Cahaya matahari pagi yang menyusup paksa di balik celah gorden sutra hotel itu terasa seperti sembilu yang menyayat mata Reyna. Ia mengerang kecil, kepalanya masih terasa seperti dihantam palu godam.
Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, Reyna merasakan sesuatu yang salah. Sangat salah.
Ada hembusan napas yang teratur, menyapu tengkuknya. Ada sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuhnya merapat pada d**a bidang yang keras dan panas.
Reyna membelalak. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut detaknya akan membangunkan pria di belakangnya. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia menolehkan kepala.
Di sana, tertidur dengan sangat pulas, pria yang menariknya ke dalam kamar ini, semalam.
Dalam cahaya pagi yang lebih terang, wajah pria itu terlihat jauh lebih tampan lagi—garis rahang yang tegas, hidung mancung yang sempurna, dan bulu mata yang lentik.
Namun bagi Reyna, pria ini adalah monster yang telah menghancurkan hidupnya!
Pandangan Reyna turun ke bawah selimut. Ia tersedak napasnya sendiri melihat bercak merah yang mengering di atas sprei putih bersih itu. Dunianya seketika runtuh. Seluruh mimpi-mimpinya, prinsipnya untuk menjaga diri demi suaminya kelak, semuanya musnah dalam satu malam yang bahkan tidak ia ingat sepenuhnya karena pengaruh obat.
Aku kotor. Aku sudah hancur, batinnya menjerit tanpa suara.
Dengan sisa kekuatan dan keberanian, Reyna menyingkirkan lengan besar pria itu perlahan-lahan. Ia turun dari kasur dengan kaki yang gemetar hebat, rasa perih di area sensitifnya membuatnya hampir terjatuh. Ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dengan air mata yang mulai bercucuran.
Reyna berpakaian dengan terburu-buru, bahkan tidak sempat mencari pakaian dalamnya yang entah terlempar ke mana. Ia menyambar tasnya, memakai kemeja hitamnya dan menarik kerahnya tinggi-tinggi untuk menutupi tanda-tanda kemerahan di lehernya, lalu lari keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek online, Reyna hanya menunduk. Ia merasa semua orang di jalanan bisa melihat dosa yang ia bawa di tubuhnya. Ia merasa seolah-olah ada kata 'p*****r' tertulis di dahinya.
Begitu sampai di depan rumah petaknya, Reyna menghapus air matanya dengan kasar.
Ia harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ibunya tidak boleh tahu.
Ibunya sedang sakit, dan berita ini bisa membunuhnya seketika.
"Reyna? Kamu sudah pulang, Nak?" suara lemah ibunya terdengar dari arah dapur. Beliau sedang berusaha menyeduh teh dengan tangan yang gemetar.
Reyna memaksakan senyum, meski bibirnya terasa kelu. "Iya, Bu. Maaf Bu, Reyna baru pulang pagi."
Ibunya menatapnya dengan lembut, namun penuh selidik. "Kamu bilang menginap di rumah teman? Teman yang mana? Tumben sekali kamu sampai menginap, Ibu sampai cemas."
Reyna menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Itu... rumah teman kuliah, Bu. Namanya... Fiona. Kami ada tugas proyek farmakologi yang harus selesai pagi ini karena mau dikumpul. Maaf ya Bu, ponsel Reyna mati tadi malam jadi tidak bisa kasih kabar."
Kebohongan yang meluncur begitu saja, terasa pahit di lidah Reyna.
Ia yang selama ini selalu jujur, kini harus menjadi pembohong demi menutupi aib terbesarnya.
"Ya sudah, yang penting kamu sudah pulang. Cepat mandi dan sarapan, nanti kamu telat ke kampus," ujar ibunya sambil mengelus rambut Reyna.
Sentuhan tangan ibunya yang hangat justru terasa seperti silet bagi Reyna. Ia merasa tidak pantas disentuh oleh tangan suci ibunya. "Reyna... Reyna mandi dulu ya, Bu."
Beberapa menit kemudian, di dalam kamar mandi yang sempit, di bawah guyuran air dingin, Reyna menggosok kulitnya dengan sabun hingga memerah. Ia ingin menghapus aroma pria itu, ia ingin menghapus jejak sentuhan yang masih terasa membekas di setiap jengkal tubuhnya.
Namun, tak peduli seberapa keras ia menggosok, rasa "kotor" itu tetap ada di sana, mengakar di dalam jiwanya.
Setelah mandi, ia masuk ke kamarnya dan langsung merosot di balik pintu. Ia memeluk lututnya sendiri, membenamkan wajahnya di sana, dan menangis tersedu-sedu tanpa suara. Ia meratapi nasibnya, meratapi Arkan yang mengkhianatinya, dan meratapi pria asing yang telah mengambil mahkota paling berharganya.
Kenapa harus aku, Tuhan? Kenapa hidupku bisa seberat ini?...
Kampus Fakultas Farmasi – 09.00 WIB
Reyna duduk di kelas dengan pandangan kosong. Ia tidak memedulikan celotehan teman-temannya yang membahas soal dosen baru yang katanya sangat tampan dan jenius lulusan Jerman. Bagi Reyna, dunia sudah kehilangan warnanya. Ia hanya ingin kuliah ini cepat selesai, lalu bekerja, dan melupakan kejadian semalam.
"Selamat pagi, semuanya."
Suara bariton yang berat dan berwibawa itu seketika membuat seluruh bulu kuduk Reyna berdiri. Suara itu...
Suara yang membisikkan kata-kata parau di telinganya semalam! Suara yang menyuruhnya untuk diam saat ia memberontak.
Reyna membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual.
Tidak mungkin. Itu tidak mungkin dia.
Reyna tak berani melihat.
"Perkenalkan, nama saya Bima Adi Wijaya." ucap pria itu tenang.
"Dan kamu! Mahasiswi di baris belakang yang memakai turtleneck..."
Suara bariton itu bagaikan petir di siang bolong bagi Reyna.
Turtleneck.. Aku?!
Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh ketakutan, Reyna mengangkat wajahnya.
Detik itu juga, dunianya serasa runtuh!
Di depan kelas, berdiri seorang pria dengan kemeja biru muda yang pas di tubuh tegapnya. Kacamata berbingkai hitam bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual yang sangat kuat. Ia sedang meletakkan tas kulitnya di meja dosen.
Reyna merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
Pria itu...
Pria yang semalam menghimpitnya di atas kasur, pria yang aroma maskulinnya masih bisa ia rasakan di permukaan kulitnya...
Dan... Pria yang mengambil keperawanannya di kamar 404 semalam!
Mata mereka bertemu. Pria itu menatapnya dengan intensitas yang sama seperti semalam, dan Reyna dibuat gemetar melihatnya.
"Kamu," Bima menunjuk tepat ke arah Reyna. "Kalau mau tidur jangan di kelas saya. Memangnya semalam kamu kurang tidur?"
Seluruh kelas menoleh ke arah Reyna. Reyna merasa bumi seolah berhenti berputar.
Ia ingin menghilang, ia ingin mati saat itu juga.
Ternyata, pelariannya dari kamar 404 bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah mimpi buruk yang jauh lebih nyata.
………………………………