BAB 4: Eksperimen Anatomi di Kamar 404

1369 Words
Bima duduk di tepi ranjang king size kamar 404 dengan kedua tangan yang saling bertaut erat. Napasnya berat, sesekali ia melirik bungkusan kecil perak di atas nakas yang tadi dilemparkan Arjuna. Sebagai seorang doktor kimia yang baru saja menyelesaikan riset panjang di Jerman, Bima biasanya menghadapi segala sesuatu dengan logika dan perhitungan matematis. Namun malam ini, variabel dalam hidupnya mendadak menjadi sangat tidak beraturan! Tangan Bima sedikit gemetar. Bukan karena suhu pendingin ruangan yang terlalu rendah, melainkan karena gejolak emosi yang sedang berperang di dalam dadanya. Ada rasa takut, ada keraguan, tapi yang paling mendominasi adalah amarah yang membara dan rasa penasaran yang pedih. Apa yang sebenarnya dirasakan Angel? batin Bima masygul. Gelar S3, dedikasi penuh pada ilmu pengetahuan, dan kesetiaan selama empat tahun LDR seolah tidak ada harganya di depan pemandangan threesome yang ia saksikan sore tadi. Bima ingin tahu, kenikmatan macam apa yang sanggup membuat tunangannya membuang komitmen mereka begitu saja ke tempat sampah. Apakah gairah itu memang sekuat itu sampai-sampai logika manusia bisa lumpuh? Tiba-tiba, telinga Bima yang tajam menangkap suara gemerisik di balik pintu kamar. Ia berdiri, mencoba menenangkan degup jantungnya. Dengan langkah ragu namun didorong oleh rasa nekat, ia melangkah menuju pintu dan membukanya. Di hadapannya, seorang gadis berdiri dengan tubuh yang limbung. Lampu koridor yang remang-remang membuat sosok itu terlihat rapuh. Gadis itu tidak memakai baju yang terlalu terbuka seperti bayangan Bima tentang seorang LC—ia hanya memakai pakaian biasa, namun wajahnya terlihat linglung, seolah-olah baru saja menenggak alkohol dalam jumlah banyak. "Akhirnya datang juga. Kamu telat sepuluh menit," gumam Bima dingin. Ia tidak ingin berbasa-basi. Luka di hatinya membuat sisi lembutnya menghilang, digantikan oleh keinginan untuk menghancurkan apa saja, termasuk prinsip "menjaga kesucian" yang selama ini ia pegang teguh dan ternyata berakhir dengan pengkhianatan. Tanpa banyak bicara, Bima menarik pergelangan tangan gadis itu ke dalam kamar. Ia mengunci pintu dengan bunyi klik yang final. Gadis itu terlihat amatir, jauh dari kesan wanita penghibur yang mahir merayu. Dia hanya diam dengan tatapan kosong yang sesekali terlihat ketakutan. Gadis itu juga gemetar dan memberontak setiap disentuh. Saat Bima menatapnya dengan kebingungan dan mata tajam yang memerah akibat alkohol, ponsel di atas nakas berbunyi. Arjuna menelepon. Bima mengangkatnya, matanya tetap mengunci Reyna yang mulai terlihat panik. "Jun, dia sudah di sini. Tapi dia agak... rewel. Ini bagian dari skenario? Pura-pura polos?" Suara Arjuna tertawa renyah di seberang sana. "Iya, Bim! Itu paket premium 'Gadis Lugu'. Itu yang paling mahal, Bro! Kamu ikuti saja permainannya, dia memang di-setting untuk berontak sedikit supaya lebih menantang. Kalau dia terlalu rewel, ikat saja tangannya pakai sabuk atau selimut. Nikmati malammu, kawan! Selamat datang di dunia dewasa!" Bima menutup telepon dengan kasar. Ia menatap Reyna yang kini mulai sadar dan mencoba memukul dadanya dengan sisa tenaga yang ada. "Jadi, kamu mau main kucing-kucingan, ya?" bisik Bima dengan suara bariton yang mengancam. Ia mendekat. Berusaha mengikuti skenario. Ia tidak mau terlihat amatir! Bima mulai membuka satu demi satu kancing Reyna dengan canggung. Klik. Garis lehernya terlihat. Klik. Tulang selangkanya terlihat. "Jangan... jangan buka bajuku! Kamu siapa?!" teriak gadis itu histeris. Tangannya yang mungil mengayun membabi buta. Bugh! Satu pukulan tak sengaja mendarat telak di rahang Bima. Rasa perih itu menjalar, namun anehnya, bukannya marah, adrenalin Bima justru terpacu hebat. Rasa sakit fisik itu seolah menyulut gairah terpendam yang selama ini ia tekan rapat-rapat. Tanpa kata, Bima mengangkat tubuh mungil Reyna dengan mudah, mengempaskannya ke atas kasur empuk. Dalam sekejap, ia menyambar kain selimut yang tebal, menggunakan keahlian tangannya yang terbiasa bekerja di laboratorium untuk mengunci pergerakan tangan gadis itu di kepala ranjang. "Lepaskan! Aku—" Kalimat gadis itu terputus saat bibir Bima membungkamnya. Bima tidak memberikan ruang untuk negosiasi. Setelah ini, apa ya? Pikir Bima dalam pagutan kasarnya, sambil mengingat potongan video yang ditunjukan Arjuna tadi. Bima akhirnya naik ke atas kasur, menghimpit tubuh Reyna, jarak di antara mereka hilang sepenuhnya. Panas tubuh Bima menjalar ke kulit Reyna. Namun, di tengah gairah yang membara itu, Bima tiba-tiba tertegun. Ia menghirup aroma yang keluar dari ceruk leher gadis ini. Bukan parfum murahan yang menyengat, bukan pula aroma alkohol yang pekat. Ia mendapati aroma yang begitu murni—campuran aroma sabun bayi dan vanila yang samar. Aroma yang sangat tidak cocok untuk seorang LC di diskotek. Bima menunduk, membenamkan wajahnya di curuk leher Reyna yang jenjang. "Pura-pura polos, hm? Wangimu... Benar-benar menipu," bisiknya parau. Ciuman Bima yang awalnya kasar perlahan berubah menjadi lebih menuntut namun dengan ritme yang lebih dalam. Setiap hisapan dan gigitan yang ia berikan pada gadis ini, seolah-olah adalah aliran listrik yang menyengat balik dirinya sendiri. Gadis di bawahnya, yang tadinya memberontak, kini mulai mengikuti ritme ciumannya. Ciuman Bima mulai berpindah, menjauh dari bibir, dan turun... Meninggalkan jejak basah dan kemerahan di leher jenjang Reyna. Terus turun... hingga ke perut rata gadis itu. "Hentikan... Ah..." desah gadis itu, nadanya terdengar seperti undangan yang terselubung di telinga Bima. Tangan Bima mulai menjelajah dengan kikuk. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya bagi seorang doktor kimia itu mempraktikkan "teori" yang selama ini hanya ia baca sekilas. Tangannya, yang biasanya stabil saat memegang tabung reaksi, kini bergerak dengan getaran yang tak terkendali. Ia mulai menelusuri lekuk tubuh Reyna, mencoba mencari pembenaran atas amarahnya melalui sentuhan fisik. Setiap jengkal kulit yang ia sentuh terasa seperti anomali bagi logikanya—begitu halus, namun memberikan reaksi yang begitu nyata. Setiap jemari Bima menyentuh titik-titik paling sensitif, lenguhan tertahan gadis itu terdengar di antara isakannya. Bima tertegun sejenak. Ia terpukau dengan bagaimana gadis ini seolah sangat mendalami perannya dengan begitu sempurna, hingga mampu memalsukan kerentanan. Di balik kata-kata penolakan dan tubuh yang kaku, Bima merasakan reaksi tubuh yang sangat kontradiktif—reaksi biologis yang menandakan gadis ini telah "siap" menerima dirinya, sebuah fakta yang ia simpulkan sebagai profesionalitas tingkat tinggi dari seorang LC premium. Skenario ini benar-benar gila, batin Bima masygul. Berapa lama dia berlatih untuk bisa memberikan reaksi sealami ini? Tak ingin lagi membuang waktu dalam tanya, Bima segera menanggalkan sisa penghalangnya. Ia tidak lagi peduli pada etika atau janji suci yang pernah ia bisikkan pada Angel. Saat ini, ia hanya ingin menghancurkan kehampaan di dadanya dengan kepuasan fisik yang nyata. Dengan satu gerakan penuh desakan adrenalin, Bima menghujamkan miliknya ke dalam milik gadis itu. Namun, detik berikutnya, suasana mendadak berubah. "AKHH!" Sebuah teriakan pilu yang bukan lagi bagian dari desah undangan pecah di udara. Gadis itu menjerit kesakitan, tubuhnya mengejang, dan matanya membelalak dengan air mata yang mengucur deras. Bima mendadak mematung. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit di rusuknya. Tangisan itu terdengar terlalu nyata, terlalu tulus untuk sebuah sandiwara... Pandangannya terjatuh pada hamparan sprei putih mahal di bawah mereka. Di sana, sebuah bercak merah kecil yang kontras, mulai melebar. Otak jenius Bima mendadak macet. Logika kimianya tidak bisa memproses ini dengan cepat. Lugu premium... sampai sejauh ini skenarionya? Apakah ada teknologi atau trik yang bisa memalsukan ini? Detik itu, ada kilat kesadaran yang sempat melintas di benak Bima saat melihat bercak itu, namun adrenalin yang telah terlanjur memuncak, membuatnya memilih untuk mengabaikan sinyal bahaya tersebut. Bima justru semakin terobsesi, mencoba menenggelamkan rasa sakit hatinya dalam kehangatan yang asing namun candu ini. Saat melihat mata sayu gadis itu yang mulai pasrah mengikuti ritme, Bima mencoba lagi. Kali ini lebih lembut, lebih berhati-hati, seolah-olah ia sedang menangani zat kimia yang paling rapuh di dunia. Perlahan, Reyna mulai mengikuti gerakannya, membalas setiap sentuhan dengan naluri yang murni, membawa mereka berdua tenggelam semakin dalam ke lautan gairah yang tidak terduga. Bima membiarkan naluri purbanya mengambil alih. Wanita di bawahnya pun mulai kooperatif. Hujaman demi Hujaman Bima salurkan dengan berapi-api, seolah setiap gerakan adalah usaha untuk menghapus bayangan pengkhianatan Angel dengan kehadiran gadis di bawahnya. Ia tidak pernah tahu bahwa "eksperimen" ini bisa terasa begitu kompleks, begitu nikmat, namun lebih rumit daripada reaksi kimia mana pun yang pernah ia teliti di Jerman. Tenggelam cukup lama dalam gairah, kelelahan yang luar biasa membawa mereka berdua pada kegelapan. Mereka berdua jatuh dalam tidur yang lelap, terikat dalam pelukan di atas kekacauan sprei yang menjadi saksi bisu malam paling berdosa—sekaligus paling jujur—bagi Bima. Bima baru menyadari satu hal sebelum matanya tertutup sepenuhnya: ternyata, ilmu pengetahuan tidak akan pernah bisa menjelaskan mengapa ia merasa begitu terobsesi pada wanita asing ini, hanya dalam satu sentuhan. ………………………………
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD