"Sialan!" Rendra membanting sengit gelas sampanye di tangannya yang sudah kosong hingga menimbulkan suara berderai. Isi dari gelas tersebut sudah berpindah sepenuhnya mengisi lambungnya. Itu adalah gelas ketiga sejak ia kembali dari restoran. Bukan hanya gelas ketiga sampanye yang ia habiskan, juga gelas ketiga yang sudah ia banting. Sudah tiga buah gelas yang berubah menjadi serpihan kaca di lantai, tetap tidak dapat meredakan kekesalan Rendra. Rasa itu selalu datang setiap kali ia mengingat wajah tenang Antares Dirgantara saat di restoran dan bagaimana pria itu membalikkan keadaan melalui kata-kata istrinya. Perempuan sialan itu! Rendra mengepalkan tangan kuat, menggenggam tangkai gelas keempat erat-erat. Nana benar-benar membuatnya kecewa. Sekarang, tak ada lagi cinta atau apa

