Bab 4. Jangan Tinggalkan Aku

2008 Words
"Re—Rendra?" Terbata Nana menyebut nama itu. Pria yang di sana itu memang Rendra Wiratama. Meskipun wajah tampannya sudah babak belur dengan lebam dan luka terbuka di sana-sini, dia masih dapat mengenalinya. Mereka baru bertemu dua hari yang lalu, ingatannya tidak sepayah itu untuk lupa. Nana tersengal. Udara di sekitarnya terasa menipis tiba-tiba. Dengan susah payah dia bernapas melalui mulutnya. "Ayo, duduk!" Ares mendudukkan Nana paksa pada kursi yang sudah disiapkan. "Kamu harus duduk biar bisa liat pertunjukannya dengan baik," katanya tanpa nada. Nana berusaha keras menggelengkan kepala. Pertunjukan apa yang dimaksud Ares? Menghajar Rendra, membuatnya lebih babak belur lagi? Tidak, dia tidak mau! Dia bukan seorang yang menyukai kekerasan seperti itu. "Eng—nggak!" tolak Nana memalingkan muka. "Aku nggak mau liat, nggak mau!" Ketika berhasil berteriak, Nana merasa sangat lega. Bahkan, rasanya tidak pernah dia merasa selega ini. Rasanya hampir sama seperti saat mendengar dia dan Ares disahkan menjadi suami istri. Namun, hanya beberapa detik. Nana menjerit kaget saat Ares memaksa memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah Rendra yang sudah dihajar lagi. Refleks dia memejamkan mata, tak ingin menyaksikan secara langsung adegan kekerasan di depannya. Sungguh, Nana berharap ini hanya mimpi atau khayalannya saja. Sayangnya, semua tidak seperti yang diharapkannya. Di depan sana, kurang lebih sepuluh meter darinya, seorang pria tengah berteriak kesakitan akibat pukulan dan tendangan yang didaratkan di tubuhnya yang sudah babak belur. Suara teriakan kesakitan Rendra terdengar memilukan di telinga Nana. Dia berusaha menutup kedua telinganya agar tak lagi mendengar. "Hon, kamu nggak suka?" tanya Ares lembut. Sebelah tangannya mengusap pipi Nana, menghapus air matanya menggunakan ibu jarinya. Ia berlutut di depan Nana, sebelah lututnya menumpu pada lantai. "Kamu nggak suka dengar jeritannya? Ganggu kamu, Hon?" tanyanya sumbang. Nana menggeleng cepat. Detak jantungnya menjadi lebih cepat tiga kali lipat. Beberapa kali dia berusaha mengalihkan pandangan, tetapi lagi-lagi Ares menahan lehernya di bagian belakang agar dia tetap menatap ke depan. "Kamu tau kenapa dia jadi kayak gitu, kan, Hon?" tanya Ares lirih setengah berbisik di telinga Nana. "Kamu nggak marah sama aku gara-gara dia, kan? Aku cuma ngasih pelajaran sama pria kurang ajar yang udah berani ganggu istri aku." Nana melirik Ares yang kini berjongkok di samping kursinya, dengan takut-takut. Dua bulir bening kembali menuruni pipinya tanpa dia berani mengusapnya. Jangankan mengusap air mata, bernapas pun rasanya Nana tidak berani. "Dia juga bilang, kamu mantan pacar dia," sambung Ares. "Aku nggak suka dengernya. Dia bilang gitu seolah kamu punya dia." Nana menggelengkan kepala. Dia masih tidak bisa berkata apa-apa, seluruh tubuhnya benar-benar kaku selain leher yang dapat digerakkan. "Kamu istri aku, punya aku! Punya Antares Dirgantara!" bisik Ares penuh penekanan. Bukan teriakan Rendra yang diinjak jari-jari tangannya yang membuat Nana bergidik ngeri, melainkan bisikan Ares. Bulu-bulu halusnya di tubuhnya nyaris berdiri sebuah. Tak sadar dia bergidik, antara takut dan geli. "Kalian kemaren salaman, nggak, Hon?" tanya Ares tersenyum. "Pakai tangan apa?" Lagi, Nana menggelengkan kepala, satu-satunya gerakan yang bisa dilakukannya saat ini. Dia dan Rendra memang bersalaman, tetapi sebagai formalitas saja. Itu juga tidak lama, hanya sedetik, dia langsung menarik tangannya. "Perempuan biasanya kalo bilang nggak berarti iya," kata Ares datar. "Patahkan tangan kanannya!" perintahnya pada beberapa orang pengawal yang tengah menghajar Rendra. "Ingat, jangan sampai mati!" Nana sangat ingin menjerit, ingin memprotes, ingin menghentikan semua yang dilakukan Ares. Akan tetapi, dia tidak berdaya. Keberanian itu tidak pernah didapatkannya, bahkan sekedar untuk melarikan diri. Bukannya Nana tidak pernah mencoba untuk kabur, dia pernah mencobanya beberapa kali, tetapi selalu gagal. Tidak hanya disebabkan ketatnya penjagaan, juga karena dia yang tidak tega meninggalkan suaminya. Dia mencintai Ares, walaupun pria itu selalu mengurungnya. Selalu mengawasi, membuatnya seperti burung dalam sangkar. Terlalu posesif sampai-sampai terkadang membuatnya ketakutan. Dari semua itu, ini yang paling membuatnya takut, bahkan nyaris pingsan saking syok dan ketakutan. Ini pertama kalinya dia melihat sisi lain seorang Antares Dirgantara yang mengerikan. "Hon!" Nana mengalihkan tatapan pada Ares yang kembali berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai, di depannya. Refleks, dia membuang muka saat tangan pria itu ingin membingkai pipinya. Bukan gerakan yang disengaja, dia melakukannya tanpa sadar. Dalam pandangannya yang ketakutan, sepasang tangan besar yang selalu hangat itu sekarang berlumuran cairan merah. Bukan hanya milik Rendra, juga milik orang-orang lain korban kekejaman Ares. Mata karamel Ares memicing satu detik, rahangnya mengetat melihat reaksi Nana. Di detik berikutnya, ia sudah bisa mengendalikan diri. Bibir sexy-nya yang merah pucat menyunggingkan senyum manis. Ares berdiri, menggendong Nana bridal style. "Kita pulang, Hon, kamu kayaknya nggak sehat. Kamu pucat, keringetan juga." Nana tidak menjawab, tidak juga menanggapi. Kepalanya terkulai di d**a Ares begitu suaminya menggendongnya. *** Gelap. Bahkan, cahaya bulan di luar sana tidak dapat menembus gorden tebal yang menutupi jendela dan pintu balkon kamar tidurnya dan Ares. Nana terbangun dari mimpi buruk yang hampir setiap malam selalu datang menghantui. Apa lagi jika bukan mimpi Ares yang menyiksa Rendra dua minggu yang lalu. Nana duduk pelan-pelan, bersandar pada kepala ranjang dengan posisi setengah duduk. Dadanya masih berdebar kencang akibat mimpi buruknya, jantung berdetak dua kali lipat lebih cepat, titik-titik keringat membasahi pelipis dan punggungnya. Dingin terasa, meskipun tidak membuatnya menggigil. Tidak perlu meraba untuk mengetahui Ares tidak berada di sampingnya. Bagian tempat tidur yang ditempatinya, kosong. Sepertinya, Ares pergi lagi setelah percintaan panas mereka yang membuatnya sampai pingsan kelelahan. Nana mengembuskan napas melalui mulut dengan kuat. Dia takut dengan Ares, tetapi tubuhnya selalu merespons dengan sangat aktif setiap sentuhannya. Mulutnya mengerang, menikmati sentuhan panas Ares yang selalu membakarnya. Lagi, Nana mengembuskan napas kuat melalui mulutnya. Sudah dua minggu sejak Ares membawanya ke tempat di mana ia menghajar Rendra. Sejak itu pula, dia selalu dihantui mimpi buruk tentang peristiwa itu, dan kebebasannya benar-benar terenggut. Ares tak lagi memperbolehkannya keluar rumah, dengan alasan apa pun. Pria itu menambahkan penjaga di beberapa sudut rumah mereka agar tidak ada jalan untuknya kabur. Kali ini lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Sepertinya, gara-gara Rendra yang menyebutkan tentang hubungan mereka dulu. Padahal, dia sudah melupakannya, tetapi Ares tetap dengan kecemburuannya yang menggebu sampai-sampai menjadikannya tahanan rumah. Nana mengusap wajah kasar, kepala mendongak, mata terpejam. Tangan kanannya meraba nakas, mencoba mengambil ponsel tanpa membuka mata. Dia hanya ingin memeriksa jam saja. Angka dua yang tertera di layar ponsel terlihat sangat mencolok di tengah kegelapan kamar tidurnya. Nana memicingkan mata, mengembalikan ponsel ke tempat semula. Tangan Nana bergerak menyibakkan selimut. Dia menurunkan kaki, menyeretnya menuju pintu. Ada dua orang pria yang berjaga di depan pintu kamarnya setiap kali Ares tidak bersamanya. Namun, kedua pria itu bertubuh besar yang mengenakan setelan hitam itu akan menghilang entah ke mana bila Ares ada di kamar bersamanya. "Ares di mana?" tanya Nana pada salah satu pria tersebut yang dua tidak tahu namanya. "Tuan di ruang kerja, Nyonya!" jawab pria itu sopan. Nana menghela napas. Dia sudah menduga, suaminya tercinta berada di sana. "Bisa antarkan saya ke sana?" tanyanya. Tak ada jawaban. Hanya anggukan kepala yang Nana dapatkan. Meskipun seperti itu, dia tetap mengikuti dua orang pria itu yang berjalan di depan dan di belakangnya. Benar-benar kedua pengawal ini menjaganya sedemikian rupa seolah dia akan kabur saja. Dia hanya mengenakan gaun tidur yang ditutupi jubah tidur di bagian luar gaun. Sangat tidak mungkin dia kabur dengan pakaian seperti ini. Nana sebenarnya sudah tahu di mana ruang kerja Ares. Bukan hanya ruang kerja saja, setiap sudut rumah tiga lantai ini dia sudah hafal semuanya. Dia sengaja meminta kedua pengawal yang ditugaskan Ares berjaga di pintu kamar mereka untuk mengantarkannya. Toh, mereka akan tetap mengikutinya walaupun dia tidak menginginkannya. "Tuan Ares di dalam, Nyonya!" Nana mengangukkan kepala, lalu mengetuk pintu tanpa berkata apa-apa lagi. Tanpa menunggu dipersilakan masuk, dia mendorong daun pintu dan masuk. "Hon, kok, ke sini?" tanya Ares tanpa menatap. Ia sudah sangat mengenal istrinya, juga dapat mengenalinya, bahkan hanya dengan mencium aroma parfumnya saja. Nana duduk di kursi di depan Ares, meja kerja pria itu menjadi pembatas mereka. "Kamu nggak ada di kamar," jawabnya yang tidak terdengar seperti sebuah jawaban. Kalimat itu tak bernada dan tanpa semangat. "Aku lagi nyelesain laporan buat besok." Ares mengalihkan tatapan ke wajah pucat istrinya. "Besok ada meeting pagi sama dewan direksi." Nana mengangguk saja, meskipun di dalam hati tidak memercayai alasannya. Ini sudah yang kesekian kali Ares tidak bersamanya di tempat tidur, dan lebih memilih menghabiskan sisa malam di ruang kerja. "Kamu balik ke kamar sekarang, atau mau nunggu aku?" tanya Ares menggenggam tangan Nana yang pasrah. "Bentar lagi aku selesai. Sisa beberapa berkas lagi yang mau dicek." "Nunggu kamu aja, boleh?" Nana balas bertanya dengan harap-harap cemas. Hatinya terbagi dua. Sebagian takut pada Ares, sebagian lagi selalu ingin bersamanya. Ares tersenyum, mengangukkan kepala. Ia bangkit, berpindah duduk pada sisi meja kerjanya tepat di depan Nana. "Beneran mau nunggu aku?" tanyanya. Nana tidak segera menjawab. Ares yang manis seperti ini adalah Ares yang dikenalnya selama ini, bukan Ares yang sekarang. Ares yang posesif dan nyaris tidak memiliki hati. Meskipun tidak memperbolehkannya keluar terlalu lama, tetapi Ares tidak pernah mengurungnya seperti sekarang ini. Jikapun mengurungnya, hanya beberapa jam saja di kamar mereka, dan tidak menempatkan pengawal di setiap sudut rumah yang membuatnya sangat tidak nyaman. Nana mengangukkan kepala. "Oke!" Ares ikut mengangguk. "Kamu tunggu bentar, aku selesaikan cek laporan dulu," katanya sambil bangkit, kembali ke kursinya di belakang meja kerja. Nana tidak memberikan jawaban, tidak juga menanggapi dengan gerakan tubuhnya. Dia hanya menatap Ares yang kembali sibuk dengan berkas di depannya, tanpa berkedip. Saat ini, Nana merasa suaminya kembali seperti dulu. Entah besok dan hari-hari berikutnya, dia berharap Ares kembali menjadi Ares yang dulu, yang sangat dicintainya. Dia masih mencintai Ares, cintanya masih sebesar dulu. Hanya saja, rasa cinta itu sekarang bercampur dengan rasa takut yang kadang menjelma lebih besar. Nana takut, Ares kembali menjadi monster seperti dua minggu yang lalu. Nana berjengit kaget, matanya berkedip beberapa kali menyadari dia sudah berada di gendongan Ares. Apakah suaminya sudah selesai dengan pekerjaannya? Berapa lama dia melamun sampai Ares sudah menyelesaikan memeriksa laporan yang dikirim asisten pribadinya? "Kamu mikirin apa, hm?" tanya Ares pada Nana yang menyandarkan kepala di bahunya. Kedua tangan Nana berada di lehernya, memeluk erat. Ia menggendong istrinya bridal style. "Nggak mikirin apa-apa." Nana menggelengkan kepala. "Aku tadi nahan ngantuk, Hon," jawabnya berbohong. Ares tersenyum. Ia tahu, Nana berbohong, tetapi tidak mempermasalahkannya. Apa pun yang dilakukan Nana, apa pun yang diinginkannya, ia akan selalu menurutinya. Asalkan Nana tidak pergi dari sisinya, tidak meninggalkannya, tetap berada di sisinya sampai kapan pun. Ares membuka pintu kamar tidur mereka menggunakan tangan kiri, menggendong Nana hanya dengan satu tangan kanannya. Menutup pintu menggunakan kaki dengan cara menendangnya. "Kamu mau langsung tidur, atau ngulangin yang tadi?" tanya Ares lagi setelah mendudukkan Nana di sisi tempat tidur dengan hati-hati. Ia tidak ingin menyakiti istrinya. "Ngulangin yang tadi?" ulang Nana. Sepasang alisnya berkerut, bingung dengan pertanyaan suaminya. Ares tersenyum. Sedetik kemudian, membungkam mulut Nana dengan ciuman yang hanya ia yang memilikinya. Mata Nana melebar, tetapi tidak menolak ciuman itu. Dia bahkan membalasnya setelah membiarkan Ares menguasai mulutnya beberapa saat. "Aku mau lagi," kata Ares serak begitu tautan bibir mereka terlepas. Nana mengangguk. Dia tidak pernah bisa menolak permintaan Ares, apa pun itu, apalagi masalah ini. Ares seorang pencium handal, selalu membakarnya hanya dengan ciumannya saja. Erangan Nana kembali lolos bersamaan dengan indra pengecap Ares kembali menerobos memasuki mulutnya. Benda kasar tak bertulang itu menari erotis, menyapu seluruh isi mulutnya. Erangan tertahan kembali lolos. Nana menggeliat di bawah kungkungan Ares, bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri, indra pengecap Ares menyentuh pangkal kerongkongannya. Nana mendorong d**a Ares, memukul-mukul bahunya setelah beberapa lama suaminya itu tidak berhenti juga. Dadanya panas seakan terbakar, pasokan udara di paru-parunya menipis. Pukulan yang tidak seberapa bagi Ares, tetapi ia tetap melepaskannya, meskipun dengan sangat tidak rela. Bibir Nana manis, tak berubah sejak pertama kali ia menciumnya. Rasa yang membuatnya candu. "Hon, please, berhenti dulu!" Nana terengah. Tangannya menahan d**a Ares, mulut terbuka, bernapas di sana. Sedetik Nana dapat bernapas dengan lega, di detik berikutnya dia sudah kembali tersengal. Kepala Ares tenggelam di dadanya, melumat dan mengisap dengan rakus. Nana baru menyadari, tubuh bagian depannya sudah tak lagi berpenutup, polos. Ares sudah merobek gaun tidur tipis yang dikenakannya. "Ares!" Nana memekik tertahan. "Aku cinta kamu, Hon. Janji, ya, jangan pernah tinggalin aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD