Insting Tentang Kehamilan dan Perjanjian!

1008 Words
INSTING KEHAMILAN? "Aku pulang," kata Steven. "Kau benar-benar ya, Nak! Kau harusnya pulang lebih awal. Kenapa kau pulang selarut ini?" omel Mama Steven, Nyonya Liem. Steven berjalan masuk menghampiri keluarga angkatnya yang sudah berkumpul di ruang makan menunggu kedatangannya. Dia tersenyum berusaha seramah mungkin pada mereka, topeng kepalsuan yang selalu di pakai Steven. "Ini sudah pukul tujuh malam lebih, seharusnya kau lebih awal dari karyawanmu. Untuk apa kau menggaji mereka jika masih terus lembur," tegur Mama Steven, Nyonya Liem Santoso. "Maaf Ma, ada beberapa pekerjaan di kantor yang tidak bisa aku tunda," jawab Steven. "Mau sampai kapan kau akan hidup seperti ini? Kau pasti berkencan dan pergi dengan wanita itu lagi kan? Ck! b*****h kecil!" seloroh Dewan Komisaris. "Tidak, Pa. Memang ada beberapa pekerjaan tadi kan? Papa juga tahu sendiri saat mengunjungi ke kantorku kan? Padahal belum ada satu hari Papa ke sana. Kenapa Papa sudah marah-marah terus?" tanya Steven sambil duduk di dekat Jenny adiknya. "Dasar bodoh!" hardik Tuan Santoso. Alias dewan komisaris, Papa angkat Steven. "Apakah aku tak ada artinya bagi kakak? Kenapa sampai kakak harus pulang lembur di hari spesial untukku. Hari ini kita akan membahas pertunanganku, Kak," kata Jenny. "Iya bawel!" kata Steven mengelus kepala adiknya. Meskipun dia sebal dengan Jenny namun dia menyayangi gadis itu tulus. "Iya maafkan aku. Lain kali aku akan pulang lebih awal. Tapi by the way gimana Kakak? Apakah dia tidak pulang lagi, Pa?" tanya Steven. "Begundal itu masih asik dengan dunianya," sahut Tuan Santoso. "Kakak aku dengar dari Papa kalau kakak memiliki hubungan dengan karyawan di kantor ya? Apakah kakak berpacaran dengannya? Kakak akan bertunangan dengannya juga?" tany Jenny. Steven menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Menikahlah lebih dulu. Aku belum ingin serius dnegan wanita," ucap Steven. "Lalu kenapa kamu menjalin hubungan dengannya? Kejam sekali. Dia juga wanita yang memiliki perasaan, Kak. Setiap wanita itu butuh kepastian dalam setiap hubungan," protes Jenny. "Tenang saja dia berbeda denganmu. Dia tak pernah rewel untuk masalah itu. Aku sudah berkomitmen dengannya sejak awal dan aku sudah mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin menikah," ujar Steven santai. "Jangan gila kau, Steven!" tegur Nyonya Liem. "Apa itu semua karena penyakit kakak?" tanya Jenny. Stevanus hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut. Dia tak berani menjawab semua pernyataan adik angkatnya itu. "Lebih tepatnya karena aku tak punya kemampuan dan motivasi. Kalian yang menghancurkan semua impianku. Kalian yang mendidikku seperti ini, aku trauma dengan keluarga. Kalian selalu mengatakan aku anak angkat yang harus sadar diri. Aku adalah boneka kalian dan aku harus sadar Liem Santoso Grup hanya membutuhkan satu anak laki-laki yang waras dan tak penyakitan! Kalian dulu yang selalu mengancamku akan membuang ketika aku sakit lagi sampai aku harus menahan semua kesakitan yang aku rasakan setiap sakit jantungku ini kambuh!" keluh Steven dalam hati. "Stevanus," panggil Nyonya Liem menyadari bahwa putranya tiba-tiba terdiam. "Ya," sahut Stevan. "Ajaklah wanita itu sesekali kemari. Rasanya itu tidak buruk. Bukankah begitu Jenny?" usul Nyonya Liem. "Betul! Aku rasa ide Mama itu juga tidaklah buruk," kata Jenny. "Tidak. Papa tidak setuju," tegas Tuan Santoso. "Kenapa memangnya, Pa?" tanya Nyonya Liem yang penasaran. "Dia adalah karyawan kantor biasa. Jika rumor hubungan cinta antara Steven dan wanita itu menyebar di perusahaan maka akan mempengaruhi daya jual saham kita. Padahal dengan adanya pertunangan antara Jenny dan Julian itu akan meningkatkan elektabilitas dan kepercayaan para investor untuk menanamkan modal di perusahaan kita. Papa tak ingin menghancurkannya," terang Santoso. "Jadi jika memang Steven ingin berkencan dengan wanita itu, biarlah menjalin hubungan back street. Harus di sembunyikan dulu, jangan sampai rumor itu menyebar. Dan kau Steven berhati-hatilah dalam menjalin hubungan dengan wanita. Karena Papa tidak ingin kau salah langkah. Apalagi jika wanita itu tiba-tiba mengaku hamil. Ingat itu. Karena melihat kau begitu bajingann akhir-akhir ini, papa sedikit khawatir tentang hal itu," sambungnya. "Benar itu, Steven. Karena terlepas dari kau menjalin hubungan dengan siapapun sebenarnya Mama tidak keberatan, Nak. Karena bagaimanapun juga itu adalah hakmu meskipun dia dari karyawan biasa dan tak akan menguntungkan untuk perusahaan kita. Tapi mama minta kau jangan mencoreng muka keluarga dengan menghamili anak perempuan orang. Jika kau memang ingin menikah mak tunggulah dulu sampai pernikahan jenny dan Julian terlaksana. Kau harus mengalah sebagai Kakak, Steven," perintah nyonya Liem menegaskan. Mendnegar penjelasan suaminya dia juga ketir-ketir dengan tingkah laku Steven yang memang belakangan ini sangat sibuk. Ya meskipun kadang Nyonya Liem juga tidak percaya dengan gosip yang beredar di luaran. Banyak diantara mereka mengatakan jika Stevanus hobby sekali keluar masuk klub malam. Dia mencoba untuk maklum dan karena memang dia tak bisa memunafikan juga pekerjaan perusahaan mereka di bidang jasa entertainment dan perusahaan yang bergerak di bidang itu. Hentu membuat Steven harus pintar-pintar melobi banyak kalangan artis dan dunia entertainment yang penuh dan rawan dengan gemerlapnya dunia malam. Jadi dia selalu menganggap semua ini hanya rumor semata karena dia tahu putranya tidak pernah membawa wanita masuk dan pulang ke dalam flat apartemen yang dia beli sendiri. Jadi kebebasannya masih aamn saja. "Iya Ma. Aku mengerti," jawab Steven. "Lagi pula bukankah dari dulu aku selalu mengalah? Aku di sini hanya dijadikan alat agar Jenny dan kakak pertama bersemangat melanjutkan perusahaan ini karena mereka berdua tidak mempunyai jiwa kompetensi yang bagus di bidang ini, bukan?" batin Steven dalam hati. Lagi pula dia memang tak ingin memiliki anak yang akan mewarisi penyakit jantung yang dia derita. Dia sadar sekali akan rawan untuk menurunkan penyakit ini kepada anaknya. Dia tak ingin anaknya merasakan kesepian, ketakutan, dan kesakitannya selama ini dia rasakan. Steven begitu sangat tahu bagaimana sakit jantung itu ketika kambuh rasanya untuk bernafas saja sulit dan dia tak ingin ada anak lain yang merasakannya. Cukup dialah yang selama ini merasakan hal itu dia tak ingin ada anak-anak lagi dan ada manusia yang merasakan kesakitan yang sama terlahir dari dirinya. Tapi Steven lupa bahwa selama ini dia selalu melakukan hubungan seks dengan Elena tanpa memakai pengaman dan Steven merasa ini semua baik-baik saja. Toh Elena memang tidak pernah mengadu kehamilan atau hal-hal yang lainnya. "Kau tak melakukan hal aneh kan, Steven? Kau buat perjanjian dengan wanita itu!" perintah Tuan Santoso. PERJANJIAN APA YANG INGIN DI BUAT TUAN SANTOSO? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD