ia berbalik dan menatap Bima dengan mata yang memerah. Amarah yang tadi ia tumpahkan pada Angel, kini beralih sepenuhnya pada Bima. "Coba ulang Bapak katakan tadi, di depan Dia?" suara Reyna bergetar. Bima mengerutkan kening. "Hmm, saat aku bilang menyesal pernah mengenalnya? Dia memang mantanku yang—" "Bukan!" potong Reyna tajam. "Tentang saya. 'Dia memang LEBIH BAIK darimu, lebih sopan, lebih cerdas, lebih memiliki HARGA DIRI. Atas dasar apa Bapak berkata seperti itu?! Bapak sedang menggunakan saya sebagai tameng untuk membalas dendam dan memuaskan ego Bapak di depan mantan Bapak?! Bapak ingin membuat dia cemburu, karena ada saya sebagai 'pengganti'-nya disini?!" "Reyna, aku hanya ingin membela—" "Bela?!" Reyna tertawa hambar, air mata akhirnya jatuh di pipinya. "Bapak tidak sedang membela saya, Pak! Bapak sedang mengukuhkan tuduhan wanita itu! Dengan mengatakan saya adalah 'penggantinya', Bapak secara tidak langsung membenarkan bahwa keberadaan saya di sini memang untuk mengisi kekosongan ranjang atau hati Bapak yang hancur karena dia! Bapak ingin menunjukkan pada dia kalau Bapak sudah punya orang lain, padahal saya di sini, hanya karena terpaksa!" Reyna menatap Bima dengan penuh amarah. "Lalu Bapak tidak perlu puji harga diri saya, karena sejak malam di hotel itu, harga diri saya sudah hancur di tangan Bapak! Dan lagi-lagi, malam ini martabat saya Bapak koyak! Bapak benar-benar kejam!" Reyna bergerak, hendak berjalan keluar dari ruangan itu, dan mengunci diri di kamarnya, namun Bima bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang sangat tangkas, Bima menghimpit Reyna di depan pintu ruang kerja yang tertutup. Kedua tangan besarnya menumpu di daun pintu di samping kiri dan kanan kepala Reyna, mengurung gadis itu sepenuhnya dalam kungkungan tubuhnya. "Minggir, Pak!" desis Reyna, mencoba mendorong d**a Bima yang keras seperti batu. "Dengarkan aku dulu, Reyna!" Bima mencondongkan wajahnya, suaranya parau oleh emosi yang tertahan. "Aku tidak pernah bermaksud menjadikanmu tameng atau pengganti siapa pun. Kata-kata itu keluar karena aku ingin dia tahu, bahwa keberadaanmu di hidupku saat ini adalah hal yang paling berharga... Kau adalah asisten riset terbaik yang pernah aku miliki, dan-" "Bohong!" teriak Reyna di depan wajah Bima. "Bapak hanya ingin memanfaatkan saya! Bapak sepertinya menikmati kehadiran saya di sini sebagai objek yang menyenangkan untuk dimainkan, ya? Asal Bapak tahu... Bapak tidak lebih baik dari Arkan!!! Dia ingin menggunakan tubuh saya untuk taruhan, dan Bapak menggunakan nama saya untuk membalas dendam pada masa lalu Bapak! Kalian berdua sama-sama b******k!" Kata-kata itu seperti api yang menyambar bensin. Bima merasa otaknya terbakar. Amarah, rasa bersalah, dan gairah yang sudah ia tekan selama tiga minggu ini meledak bersamaan. Matanya turun menatap bibir Reyna yang bergetar karena emosi, bibir yang terus memaki dan menghinanya. "Jangan pernah samakan aku dengan b*****h itu," bisik Bima, suaranya kini sangat rendah dan berbahaya. "Kenapa? Karena Bapak punya gelar dosen? Karena Bapak punya uang?!" tantang Reyna, matanya menatap tajam ke dalam iris mata Bima yang gelap. "Bagi saya, Bapak tetaplah monster yang merampas hal paling berharga milik saya. Saya mau pergi dari sini. Saya tidak mau lagi menjadi bagian dari drama gila Anda!" "Kau tidak akan pergi ke mana pun," desis Bima. "Lepas—" Kalimat Reyna terputus saat Bima membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang sangat panas dan mendesak. Itu bukan ciuman yang lembut atau penuh romansa. Itu adalah tabrakan antara amarah, keputusasaan, dan rasa lapar yang tertahan. Reyna terbelalak, tangannya yang semula memukul d**a Bima perlahan melemah saat ia merasakan lidah Bima menyapu bibirnya, menuntut akses lebih dalam. Bima menciumnya seolah ingin membuktikan sesuatu, seolah ingin menghapus nama Arkan, atau Angel, atau siapa pun dari pikiran Reyna. Tensi seksual yang selama ini hanya menjadi bisikan di koridor laboratorium kini meledak menjadi resonansi yang nyata. Bau parfum maskulin Bima yang bercampur dengan aroma buku lama di ruangan itu membuat kepala Reyna pening. Ia ingin memberontak, ia ingin menggigit bibir pria itu, namun tubuhnya justru memberikan reaksi yang berkhianat. Panas menjalar dari ceruk lehernya hingga ke ujung kaki. Bima menciumnya seolah-olah Reyna adalah sumber oksigen terakhir di dunia yang sedang terbakar. Tangan Bima beralih dari pintu, satu tangan merengkuh pinggang Reyna, hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak. Sementara tangan lainnya menangkup rahang Reyna dengan posesif. Reyna mengerang di tengah ciuman itu, sebuah suara antara protes dan penyerahan. Untuk beberapa detik yang terasa abadi, dunia di luar ruangan itu lenyap. Tidak ada Angel, tidak ada Arkan, tidak ada riset Taxus sumatrana. Hanya ada mereka berdua, bergelut dalam rasa bersalah dan gairah yang terlarang. Bima bisa merasakan detak jantung Reyna yang kencang, sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Pagutan itu semakin dalam, menuntut, dan penuh rasa lapar yang sudah lama tertahan. Beberapa saat kemudian, Bima melepaskan pagutan itu perlahan, namun ia tetap menempelkan dahinya pada dahi Reyna yang terengah-engah. Napas mereka saling beradu, panas, dan tidak beraturan. "Jangan pernah..." Bima berbisik tepat di depan bibir Reyna yang membengkak merah, "jangan pernah samakan aku dengan b*****h itu. Aku bukan menghancurkanmu karena ingin, Reyna. Sejak awal.. aku tidak pernah ingin melihatmu hancur." Reyna menatap Bima dengan pandangan nanar, air matanya masih mengalir, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya sekarang. Ada rasa takut, tapi juga ada pengakuan yang enggan ia sampaikan. Reyna menyadari bahwa ia benar-benar telah jatuh ke dalam sangkar paling berbahaya yang pernah diciptakan manusia. "Apa pun itu Anda tetap b******k, Pak Bima," bisik Reyna lirih, suaranya pecah. "Aku tahu," balas Bima, sebelum ia kembali menunduk untuk mengklaim bibir gadis itu sekali lagi, lebih dalam dan lebih menggebu, seolah-olah dengan ciuman itu ia bisa menghapus semua luka yang telah ia ciptakan. Seolah berharap ciuman itu dapat menenggelamkan semua kebencian Reyna untuknya. Malam itu, di ruang perpustakaan yang remang, batasan antara benci dan gairah benar-benar hancur menjadi abu. Reyna tahu ia telah kalah, tapi ia hampir tak bisa berpikir di bawah d******i Bima. Karena monster di depannya ini... Baru saja menemukan cara untuk meruntuhkan pertahanan terakhirnya. ...............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD