Bab 6. Rumah yang Bukan Rumah

2013 Words
"Aku jemput kamu, Hon. Kita pulang sekarang!" kata Ares tanpa nada. Selesai pertemuan, Ares langsung menyusul Nana ke rumah mertuanya. Ia mendapatkan laporan dari pengawal yang bertugas menjaga Nana diam-diam, bahwa istrinya menyuruh sopir yang mengantarnya, pulang lebih dulu. Tak ingin mengambil risiko, Ares langsung menyusul begitu pertemuan selesai. Rasa takut kehilangan istrinya membuatnya tidak memedulikan para pemegang saham yang masih berkumpul di ruang pertemuan. "Sekarang?" ulang Nana mengerutkan alisnya tajam. "Tapi, Bunda lagi masak buat makan siang kita, Hon. Masa kita pulang kayak gitu aja?" protesnya. "Kita makan siang bareng lain kali. Sekarang kita pulang dulu!" Nada suara Ares tak terbantah. Nana membuang muka, menghindari tatapan tajam suaminya. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Sial sekali untuknya, bahkan berkunjung ke rumah orang tuanya pun Ares harus menjemput? "Lho, Ares? Kapan datang?" Marisa yang mendengar ribut-ribut di ruang tengah, meninggalkan masakannya. Ternyata, ada Ares bersama Nana, dan sepertinya mereka berdua tengah beradu pendapat. "Barusan, Bun," jawab Ares tersenyum. Ia bangkit, menyalami ibu mertuanya. "Aku mau jemput Nana pulang sekarang, boleh, Bun?" Marisa mengangguk. "Boleh banget! Kan, Nana istri kamu, nggak perlu izin Bunda. Kamu mau jemput dia pulang kapan aja, terserah kamu!" katanya tertawa, mengabaikan tatapan Nana yang memintanya untuk menahan mereka. Ares tersenyum. "Makasih, Bun," katanya lega. "Aku sama Nana mau pulang sekarang aja kalo gitu. Ada kerjaan di kantor yang harus aku selesaikan habis ini." Marisa mengangguk lagi. Benar-benar tidak masalah baginya Ares mengajak Nana pulang sekarang, meskipun mereka batal untuk makan siang bersama. Masih ada kesempatan lain untuk itu. Marisa melambaikan tangan pada anak dan menantunya sebelum mobil yang membawa mereka bergerak meninggalkan halaman rumahnya. Dia kembali ke dalam, langsung ke dapur mengecek masakannya. Di mobil, Nana terus menundukkan kepala. Tak berminat membalas tatapan Ares, ataupun genggaman tangannya. Genggaman tangan hangat itu tak lagi memberikan rasa aman seperti sebelumnya. "Kamu kenapa nyuruh sopir pulang, Hon?" tanya Ares setengah berbisik di telinga Nana. "Kamu nggak mau pergi, kan?" Cepat Nana mengangkat kepala mendengar pertanyaan itu. Alisnya berkerut tajam menatap Ares. Apa maksud Ares bertanya seperti itu? Apa mungkin suaminya mengetahui rencananya yang ingin melarikan diri darinya? Nana menggeleng melihat tatapan Ares yang memelas. Wajah tampan itu juga terlihat mengerut, mengiba, membuatnya tidak tega. "Nggak, kok, Hon!" bantah Nana mengibaskan kedua tangan cepat di depan d**a. "A—aku tadi rencananya mau pulang sore. Nggak enak sama Pak Mul kalo nunggu kelamaan mamanya aku sirih pulang duluan. Ntar sore juga bakalan aku telpon minta jemput." Ares mengembuskan napas lega. Meskipun rasa khawatir itu dan curiga masih ada, ia berusaha menekannya sedemkikan rupa. Ia juga mencoba untuk memercayai perkataan Nana. Tidak mungkin istrinya ingin meninggalkannya, mereka saling mencintai. Tidak hanya dirinya saja yang mencintai Nana, tetapi Nana juga mencintainya. Benar, kan? "Kita makan siang bareng," kata Ares tersenyum. "Habis itu baru aku balik lagi ke kantor." Nana mengangguk saja. Untuk saat ini, dia tidak boleh gegabah. Dia memang kasihan pada Ares, mencintainya. Namun, dia juga tidak bisa terus-terusan seperti ini. Rumah tempat dia dan Ares pulang, tidak bisa lagi disebut rumah, tetapi penjara untuknya. *** Ares pulang terlambat, ada urusan penting dan mendadak yang harus diselesaikannya saat ini juga. Tidak masalah buat Nana, walaupun harus makan malam sendirian dia sudah terbiasa akhir-akhir ini. Sebagain harinya yang menginginkan pergi dari rumah ini justru merasa lega karena tidak harus bertemu dengan suaminya. Bukannya Nana tidak menyadari perubahan Ares. Sikap suaminya terlalu kentara menjadi lebih dingin. Hanya saat di ranjang saja Ares tetap panas seperti biasa, bahkan terkadang brutal. Ares seolah ingin memberi tahu seluruh dunia, bahwa dirinya hanya miliknya. Yang membuat Nana kesal adalah dua orang pria yang berjaga di depan pintu kamarnya. Kedua pria tersebut selalu mengikutinya ke mana pun dia melangkah, kecuali ke kamar tidur. Mereka akan menunggu di depan pintu dengan setia seperti anjing penjaga. Kedua pria itu membuatnya merasa risi seolah dia tidak berada di rumahnya sendiri. Nana memutuskan untuk tidur lebih dulu tanpa menunggu Ares pulang. Rasa bosan yang berpadu dengan kesal membuatnya cepat sekali mengantuk. Entah berapa lama dia tertidur, Nana terbangun saat mendengar suara beberapa orang yang tengah mengobrol di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Seandainya, pintu kamar itu tertutup rapat, tidak akan dia dapat mendengar pembicaraan mereka. Salah satu suara yang paling dan selalu dikenalinya di mana pun adalah suara Ares. Suara yang lain, Nana tidak kenal sama sekali. Sepertinya suara orang kepercayaan Ares, entahlah. "Anda harus berhati-hati, Tuan Ares, mungkin saja keluarga Wiratama menuntut balas pada Anda." Keluarga Wiratama? Jantung Nana seakan melompat dari rongga d**a mendengarnya. Keluarga Wiratama bukankah keluarganya Rendra? Setahu Nana, keluarga Wiratama adalah salah satu keluarga berpengaruh di ibu kota. Mereka memiliki koneksi yang banyak yang dapat membantu mereka menghabisi siapa pun yang diinginkan. Jika keluarga Wiratama benar-benar ingin membalas dendam pada Ares dengan meminta bantuan relasi mereka, apakah Ares tidak akan apa-apa? Inilah yang dikhawatirkan Nana, dia takut suaminya kenapa-kenapa. "Apa mereka berani?" Itu suara Ares. Cepat Nana menyingkap selimut, turun dari tempat tidur. Apa maksud Ares berkata seperti itu? Apa suaminya ingin menentang keluarga Wiratama? Tidak. Ares tidak boleh seperti itu. Keluarga Wiratama bukan keluarga sembarangan yang bisa dilawan. Bagaimana jika keluarga Wiratama benar-benar membalas dendam untuk Rendra? "Hon!" Nana melebarkan pintu bersamaan dengan seruan itu. "Kamu udah pulang? Kapan?" Mata Ares melebar melihat Nana yang hanya mengenakan gaun tidur satin bertali spaghetti, berdiri di depan pintu kamar mereka. Cepat-cepat ia mendorong Nana kenbi masuk ke kamar mereka, dan memberikan tatapan membunuh pada dua orang pengawal yang tadi sempat melirik ke arah istrinya. Dengan gerakan kepala, Ares mengusir kedua pengawalnya. Lalu, memasuki kamar menyusul Nana setelah itu. "Hon, kok, kamu keluar bajunya kayak gini?" protes Ares menarik tali gaun tidur Nana di bahu kanannya. Nana menggeleng cepat. "Nggak sengaja, Hon!" katanya membela diri. "Tadi aku kebangun denger orang ngomong, nggak taunya kamu. Terus langsung ke depan, nggak sadar bajunya kayak gini!" Nana menundukkan kepala, melirik gaun tidur satin yang membungkus tubuhnya. Terlalu terbuka untuk dikenakan di luar kamar tidur, pantas Ares protes. Akan tetapi, dia benar-benar tidak sengaja. Lagi pula, dia mengenakan gaun tidur ini untuk suaminya, bukan untuk yang lain. Ares berdecak, meraih Nana dalam pelukannya. "Lain kali nggak boleh kayak gini lagi, atau nggak aku maafin!" katanya penuh penekanan. "Ma—maaf." Nana menundukkan kepala, memeluk Ares dengan erat. Dia ketakutan, tetapi aroma Ares selalu dapat membuatnya merasa aman dan nyaman. "Aku maafin, tapi nggak bebas dari hukuman juga." Ares tersenyum m***m. "Eh, hukuman?" Nana mendongak, menatap Ares dengan alis berkerut. Belum sempat dia berpikir tentang hukuman yang dimaksud Ares, bibirnya sudah dibungkam dengan ciuman liar dan menuntut khas Ares. Nana mengerang tertahan. Indra pengecap Ares yang kasar menerobos memasuki mulutnya, menari dengan gerakan erotis mengabsen seluruh isi mulutnya. Lagi, erangan lolos dari mulut Nana. Beberapa saat dia berusaha membalas, mencoba mematahkan d******i Ares dalam ciuman mereka kali ini. Namun, lagi-lagi dia gagal. Ares terlalu berkuasa, tidak hanya pada mulutnya, tetapi juga seluruh tubuhnya yang kini terasa panas. Bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri, indra pengecap Ares membelai langit-langit mulutnya. Nana keras dadanya memanas seiring pasokan udara yang menipis di paru-parunya. Dengan tenaga yang masih dimilikinya, tangannya memukul pelan bahu Ares beberapa kali, memintanya untuk melepaskan. Untungnya, Ares mengerti dengan kode pukulan itu. Mungkin karena dia yang selalu melakukannya setiap kali sudah hampir kehabisan napas saat mereka berciuman. Ares sepertinya sudah hafal sehingga melepaskan mulutnya. "Stop, Hon!" Nana menahan d**a Ares yang kembali ingin menciumnya. "Aku mau napas dulu. Kamu mau bikin aku pingsan gegara kehabisan napas?" tanyanya terengah. Ares tertawa geli. "Mana ada yang kayak gitu? Nggak ada, Hon!" bantahnya seraya mengusap bibir bawah Nana yang membengkak menggunakan ibu jarinya. Bibir mungil itu mengilap bekas air liurnya yang menempel di sana. "Ada kalo kamu nggak kasih jeda aku buat napas!" Nana bersikeras. Dadanya naik turun dengan cepat seiring tarikan napasnya yang berat. Ares mengangguk saja tanpa bersuara. Tangannya bergerak cepat menarik Nana, memindahkan duduknya ke pangkuannya yang bersandar pada kepala ranjang, "Sekarang udah bisa, kan?" tanya Ares serak. "Paru-paru kamu udah penuh sama udara," katanya sambil menarikan tangannya di tubuh bagian depan Nana yang masih tertutup gaun tidur. Erangan tertahan kembali lolos dari mulut Nana, padahal dia sudah berusaha meredamnya dengan menggigit bibir. Gerakan tangan Ares di dadanya yang meremas dengan lembut membuat tubuhnya kembali memanas. "Hon ...!" Ares mengabaikan. Ia menggunakan giginya menurunkan tali gaun tidur Nana dari bahunya sebelum memainkan indra pengecap pada si mungil di ujung d**a Nana, membasahinya dengan air liurnya. "Ares!" Nana menjambak rambut Ares menyalurkan rasa yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tak sadar, tangannya menekan kepala itu, membenamkan di dadanya semakin dalam. Angin malam terasa dingin menyentuh kulitnya, tetapi tidak membuat Nana menggigil. Dia justru kepanasan, tubuhnya berkeringat. Dadanya basah, keringat yang bercampur dengan air liur Ares. Suaminya terus memainkan indra pengecapnya yang basah di ujung dadanya. Nana mengigit bibir, kepalanya mendongak, d**a membusung meminta lebih. Sepasang kakinya bergerak membuka lebih lebar, memberikan akses pada jari-jari Ares untuk kerayap lebih dalam. "Ares!" Nana memekik tertahan merasakan sesuatu memasukinya. Dua jari Ares yang kini bergerak dengan lambat di bagian bawahnya. Gerakan yang sangat menyiksa baginya yang sudah dikuasai gairah. "Sakit?" tanya Ares. Suaranya semakin serak dan bergetar. Ia menghentikan pergerakan jarinya, menunggu jawaban Nana. Erangan dan desahan tak putus dari mulut Nana. Seirama dengan gerakan jarinya di bagian bawahnya. Nana menggeleng menjawab pertanyaan Ares. Dia tidak berbohong. Menang benar tidak sakit, malah sebaliknya. Tubuhnya semakin memanas dan bergetar, rasanya seakan ada yang mau meledak. "Hon ...!" Ares kembali mempercepat gerakan jarinya. Nana sebentar lagi akan sampai, dinding guanya menjepit jarinya yang terbenam di dalamnya. "Ares!" Nana mengejang. Dadanya yang tidak berpenutup, membusung. Beberapa detik dia tidak dapat bergerak, lalu ambruk di bahu Ares. "Hon, u—udah!" pinta Nana putus-putus. Suaranya serak. Jari Ares masih bergerak di bawahnya, keluar masuk dengan gerakan lambat yang menyiksa. "Udah?" ulang Ares tanpa berhenti menggerakkan jarinya yang tertanam di dalam Nana. "Belum, Hon, bentar lag!" Nana menggigit bibir, memejamkan mata rapat-rapat. Kedua tangannya merangkul bahu Ares erat, mulut kembali mengerang dan mendesah tanpa jeda, pasrah menuruti keinginan suaminya. Nana sangat mengenal bagaimana suaminya. Ares tidak akan berhenti meskipun dia memohon dengan menangis. Ia akan menghentikannya setelah merasa puas memainkan tubuhnya. Nana mengerang lirih, menggigit bahu Ares. Ombak pelepasan kembali menerjangnya untuk yang kedua kali. Rasanya sama dahsyat seperti yang pertama, membuatnya seperti tak lagi bertenaga. "Hon, kamu nggak apa-apa?" tanya Ares dengan raut wajah tak bersalah. Ia menarik jarinya, membawa ke mulut. Mengulumnya, membersihkan dari madu Nana. "Sweet as always," komentarnya tersenyum. Senyum yang membuat tubuh Nana semakin memanas. Dia menggeleng, menarik tengkuk Ares, melumat bibirnya rakus. *** "Aku ... cacat?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Rendra menatap kedua orang tuanya, juga tim dokter dan dua orang perawat yang membersamai mereka, satu per satu. Kedua tangannya tidak bisa berfungsi seperti sediakala. Jari-jari tangannya tak lagi lurus seperti sebelumnya, beberapa buah sedikit bengkok tanpa dapat disembuhkan. Ia cacat. "Rendra, dengerin Papa!" pinta Reynold Wiratama, ayah Rendra yang merupakan pemilik rumah sakit tempat Rendra dirawat. "Papa bakalan berusaha buat menyembuhkan kamu. Sekarang, Papa lagi mencari dokter bedah yang bisa mengembalikan tangan kamu seperti semula." Rendra tersenyum sinis, kepalanya menggeleng. Ia juga seorang dokter bedah ortopedi, yang saat ini namanya sedang naik daun. Ia tahu, kedua tangannya tidak dapat disembuhkan. Orang-orang itu sangat tahu bagaimana menghancurkan karir dan hidupnya. "Papa nggak usah bikin aku berharap, aku tau gimana kondisi aku." Rendra menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang masih saja dibalut perban. Entah siapa orang-orang itu. Tiba-tiba saja menangkap dan menculiknya, lalu menghajarnya membabi buta sampai membuat tangannya cacat. Rendra yakin, mereka sengaja. "Aku nggak bisa sembuh lagi." Iya, kedua tangannya tidak dapat disembuhkan. Keduanya sudah cacat permanen. Tulang-tulang dan urat syaraf penyusunnya rusak total. Entah apa kesalahannya sehingga orang-orang itu melakukan ini. Seingat Rendra, ia tidak memiliki saingan dalam pekerjaan. Jikapun bersaing, selalu secara sehat. "Aku nggak perlu dokter buat nyembuhin aku, Pa. Aku cuma perlu tau siapa orang yang udah bikin aku jadi kayak gini!" Rendra menggerakkan rendah. Kedua tangannya terkepal kuat. Ia harus menemukan orang-orang yang sudah membuatnya jadi seperti ini. Mereka semua harus membayar berkali-kali lipat apa yang sudah mereka lakukan kepadanya. Lihat saja, ia akan membalasnya dengan kedua tangan yang sudah mereka hancurkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD