BAB 3: Lari dari Serigala, Terjebak dalam Dekapan Singa

1173 Words
Langit-langit putih dengan ukiran gypsum yang mewah menjadi pemandangan pertama yang menyambut kesadaran Reyna. Namun, alih-alih merasa kagum, perutnya justru mual hebat. Kepalanya berat seperti ditimpa beban ratusan kilo, dan berdenyut-denyut mengikuti irama jantungnya yang berpacu kencang. Di mana ini? Reyna mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun seluruh tubuhnya terasa lumpuh. Bau harum aromaterapi hotel yang elegan menusuk hidungnya, sangat kontras dengan bau antiseptik apotek tempatnya bekerja. Saat ia mencoba menolehkan kepala dengan sisa tenaga yang ada, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sudut ruangan yang temaram, ia melihat Arkan Laksmana. Cowok itu membelakanginya, sedang melempar kemejanya ke lantai dan kini hanya mengenakan jubah mandi putih. Bayangan Arkan yang tinggi besar tampak mengerikan di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Reyna langsung memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh syaraf di tubuhnya menegang. Reyna ingat sekarang. Lemonade itu! Sialan, Arkan pasti memberikan sesuatu ke dalam minumanku! Rasa takut yang luar biasa mulai merayap di punggungnya, namun ia memaksa otaknya berpikir keras untuk dapat lepas dari situasi ini. Pura-pura tidur, Reyna. Jangan bergerak! Saat ini, hanya itu solusi yang terlintas di kepalanya. Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan. Reyna mendengar suara langkah kaki Arkan mendekati nakas, lalu suara klik tanda telepon diangkat. "Halo? Haha, ya, si robot sudah di kamar gue," suara Arkan terdengar begitu berbeda—tidak ada lagi nada lembut dan penuh perhatian yang selama ini ia tunjukkan. Suaranya kini terdengar kasar dan sombong. "Kita masih nggak nyangka lu menang taruhan, Kan. Jangan-jangan si robot lu jampi-jampi, ya?" Suara temannya di seberang telepon terdengar samar, namun cukup jelas untuk ditangkap telinga Reyna yang mendadak tajam karena adrenalin. "Jangan gila, lu!" Arkan tertawa. Tawa yang paling mengerikan yang pernah Reyna dengar. Seluruh pori-pori di tubuhnya sampai merinding, karena tawa itu. "Gimana rasanya naklukin si 'Robot Farmasi' itu? Susah nggak?" Arkan terkekeh lagi, setiap suara tawanya tak pernah gagal membuat bulu kuduk Reyna meremang. "Susah-susah gampang. Kaku banget, gila! Tapi ya akhirnya kena juga. Predikat 'Si Robot' itu bentar lagi bakal hilang setelah malam ini." "Udah pecah telor belum, Kan?" tawa teman-temannya meledak di seberang sana. "Belum, dia masih pingsan. Gue nggak mau main sama mayat, nggak seru. Nggak ada suara desahannya," jawab Arkan santai, seolah sedang membicarakan barang belanjaan. "Gue mau mandi dulu biar seger. Nanti kalau dia bangun dan mulai rewel, baru gue eksekusi." "Hahaha, pinter lu! Jangan kasih kendor, Kan. Inget, taruhannya itu mobil sport gue kalau lu berhasil bikin dia jadi milik lu malam ini!" "Tenang aja. Santai... Btw, gue mandi dulu, ya." Klik. Telepon ditutup. Suara pintu kamar mandi yang kemudian tertutup dan gemericik air shower menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Reyna langsung terduduk, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menjerit. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Taruhan?! Jadi selama ini semua kebaikan Arkan, semua usahanya antar-jemput Reyna, semua makanan dan vitamin yang dikirim untuk ibunya... hanya bagian dari permainan taruhan? Iblis. Dia benar-benar iblis berbaju manusia! batin Reyna marah. Rasa marah itu memberinya kekuatan instan. Ia turun dari kasur dengan kaki yang masih gemetar hebat. Pandangannya berputar, lantai hotel seolah-olah berubah menjadi gelombang laut yang tidak stabil. Ia menyambar tasnya, lalu berjalan mengendap-endap menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang sangat tinggi. Begitu pintu kamar terbuka, Reyna keluar dengan tergesa-gesa. Ia tidak peduli ke mana arahnya, yang penting jauh dari Arkan! Ia menyusuri koridor hotel yang panjang, tangannya terus memegang dinding untuk menjaga keseimbangan. Bayangan dinding di matanya tampak goyah, meliuk-liuk seperti ubur-ubur. "Ibu... Reyna ingin pulang, Bu..." gumamnya lirih. Kepalanya semakin pusing. Lorong hotel berbintang itu terasa seperti komidi putar yang berputar terlalu cepat. Kepalanya berdenyut, efek minuman yang diberikan Arkan benar-benar membuatnya kehilangan koordinasi motorik. Sialan, cowok itu benar-benar ingin menjebaknya! "Arkan... brengsek..." gumamnya lirih sambil berpegangan pada dinding. Reyna berhenti sejenak di depan pintu kamar 404, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Ia butuh bantuan, tapi ia takut bertemu orang jahat lagi. Tiba-tiba, pintu di hadapannya terbuka. Reyna tersentak dan menoleh. Di ambang pintu yang remang-remang itu, berdiri seorang laki-laki. Reyna tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena matanya yang buram dan cahaya dari dalam kamar terlalu redup. Yang ia tahu, pria itu tinggi, bahunya lebar, dan memancarkan aura yang sangat dominan. Sebelum Reyna sempat membuka suaranya untuk meminta tolong, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. Tubuh Reyna yang kecil ditarik paksa ke dalam kamar dengan kekuatan yang tidak bisa ia lawan. Klik. Pintu terkunci otomatis. Reyna terhuyung dan punggungnya langsung membentur pintu yang tertutup. Di hadapannya, pria itu berdiri sangat dekat. Begitu dekat hingga Reyna bisa mencium aroma whiskey bercampur parfum maskulin yang sangat kuat. Anehnya, meski dalam kondisi terancam, otak Reyna yang sedang kacau sempat berkhianat dengan berpikir, Kenapa dia terlihat begitu tampan dalam kegelapan ini? "Akhirnya datang juga. Kamu telat sepuluh menit," suara bariton itu terdengar dingin, namun ada nada frustrasi yang kental di sana. "Buka pakaianmu sekarang." Reyna terbelalak. "A-apa?" Pria itu maju selangkah, menghimpit Reyna di pintu. "Jangan buang waktuku. Aku sedang tidak ingin bermain drama." Saat tangan besar pria itu mulai meraih bahu Reyna, kesadaran gadis itu kembali sepenuhnya. Rasa takutnya meledak. Ia bukan lepas dari serigala untuk masuk ke rumah, ia justru masuk ke kandang singa yang lebih lapar! "Lepaskan! Jangan sentuh aku! Siapa kamu?!" Reyna memberontak, ia mencoba mendorong d**a bidang pria itu, namun rasanya seperti mendorong tembok semen. Pria itu mendesis jengkel. Ia meraih ponselnya yang berdering dan mengangkatnya sambil terus mengunci pergerakan Reyna. "Jun, dia sudah datang. Tapi dia agak... rewel. Ini bagian dari skenario? Pura-pura polos?" Reyna tidak bisa mendengar apa yang dikatakan orang di seberang telepon, tapi ia melihat wajah pria di depannya semakin mengeras. Pria itu menutup telepon, melempar ponselnya ke kasur, lalu kembali menatap Reyna dengan tatapan predator. "Paket 'Cewek Lugu Premium', ya?" bisik Bima tepat di depan wajah Reyna. "Hm.. Jadi kamu mau main kucing-kucingan, ya..." Reyna mengerjap. Paket apa, katanya?! Kucing?! "Aku tidak—" Kalimat Reyna terputus saat Bima mengangkat tubuhnya dengan satu gerakan mudah, seolah berat badan Reyna tidak ada artinya. Reyna menjerit, namun suaranya diredam oleh bantal saat ia dihempaskan ke atas kasur. Dalam kondisi pandangan yang terus berputar dan tubuh yang lemah, Reyna hanya bisa merasakan tangan pria itu mulai melucuti pertahanannya satu per satu. Ia mencoba melawan, mencakar, bahkan mencoba menendang, namun pria itu terlalu kuat. Pria itu mengunci kedua tangan Reyna di atas kepala dengan kain selimut, membuatnya benar-benar tidak berdaya. Hingga akhirnya, rasa dingin menyentuh kulitnya yang terbuka. Reyna merasa hancur. Ia merasa dunianya runtuh seketika saat menyadari dirinya kini berada dalam kondisi telanjang di bawah kuasa pria asing yang tidak ia kenal. Air mata Reyna mengalir deras, membasahi bantal hotel yang dingin. "Hentikan... Ah... Ah..." Awalnya Reyna melawan sekuat tenaga, namun aroma parfum maskulin pria di atasnya yang elegan bercampur dengan aroma whiskey yang maskulin, ditambah efek obat tidur yang membuat syaraf-syarafnya kacau, perlahan mengubah penolakan itu menjadi desahan pasrah yang tak sengaja keluar dari bibirnya. Di atasnya, pria itu menatapnya dengan intensitas yang memabukkan, tidak menyadari bahwa gadis di bawahnya bukanlah seorang LC profesional, melainkan seorang mahasiswi polos, yang hidupnya baru saja berubah menjadi labirin gairah yang mengerikan. ………………………………
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD