Ketahuan Dewan Komisaris?

1051 Words
KETAHUAN DEWAN KOMISARIS? Sesampainya di rumah Elena segera mengambil tas kerjanya. Sengaja dia menggunakan tote bag yang lumayan besar untuk membawa beberapa baju yang akan dia bawa dan ditaruh di rumah Stevanus, seperti rencana dan ajakan Stevanus semalam. Memang begitulah wanita jika sudah mencintai seorang lelaki, maka dia akan berkorban banyak hal termasuk Elena. Dia memutuskan untuk mau menerima ajakan Stevanus, lelaki yang dia cintai dan tinggal bersama tanpa ikatan dan status perkawinan yang sah dan pasti. "Aku akan memasakkan makanan untuk CEO. Sarapan roti panggang saja rasanya tak akan cukup. Apalagi CEO memiliki banyak pekerjaan menumpuk hari ini," kata Elena dalam hati. Dia segera menuju ke dapur kotornya lalu membuatkan makanan simpel yaitu spaghetti. Entah mengapa selama memasak dia tersenyum senang mengingat perlakuan Steven selama tiga bulan ke belakangan ini. Ya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan setelah seminggu dekat saat melakukan tugas ke luar negeri bersama. Mereka merasakan kecocokan selama ini. Elena hanya mengagumi Steven dari jauh. Begitupun dengan Steven, dia sangat cocok dengan Elena karena Elena ini adalah seorang wanita yang mandiri, tidak menye-menye ataupun banyak menuntut. Apalagi dengan latar background keluarganya yang sudah tidak ada, sehingga dia harus berdiri di kakinya sendiri. Ini membuat Stevanus mersa cocok, karena dia sendiri pun tak memiliki orang tua. **** Sedangkan di kantor, dewan komisaris datang menuju ke ruangan milik Stevanus. Dia tersenyum sinis memandangnya. "Selamat pagi dewan komisaris," sapa Steven. Padahal dewan komisaris ini adalah Ayah angkat Steven bukan orang lain. "Aku dengar kau sudah mulai berani membawa wanita ke rumah apartemen milikmu. Benarkah itu?" tanya dewan komisaris. Steven langsung terdiam, dia tak bisa membantah maupun mengiyakan semua ucapan papa angkatnya itu. Tanpa bicara lagi, hanya dengan menatap tajam ke arah putra angkatnya, dewan komisaris duduk di hadapan Steven. "Duduklah!" perintahnya pada Steven yang berdiri, dia pun duduk saling berhadapan. "Malam ini Mamamu ingin kau pulang. Dia mengundang untuk datang makan malam, karena pagi ini, Adikmu akan pulang dari luar negeri. Jenny pulang cuti kuliah karena dia akan melakukan pertunangan. Jadi Papa harap kau datang ke rumah," sambung Dean Komisaris. "Baik, Dewan Komisaris," jawab Steven. "Jangan mengajak wanita itu," tegasnya. "Maaf sebelumnya, Dewan Komisaris. Memang Jenny akan bertunangan dengan siapa? Selama ini aku tak pernah mendengar dia kencan dengan lelaki. Terakhir pacarnya Bule kan?" tanya Steven. "Dengan Julian, pemilik perusahaan Adiguna Wijaya. Ini pertunangan untuk mengikat perusahaan kita dengan Adiguna Group. Ini akan menjadi pernikahan yang menguntungkan," jelas Dewan komisaris. "Tapi, Pa... Ekhm maaf Dewan Komisaris, apakah Jenny bersedia?" tanya Steven. Jujur saja, memang Steven sangat menghormati lelaki di hadapannya ini. Bukan tanpa alasan, dia yang mendidiknya seperti itu, lelaki ini mengharuskan memanggil Dewan komisaris di kantor. Dan baru boleh memanggil Papa saat di rumah. "Jenny juga setuju! Ini akan menjadi pernikahan yang menguntungkan," kata Dewan Komisaris. "Astaga apa tak ada lelaki lain di dunia ini, Pa? Apakaah Papa tidak tahu bagaimana rumor yang beredar tentang nya? Bahkan sebagai lelaki Stevan sangat tahu bagaimana b******n nya lelaki itu di luar kantor, Pa. Apakah Papa ta kasihan pada Jenny? Apakah tak ada laki-laki lain di dunia ini, Pa?" tanya Steven. "Pa, percayalah pada Steven! Please kali ini, Julian itu bukan lelaki yang baik. Justru Steven khawatir dengan Jenny, Steven takut jika Jenny nekat melakukan pertunangan dengan Julian nanti, pasti dia akan yang sakit hati dan kalah, Pa," ucap Steven. "Entahlah Papa tak bisa menolaknya. Apalagi kaitannya dengan perusahaan. Lagi pula ini keputusan mereka berdua menerima perjodohan ini. Dan itu adalah keputusannya," tegas Dewan Komisaris. Stevanus hanya bisa terdiam dan melongo mendengar ucapan Papa angkatnya itu. Dia tak menyangka Papa angkatnya bisa melakukan ini pada anaknya sendiri. Mementingkan semua demi uang, uang, dan uang dari pada perasaan anaknya sendiri. "Wanita mana yang bisa menginap di rumahmu malam itu?" tanya Dewan Komisaris. "Dia karyawan sini juga, Dewan Komisaris," jawab Steven. "Baguslah kalau begitu. Kau jangan mencari wanita di luar sini! Karena perusahaan ini tetap harus kau yang menjalankan meskipun nanti Sean- lah sebagai CEO -nya. Tak masalah kan jika Kakakmu yang maju? Kau akan menjadi boneka dan bayangannya. Kau harus sadar diri, Steven. Kau harus tahu posisimu selama ini, jika selama ini kau hanya anak angkat," kata Dewan Komisaris. "Tapi bagaimanapun juga mamamu sangat menyayangimu, layaknya kau ini adalah anaknya sendiri," tegasnya. Steven hanya bisa menganggukkan kepalanya dan pasrah. Meskipun dia sakit hati dengan ucapan dewan komisaris ini, tapi dia sadar diri. Dia bukanlah apa-apa jika di banding Sean dan semua kekuasaan yang di miliki keluarga LIEM SANTOSO GROUP. Dewan komisaris langsung pergi meninggalkannya tanpa banyak berkata. "Aku akan membuat perusahaan sendiri nanti! Tunggu saja," tekat Steven. 'Ting' satu pesan masuk, Steven melihat pesan itu. Ternyata yang mengirim pesan adalah Elena. Hal yang setidaknya bisa membuat Steven sedikit tenang. Dia membukanya. [Aku membawakan spaghetti untukmu. Sengaja aku memasaknya sendiri, aku menaruhnya di pantry khusus CEO. Makanlah, CEO Kesayanganku] Elena sengaja mengirim pesan itu kepada Steven. Steven tersenyum membaca nya, dia segera mengirim balasan. [Terima kasih] [Aku melihat dewan komisaris baru keluar dari ruangan mu, CEO. Apakah ada sesuatu yang penting? Maaf jika aku terlalu ikut campur] [Elena sepertinya kau tidak bisa menginap malam ini. Aku harus pulang, Jenny akan melakukan tunangan. Maaf ya. Bagaimana jika besok kau ke rumah?] [It's okay. Have fun ya dengan keluargamu] Elena menghela nafasnya panjang. Ada semacam perasaan kecewa di hatinya, namun bagaimana lagi dia juga tak ingin menjadi beban Steven. Karena dia tahu posisi Steven itu juga sangat berat. Apalagi dia baru tiga bulan ini dekat dengannya, hampir berjalan empat bulan. Dia sangat mengerti jika Steven memiliki banyak kegiatan setiap harinya sebagai CEO. Seharian ini Elena dan Steven tidak bertemu, karena mereka memang tak bisa leluasa berjumpa takut semua orang di kantor curiga. Apalagi ruangan Elena hanyalah karyawan biasa, bukanlah seorang sekretaris yang bisa kapan saja menemui Steven jika tidak di panggi langsung oleh Steven. Dengan malas Steven melajukan mobilnya untuk pulang. Dia melihat jam sudah pukul tujuh malam. Dia menghela nafasnya panjang saat mobilnya memasuki pekarangan rumah keluarga Liem Santoso group, rumah yang nampak megah namun dingin. Hanya ada cinta kasih dari ibunya lah yang selama ini membuatnya bertahan. Steven menarik nafas panjang dan mulai masuk melangkahkan kakinya turun dari mobil. Tampak satu satpam sudah berjaga untuk membuka pintu mobilnya. "Aku pulang," kata Steven. "Kau benar-benar ya, Nak! Kau harusnya pulang lebih awal. Kenapa kau pulang selarut ini?" omel Mama Steven, Nyonya Liem. APAKAH ALASAN STEVEN. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD