Dua puluh satu hari telah berlalu sejak Reyna pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer apartemen mewah ini sebagai seorang tawanan sukarela.
Tiga minggu itu berjalan dengan ritme yang aneh; sangat lancar, luar biasa mulus, namun diselimuti kecanggungan yang begitu tebal hingga rasanya bisa diiris dengan pisau. Reyna benar-benar menjalankan "Protokol Hantu"-nya dengan disiplin seorang prajurit. Ia menjadi robot yang efisien; kuliah, datang ke lab untuk bekerja, dan menghilang di balik pintu kamarnya tepat waktu setiap malamnya.
Sikap dingin Reyna adalah tameng terbaiknya. Ia memastikan setiap interaksi dengan Bima tetap berada di jalur profesional yang kaku. Tidak ada senyum, tidak ada obrolan santai, dan yang paling penting, tidak ada celah bagi pria itu untuk masuk kembali ke dalam ruang pribadinya.
Baginya, Bima tetaplah sang "Monster Berdasi", pria yang memberinya perlindungan sekaligus penghancur harga dirinya.
Sabtu malam ini, atmosfer di apartemen terasa berbeda. Kesunyiannya terasa lebih berat karena rutinitas mereka terhenti. Sejak Jumat sore, riset di laboratorium basement dihentikan sementara. Bahan riset utama mereka—pasokan Taxus sumatrana segar—telah habis diekstraksi seluruhnya. Pasokan baru masih dalam perjalanan dari kaki Gunung Gede, dan diperkirakan baru akan sampai dua hari lagi.
Tanpa suara menderu dari mesin SFE, keheningan di apartemen lantai empat puluh ini menjadi nyaring, seolah-olah setiap detak jantung mereka bergema di udara.
Bima sedang berada di dapur, mencoba memecah kebekuan. Aroma garlic butter dan steak yang dipanggang sempurna memenuhi ruangan.
Dengan gerakan yang terlihat sedikit canggung untuk pria seberwibawa dirinya, ia menata piring di meja makan.
"Reyna," panggil Bima lembut. Ia berdiri di ambang pintu ruang tengah, menatap pintu kamar tamu yang tertutup rapat. "Aku sudah menyiapkan makan malam. Keluarlah."
Pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Reyna yang datar tanpa ekspresi.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya sudah makan roti tadi sore. Saya tidak lapar."
Bima menghela napas, bahunya sedikit merosot. "Ini steak kualitas terbaik. Keluarlah. Kau perlu nutrisi." Jeda sedetik. "Dan jangan sebutkan poin kedua perjanjianmu itu lagi. Aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang manusiawi."
"Dan saya mencoba patuh pada perjanjian, Pak," balas Reyna tajam sebelum hampir menutup pintu kembali. "Silahkan menikmati makan malam Anda. Sendirian."
"Tunggu," potong Bima cepat. Ia tahu ia tidak bisa lagi memenangkan hati Reyna lewat makanan, jadi ia menggunakan satu-satunya kartu yang tersisa: profesionalisme. "Kalau kau tidak mau makan, setidaknya bantulah aku. Kita harus menyusun draf proposal pengajuan investor malam ini. Riset kita butuh suntikan dana tambahan untuk tahap pemurnian tingkat lanjut. Tanpa ini, kita tidak akan bisa melanjutkan ke tahap-tahap riset selanjutnya."
Reyna terdiam. Ia menatap Bima dengan ragu. Namun, saat mendengar kata "riset", benteng pertahanannya sedikit goyah. Ia tahu betapa pentingnya keberlanjutan riset ini bagi kedamaian hidupnya—semakin cepat riset ini selesai, semakin cepat ia bisa lepas dari Bima.
"Baiklah."
Bima tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum lebar.
"Oke, siapkan dulu saja hasil-hasil riset kemarin. Lima menit lagi saya tunggu di ruang kerja saya,"
Reyna hanya menjawab singkat dengan gumaman, lalu menutup pintu.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di ruang perpustakaan pribadi Bima.
Ruangan itu berdinding kayu gelap, dipenuhi ribuan buku referensi yang menjulang hingga ke langit-langit.
Hanya ada cahaya dari lampu meja yang temaram, menciptakan suasana privat yang menyesakkan.
Reyna, yang hanya mengenakan kaos santai berwarna abu-abu yang sedikit kedodoran dan celana kain panjang, duduk di kursi kayu di seberang meja Bima. Ia mulai mengetik draf proposal tersebut, sementara Bima memeriksa data-data kromatografi yang sudah Reyna kumpulkan selama tiga minggu terakhir.
"Kita butuh referensi tambahan tentang profil toksisitas akut senyawa paclitaxel hasil ekstraksi fluida," gumam Bima tanpa mendongak dari tumpukan jurnalnya. "Seingatku ada buku Advanced Pharmaceutical Toxicology di rak sebelah sana. Bisa kau ambilkan?"
Reyna bangkit berdiri, berjalan menuju deretan rak tinggi di sudut ruangan. Ia menyisir barisan buku dengan teliti hingga matanya menangkap sampul buku yang dimaksud. Sialnya, buku tebal itu berada di rak paling atas, jauh di luar jangkauan tangannya.
Reyna berjinjit, meregangkan tubuhnya sekuat tenaga. Jemarinya hanya mampu menyentuh ujung bawah buku itu. Ia mencoba melompat kecil, namun buku itu tetap bergeming.
Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Tanpa suara, Bima sudah berdiri tepat di belakang punggung Reyna. Pria itu tidak menyentuh tubuhnya—ia menjaga jarak beberapa milimeter sesuai perjanjian—namun jarak yang begitu dekat itu membuat Reyna bisa merasakan panas tubuh Bima yang menembus kaos tipisnya. Aroma sandalwood dan mint yang maskulin menyergap indra penciumannya, memicu debaran jantung yang tidak sehat.
Bima mengangkat tangan kanannya dengan mudah, menjangkau buku tebal itu. Karena posisi rak yang sempit, Bima terpaksa mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah-olah ia sedang memerangkap Reyna di antara tubuhnya dan rak buku. Reyna bisa merasakan hembusan napas Bima yang hangat di puncak kepalanya.
"Sudah dapat," bisik Bima. Suaranya rendah, bergetar tepat di belakang telinga Reyna.
Reyna membeku. Seluruh saraf di tubuhnya seolah tersengat listrik. Ia tidak berani bergerak, bahkan tidak berani bernapas.
Dalam kegelapan yang remang, suasana aneh yang intim merayap naik, menciptakan ketegangan di udara yang begitu padat, hingga memenuhi paru-paru.
Namun, tepat saat ketegangan itu mencapai titik didih, sebuah suara yang tajam dan melengking memecah keheningan.
Klik.
Suara pintu depan apartemen yang terkunci dengan kunci biometrik tiba-tiba terdengar, bergema di seluruh ruangan.
Bima segera menatap Reyna dengan pandangan heran. Begitu pula sebaliknya.
Langkah kaki bersepatu hak tinggi terdengar terburu-buru, mengetuk lantai marmer dengan irama yang penuh kemarahan.
"Bima?! Kamu di rumah, kan?! Kenapa teleponku tidak pernah diangkat?!"
Bima tersentak. Mengenali suara itu.
Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan pakaian bermerek yang sangat glamour, muncul di ambang pintu ruang kerja. Rambutnya dicat pirang madu yang sempurna, wajahnya dipoles make-up mahal yang kini tampak retak karena amarah.
Dia adalah Angel. Mantan tunangan Bima yang masih memiliki kunci cadangan apartemen itu—kunci yang dengan sengaja tidak ia kembalikan meskipun hubungan mereka telah berakhir dengan pengkhianatan.
Langkah Angel terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan di hadapannya. Ia melihat Bima berdiri terlalu dekat dengan seorang gadis muda yang tampak berantakan dengan rambut yang hanya diikat asal dan pakaian santai—pakaian yang sangat "rumahan".
"Oh... jadi ini alasan kamu mengabaikan semua pesanku, Bima?" suara Angel bergetar oleh amarah yang meledak.
Matanya menatap Reyna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina yang sangat kental. "Siapa p*****r kecil ini? Dan kenapa dia ada di apartemenmu dengan pakaian seperti itu?!"
Bima mematung, rahangnya mengeras. "Angel, apa yang kamu lakukan di sini?! Bagaimana kamu bisa masuk?"
"Jangan tanya bagaimana aku masuk! Aku masih punya hak di sini!" teriak Angel sambil menunjukan kartu tipis pembuka akses pintu biometrik, lali ia melangkah maju dengan angkuh, mendekati Reyna yang berdiri terpaku. Angel menunjuk wajah Reyna dengan jari yang kukunya dicat merah darah. "Siapa dia?!"
"Dia asisten risetku, Angel. Dan kamu, yang bukan siapa-siapa, silahkan keluar dari rumahku." Jawab Bima tegas.
Angel tertawa sinis, suara tawanya terdengar berbisa. "Lihat dirimu, Bima. Rendah sekali seleramu. Setelah bersamaku, kamu memilih sampah seperti ini?! Apa benar dia hanya asisten risetmu? Atau.. Mungkinkah dia... asisten di ranjangmu?"
"Angel!" Suara teriakan Bima hanya seperti angin mendesis di telinga Angel.
Namun bagi Reyna, makian Angel itu terasa seperti sebuah tamparan menghantam wajahnya.
Hinaan itu begitu kotor, begitu menusuk.
"Heh asisten ranjang murahan," desis Angel lagi, menatap Reyna dengan kebencian murni. "Sejak kapan kamu bersama Bima? Apa kamu simpanan Bima, sejak dia masih bersamaku?!"
Angel menatap sekilas Reyna dari ujung kepala sampai kaki. "Orang selusuh kamu nggak mungkin jadi simpanan, deh. Jadi apa? Wanita bayaran? Berapa Bima membayarmu, hah? Kamu pikir dengan tinggal di sini kamu bisa menjadi nyonya di apartemen ini?! Yah, apa pun itu.. Kamu hanyalah wanita pengganti yang tidak ada harganya. Barang rongsokan yang dipakai Bima untuk menghibur diri karena dia tidak bisa melupakanku!"
"TUTUP MULUTMU, ANGEL!!"
"SIAL, BIARKAN AKU BERBICARA, BIMA!!" Balas Angel jengkel. Ia kemudian mendekat ke arah Reyna, mengabaikan tusukan mata tajam Bima. Napasnya yang berbau parfum mahal terasa menyesakkan di hidung Reyna.
"Nah. Keluar dari sini sekarang juga, jalang kecil. Sebelum aku memanggil keamanan dan menyeretmu keluar seperti sampah yang cocok menjadi tempatmu!"
Keheningan yang mematikan kembali menyelimuti ruangan itu. Reyna berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuhnya, sementara Angel terus melontarkan hinaan yang merobek sisa-sisa harga diri yang susah payah ia kumpulkan.
Di sudut ruangan, Bima berdiri dengan tatapan gelap yang sulit diartikan, menatap bayangan masa lalu yang pahit kini berdiri nyata di depannya.
"Sudah selesai bicaranya, Angel?"
.................................