"Ke rumah Bunda?" Ares mengurungkan niatnya untuk kembali menyesap kopinya. Tangannya yang memegang tangkai cangkir kopi, siap untuk membawa cangkir ke mulutnya, melepaskan begitu saja. "Buat apa? Bukannya bulan kemaren kita udah ke sana?"
Nana menarik napas panjang, mengisi paru-parunya yang terasa kosong tiba-tiba. Ares pasti bertanya dan dia sudah mempersiapkan jawabannya tadi malam.
Namun, pagi ini, di bawah tatapan tajam Ares yang seolah menyelidikinya, semua kata penyusun jawaban sempurna itu, hilang. Menguap begitu saja seperti asap yang tertiup angin.
"Aku kangen sama Bunda, Hon," jawab Nana menundukkan kepala. Tak berani membalas tatapan Ares, khawatir kebohongannya sok terbongkar.
Ares sangat jeli, dapat membaca sinar mata lawan bicaranya. Meskipun dia tidak sepenuhnya berbohong mengenai alasan mengunjungi bundanya, tetap saja dia tak ingin ketahuan.
"Satu bulan itu lama."
"Oke!" Ares mengangguk. "Kamu diantar sopir aja ke sana nanti, ya, aku buru-buru soalnya."
Nana mengangguk cepat. Itu juga yang diinginkannya, pergi mengunjungi orang tuanya diantarkan oleh sopir. Dia tak ingin Ares yang mengantarkannya, takut ketahuan alasan sebenarnya yang hanya ingin keluar rumah.
"Nggak apa-apa, Hon." Nana tersenyum. "Aku tau, kamu sibuk. Ntar kalo kamu udah agak senggang, kita bareng ke sana."
Lagi, Ares mengangukkan kepala. Ia juga tersenyum, meskipun di dalam hati mengetahui istrinya berbohong. Tidak perlu terlalu khawatir, ia sudah memerintahkan dua orang pengawal untuk menjaga istrinya diam-diam seperti biasa.
Nana tidak akan bisa pergi darinya. Ke mana pun Nana pergi, ke mana pun bersembunyi, ia pasti akan dapat menemukannya.
Ares bangkit. "Aku pergi sekarang, Hon, biar nggak kena macet!" pamitnya. "Kamu juga mending pergi pagian biar nggak kejebak macet nanti pas di jalan," katanya memberi saran setelah mendaratkan sebuah kecupan kilat di pelipis istrinya.
Seperti biasa, Nana selalu mengantarkan Ares sampai di teras rumah mereka. Kembali ke dalam rumah begitu mobil suaminya sudah tak tertangkap indra penglihatannya lagi.
Semuanya sama, monoton. Yang berbeda hanyalah para pengawal yang lebih banyak dari biasanya.
Nana berlari kecil menaiki tangga. Dia tergesa, ingin segera sampai ke kamar untuk mengambil tas tangan dan dompet agar bisa langsung pergi ke rumah orang tuanya. Dia akan meminta sopir untuk menjemputnya sore hari, ingin lebih lama menikmati kebebasan di luar rumah.
"Pergi sekarang Nyonya?" tanya sopir melihat Nana menghampirinya.
Nana hanya mengangguk, meringis di dalam hati. Sebenarnya, dia tidak terlalu suka mendengar panggilan itu untuknya. Rasa-rasanya kurang pantas, terlalu berlebihan. Apalagi, baik sopir maupun asisten rumah tangga dan para pengawal, mereka semua berusia lebih tua darinya. Dia seolah tidak menghargai mereka.
Jarak dari rumahnya dan Ares ke rumah orang tuanya sekitar satu jam. Tidak ada yang dilakukan Nana selama satu jam perjalanan itu, terlalu malas melakukan apa pun. Bahkan, mengecek ponsel tidak dilakukannya setelah membalas pesan dari Ares.
"Bunda!"
Nana berseru begitu mobil berhenti di pekarangan rumah kedua orang tuanya. Rumah yang jauh lebih sederhana dibandingkan dengan rumah yang ditempatinya dan Ares. Rumah itu tidak bisa disebut rumah, tetapi mansion.
Meskipun rumah kedua orang tuanya tidak sebesar rumahnya dan Ares, tetapi penuh kehangatan dan rasa aman. Tidak ada pengawal yang terus berjaga dua puluh empat jam penuh yang membuatnya merasa terus diawasi.
"Bapak pulang aja, nanti saya telpon kalo minta jemput," kata Nana sebelum kelahiran dari mobil.
Udara terasa lebih segar di luar sini. Nana merentangkan kedua tangan, menghirup udara sepuasnya. Langkahnya lebih ringan menuju pintu yang masih tertutup.
Nana mengetuk pintu beberapa kali sebelum pintu itu terbuka. Sosok perempuan yang dirindukannya berdiri di depan pintu yang terbuka dari dalam.
"Bunda!" Nana menghambur ke pelukan Marisa, bundanya. "Nana kangen banget sama Bunda!"
Marisa terkekeh tanpa suara. "Kamu ke sini, kok, nggak ngasih tau dulu?" tanyanya seraya mengurai pelukan. "Ayo, masuk! Nggak malu apa peluk-peluk Bunda depan pintu?"
"Nggak!" Nana menggeleng manja, menggelayut manja di lengan Marisa sambil menyeret kakinya memasuki rumah. "Nana manja sama Bunda Nana sendiri juga, bukan sama orang lain," katanya membela diri.
Marisa menggelengkan kepala, menepuk lembut lengan Nana yang melingkari lengannya. "Tapi, kamu udah tua, udah nikah juga."
"Bunda!" protes Nana. Tak terima dirinya disebut tua. Jika dua puluh delapan tahun disebut tua, lalu bagaimana dengan mereka yang berusia tiga puluh tahun? Di mata Bunda mungkin mereka adalah fosil. "Nana nggak setua itu, ya!"
Nana menggembungkan pipi, bibirnya mengerucut. Kebiasaan setiap kali merajuk. Tidak hanya pada orang tuanya saja dia seperti ini, pada Ares juga.
Namun, itu dulu. Sekarang, sepertinya dia akan berpikir sepuluh kali untuk merajuk di depan suaminya.
"Kok, kamu sendiri aja ke sini? Ares mana?" tanya Marisa sambil melangkah lebih ke dalam. Tidak biasanya putrinya berkunjung hanya sendirian tanpa suami bucinnya. Tumben sekali Ares memberikan izin pada Nana untuk pergi tanpa dirinya.
Marisa sangat mengenal menantunya. Ares tipe pria yang tidak membiarkan wanitanya pergi seorang diri tanpa ada yang mendampingi. Apa mungkin terjadi sesuatu pada anak dan menantunya? Apakah mereka bertengkar?
"Ares sibuk di kantor, Bun. Tadi aja buru-buru ada meeting pagi," jawab Nana. Kedua orang tuanya sangat menyayangi Ares. Mereka menganggapnya seperti anak sendiri.
Mereka juga tidak tahu bagaimana Ares saat ini. Sedapat mungkin mereka tidak boleh mengetahui jika menantu kesayangan mereka memiliki sisi gelap yang sadis. Nana khawatir, Ares akan menyakiti orang tuanya jika mereka mengetahui yang sebenarnya.
"Kamu ke sini tadi sama sopir?"
Nana mengangguk menjawab pertanyaan itu. "Nana nginep di sini malam ini boleh nggak, Bun?" tanyanya sambil merebahkan kepala di bahu Marisa.
Bila dia diperbolehkan menginap, dia akan berusaha mendapatkan izin dari Ares bagaimanapun caranya. Dia benar-benar perlu ruang untuk bernapas.
"Nginap di sini?" ulang Marisa. Sepasang alisnya bertaut menatap Nana. "Emangnya dikasih izin sama Ares?" tanyanya.
Nana mengedikkan bahu. "Nggak tau," jawabnya ragu. "Bunda bantu Nana buat izin Ares. Bilang sama Ares kalo Bunda kangen Nana, pengen ngobrol banyak-banyak nanti malam makanya harus nginap."
"Kamu nyuruh Bunda bohong sama suami kamu?" Marisa memicingkan mata menatap putrinya. Kecurigaannya ada masalah dalam rumah tangga putrinya kembali mencuat setelah tadi sempat menguap.
"Ya, nggak bohong juga, sih, Bun." Nana menggelengkan kepala. "Nana emang ada yang mau diomongin sama Bunda," katanya beralasan.
Sebenarnya, bukan hanya alasan, Nana hanya mencoba untuk jujur. Kenyataannya memang ada yang ingin dikatakannya pada Bunda, beberapa hal yang sudah tidak bisa dipendamnya sendirian. Dia perlu berbagi, dan orang yang tepat untuk menampung semua keluh kesahnya adalah ibunya sendiri. Orang yang paling dia percaya.
"Kalo Bunda yang minta izin sama Ares kayaknya Nana bakal dibolehin, deh," kata Nana walaupun sedikit ragu.
"Nggak!" Marisa menggeleng, menolak dengan tegas. "Bunda nggak mau bohongin Ares. Kalo kamu emang mau nginap, kamu minta izin sendiri sama suami kamu. Kalo dikasih izin, kamu boleh nginap. Kalo nggak, ya, nggak boleh!"
Bibir Nana maju beberapa sentimeter —manyun. Dia sudah menduga jawaban Bunda pasti akan seperti itu, tetapi tetap saja meminta untuk membantunya.
"Bunda, ish, jahat banget! Padahal, anak sendiri juga!" Nana menggembungkan pipi. Di depan Bunda, dia akan selalu menjadi gadis kecil yang manja, berapa pun usianya. "Nana beneran mau curhat sama Bunda...."
"Nggak bisa!" potong Marisa sambil menggerakkan tangan menolak. "Pokoknya, kamu harus minta izin sama suami kamu dulu baru boleh nginap!"
Nana mengembuskan napas melalui rongga hidung. Menyandarkan punggung kasar pada sandaran sofa, kedua tangan terlipat di depan d**a.
"Kenapa?" tanya Marisa tersenyum mengejek. "Nggak yakin kamu bakalan dikasih izin?"
Nana tidak menanggapi. Dia lebih memilih memutar otak mencari cara agar diperbolehkan menginap barang satu malam saja. Dia benar-benar perlu menenangkan diri agar dapat melupakan apa yang sudah dilihatnya.
Sampai sekarang, Nana masih dapat mendengar teriakan kesakitan Rendra. Otaknya juga masih mengingat dengan jelas bagaimana hancurnya wajah pria itu. Suara tulang yang patah, dia masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
Siapa tahu, dengan menginap di rumah orang tuanya, dia dapat melupakan semua itu. Lalu, dapat hidup kembali dengan normal dan mencintai Ares dengan cinta tanpa rasa takut seperti sebelumnya.
"Oh, iya, Na, kamu ingat nggak sama teman kamu lagi SMA dulu yang namanya Rendra?"
Nana menahan napas mendengar pertanyaan itu. Pikirannya langsung melayang ke mana-mana, detak jantung bertambah cepat tiba-tiba. Kenapa Bunda menanyakan tentang Rendra? Apakah telah terjadi sesuatu pada pria itu?
Rendra tidak tewas, kan? Dia tak ingin Ares kenapa-kenapa karena suaminya berhubungan erat dengan yang terjadi pada Rendra dua minggu yang lalu.
"Rendra Wiratama?" tanya Nana memastikan.
Hubungannya dan Rendra yang dulu adalah sepasang kekasih, Nana tidak pernah memberi tahu kedua orang tuanya. Sangat tidak penting, menurutnya. Mereka masih sekolah waktu itu, dia belum memikirkan ke arah yang lebih serius.
"Iya, di Rendra yang itu!" Marisa mengangguk membenarkan. "Kamu kasih ingat dia, kan, Na? Bunda denger kabar, si Rendra itu baru keluar dari rumah sakit habis dipukulin orang."
Nana tidak menyahut, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Dia tidak berniat untuk menanggapi. Apalagi, masalah ini termasuk salah satu yang sensitif untuk dibahas.
"Siapa yang mukulin masih belum tau lagi. Tapi, katanya, keluarganya bakalan terus nyari pelakunya!" kata Marisa menggebu-gebu. "Kabarnya, sih, mereka nggak akan berhenti sebelum menuntut balas."
"Bunda, kok, sekarang suka gosip sih?" Nana membelalakkan mata. "Ngapain juga kita ikut campur urusan mereka, Bunda, nggak penting!" katanya mengibaskan tangan. "Mending Bunda bantuin Nana buat cari alasan biar bisa nginep di rumah Bunda."
"Yang mau nginap di sini siapa, yang disuruh minta izin siapa?" Marisa memutar bola mata. "Pokoknya, Bunda nggak mau minta izin buat kamu sama Ares. Ntar kalo dia marah Bunda, Bunda gimana? Nggak mau Bunda dijutekin sama menantu!"
Nana menghela napas. Bukan hanya ingin mendapatkan izin dari Ares sehingga dia meminta Bunda membantunya, dia juga ingin mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin mendengar nama Rendra atau apa pun tentang pria itu. Tidak ingin membahasnya.
Nama Rendra sekarang menjadi momok yang menakutkan baginya. Nama itu membuatnya bermimpi buruk dan terus ingat dengan apa yang terjadi beberapa minggu yang lalu.
Bukan salah Rendra, dia juga tidak menyalahkannya. Hanya saja, nama itu berdampak tidak baik untuknya. Baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam rumah tangganya.
Nana khawatir, jika dia membiarkan Bunda terus membahasnya, Bunda akan keceplosan di depan Ares dan kembali menyebut Rendra. Bisa-bisa Ares tidak hanya akan mengancam Rendra dengan membuatnya babak belur, terapi langsung menghabisinya.
Nana tidak dapat membayangkannya. Seorang yang dia kenal tewas di tangan suaminya. Jangan sampai itu terjadi, atau dia tidak akan dapat memaafkan dirinya.
"Ares nggak bakalan kayak gitu sama Bunda." Nana memutar bola mata.
Ares sangat menghormati kedua orang tuanya, tidak mungkin akan mendiamkan Bunda. Entahlah.
"Tetap Bunda nggak mau!" Marisa bersikeras menolak. "Kamu kalo nggak berani minta izin sama suami kamu, ya, nggak usah nginap. Bunda nggak mau disalahkan Ares kalo kamu kenapa-kenapa."
"Bunda, kok, ngomong kayak gitu?" protes Nana. "Nana nggak bakalan kenapa-kenapa...."
"Tetap nggak boleh, Ashana Berryl!" Marisa membelalak. Kecurigaannya akan ada masalah dalam rumah tangga putrinya semakin menguat. "Kamu ada masalah sama Ares?" tanyanya tanpa dapat menahan diri lagi. Rasa penasaran membuatnya tidak sabar menunggu Nana untuk memberi tahu sendiri.
"Nggak ada!" bantah Nana. Kepalanya menggeleng ragu. Ingin dia menceritakan semuanya sekarang, tetapi takut Bunda akan ketakutan. Bunda sama seperti dirinya, tidak menyukai kekerasan. "Nana sama Ares baik-baik aja," katanya berusaha tersenyum.
Nana menyadari kecurigaan Bunda. Senyumnya yang sangat dipaksakan berusaha menutupi kecurigaan tersebut. Dia memang ingin menceritakannya pada Bunda, ingin berbagi tetapi tidak sekarang dan secara mendetail.
"Nana cuma kangen Bunda makanya mau nginep."
"Boleh, kok, kamu nginap di sini." Marisa mengangukkan kepala. "Tapi, sama Ares juga."
Mata Nana melebar satu detik. Menginap bersama Ares juga, apa bedanya dengan tidur di rumahnya? Dia menginap justru ingin menghindari suaminya.
Lagi pula, hanya satu malam ini saja. Besok dia akan meminta sopir untuk menjemputnya di sore hari.
"Bunda, mah, gitu!" Nana manyun.
Marisa tertawa puas penuh kemenangan. "Bunda mau masak dulu buat makan siang. Kamu makan siang di sini, kan?" tanyanya sambil bangkit dari duduknya.
Nana mengangguk cepat. Tentu saja dia akan makan siang di sini bersama bundanya. Jika diizinkan, makan malam juga dia akan di sini bersama kedua orang tuanya.
Sayangnya, harapan Nana sirna dengan kedatangan Ares beberapa menit sebelum makan siang. Pria itu menjemputnya pulang.
"Hon, kok, kamu di sini?" tanya Nana kaget pada Ares yang duduk di sampingnya.
"Aku jemput kamu, Hon." Ares tersenyum, menggenggam tangan Nana dengan lembut.
"Jemput sekarang?" tanya Nana lagi. "Tapi, kan, bentar lagi makan siang, Hon. Bunda juga udah masak buat makan siang bareng."
"Kelamaan nunggu habis makan siang baru pulang," sahut Ares. Nada suaranya berubah, lebih rendah, tetapi penuh penekanan. "Aku ada sibuk juga di kantor, nggak sempat jemput kamu lagi nanti."
Nana ingin menggeleng untuk membantah, tetapi tidak bisa. Tatapan Ares membuat tubuhnya membeku. Dia ingin mengatakan, tidak meminta Ares untuk menjemputnya dan akan pulang sendiri nanti sore.
Sayangnya, suaminya tidak menerima alasan apa pun. Mereka kembali ke istana mereka saat itu juga, kembali ke sangkar emas yang sudah disiapkan Ares untuknya.