AJAKAN TINGGAL BERSAMA
"Ck! Kau sama sekali tidak sabaran. Kalau begitu kita harus mempercepatnya," sahut Stevan. Mereka melakukan hubungan itu tanpa mengenakan pengaman.
"Haaaaaa....ughhhhhh..." erang Elena. Saking nikmatnya, Elena lupa jika dia masih dalam masa suburnya.
"Ini nikmat sekali ini. Terlalu besar CEO, tunggu pelan-pelan," keluh Elena di tengah kenikmatannya.
"Ummmm....ahhhh! Ini sangat hebat," erang Elena.
"Aku...keluar..." kata Stevan sambil mempercepat gerakannya.
Karena terlalu lemas dengan permainan Stevanus, Elena pun sampai tertidur. Dia bangun saat Matahari mulai masuk ke kamar milik CEO -nya itu dari sela-sela selambu jendela nya. Dia mengerjapkan matanya, kemudian mendengar daru nafas seorang lelaki dari arah samping.
"Ah, begini kah rasanya menikah?" batin Elena sambil bangun perlahan agar tak membangunkan Stevan.
Saat Elena membelakangi tubuh Stevan, tiba-tiba satu kecupan mendarat di tangan Elena. Dia kaget dan menoleh ke belakang, nampak Stevanus sudah bangun dan tersenyum.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Steven.
Elena pun tersenyum. Dia segera duduk, Elena merasakan semua sakit di tubuhnya. Kemudian berjalan ke kamar mandi sambil membawa pakaian dalamnya yang tercecer dan mandi. Kemudian dia melihat lemari Stevanus yang terbuka dan mengambil hem putih miliknya. Dia pun mandi, setelah itu dia celingukan mencari Stevanus yang tidak ada di kamar, kemudian dia berjalan ke dapur dan mengambil air dingin.
Setelah itu, dia melihat satu ruangan yang terbuka dan ternyata itu adalah ruang baca. Elena pun mengintip dan mengendap mengendap ke dalam ruangan itu. Dia menikmati ruangan itu, banyak buku seperti kesukaannya. Sungguh indah sekali meskipun hanya ruangan baca.
"Ternyata kau di sini, Cantikku?" ujar Steven. Elena menoleh.
"Apa kau mencoba merayuku pagi-pagi begini, CEO?" tanya Elena.
"Ah, aku tak tahu mengapa hem putih itu begitu menggoda saat kau pakai di pagi begini. Haruskah kita melakukannya lagi?" ajak Steven. Elena menggelengkan kepalanya.
"Tidak terima kasih, CEO. Aku sudah kehabisan energi semalam. Oh ya, kita harus bekerja hari ini kan? Tapi mengapa kau terlihat sedikit lelah dan pucat?" tanya Elena sedikit khawatir.
"Ah tidak, mungkin ini karena aku terlalu memforsir tenaga ku saja saat bersamamu semalam. Mari makan, aku memanggang kan roti untukmu," ajak Steven. Elena mengangguk, mereka berjalan ke ruang makan.
"CEO," panggil Elena sambil melayani Steven mengambil roti panggang nya dengan olesan butter.
"Hmm," sahut Steven sambil menyeruput coklat hangatnya.
"Ngomong-ngomong kenapa ada banyak sekali buku di ruang kerjamu, Pak Dion? Mengapa semua buku di sana tentang kesehatan?" tanya Elena.
"Aku suka membaca buku," jawab Steven.
"Kita kan bisa pergi ke toko buku, perpustakaan, atau sekedar lewat jurnal tanpa membeli buku. Dan aku melihat semua buku itu tentang kesehatan, ada apa?" tanya Elena.
"Itu impianku, Elena. Suatu saat ketika semua sudah aku capai, aku hanya ingin membuat sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang aku dedikasikan untuk semua orang yang memang masih kesusahan dalam menggapai fasilitas kesehatan, seperti di daerah dan kota kecil. Agar fasilitas kesehatan menunjang dan tak terjadi kesenjangan fasilitas kesehatan," jelas Steven.
"Mulia sekali hatimu, CEO. Semoga niat baik itu bisa berjalan dengan lancar," ucap Elena. Elina terdiam sambil berpikir.
"Ah, banyak hal yang ternyata aku tidak tahu. Ternyata lelaki di depanku hobi sekali, membaca buku selain bekerja CEO," kata Elena sambil melirik Steven.
"Sekarang aku mengerti, aku bisa mengira mengapa CEO pandai begini, salah satunya mungkin karena ini," batin Elena sambil menghabiskan roti tawarnya.
"Nah sekarang sudah waktunya untuk berangkat kerja," kata Elena dengan semangat.
"Apakah kau akan bekerja dengan pakaian seperti itu?" tanya Steven.
"Memang apa yang salah?" tanya Elena.
"Ya aku akan ganti pakaian lah. Tak mungkin aku akan memakai hem mu yang putih ini, CEO. Aku akan memakai blouse kerja ku dan memakai celana semalam..."
"Sttt! Bukan itu maksudku. Lihatlah bekas cupang- an itu," perintah Steven.
Elena pun segera melihatnya. Kalau dipikir-pikir kemarin memang dia menjilati tubuhnya mulai leher sampai kaki nya. Dia segera mengeceknya, benar saja semua bekas cupang-an di mana-mana.
"Ah, mengapa kau meninggalkan begitu banyak bekas cupang- an CEO?' keluh Elena.
"Karena kau sangat menggairahkan. Salah siapa membuka bajumu seniri seperti itu? Kau sangat ganas saat di ranjang Elena," ucap Steven.
"Pulang lah dulu, ambillah beberapa baju. Kau juga bisa meletakkannya di sini, Elena. Bukan kah untuk ke depan kita bisa tinggal bersama?" tanya Steven.
"Bukankah selama ini kau tinggal sendiri? Aku Pun di sini juga sendiri. Tak ada salahnya kan kalau kita tinggal bersama?" ajaknya.
"Baik lah, aku akan segera kembali ke kantor setelah memakai pakaian yang layak," ucap Elena.
"Selama ini kau tinggal di perumahan kecil kan? Kontrakkan saja. Lalu kau bisa tinggal di sini, Elena. Aku tak ingin kita tinggal terpisah," ucap Steven.
"Aku akan mempertimbangkannya lagi," jawab Elena.
Memang selama ini Elena tinggal di kota ini sendiri. Dia sudah tak memiliki orang tua lagi, mereka meninggal saat Elena kuliah terlibat kecelakaan saat akan menghadiri wisuda Elena. Rasa trauma itu yang membuat Elena memutuskan menjual rumah peninggalan orang tuanya dan hijrah. Bukan tanpa alasan, dia kini hidup sendiri dan tak mau terlalu larut dalam masalah ini
"Aku ganti pakaian dulu lalu pulang ya," pamit Elena.
"Apakah aku harus mengantarmu?" tanya Steven. Elena menggelengkan kepalanya.
"Jangan. Aku bisa menggunakan ojek online. Jangan membuat ini terlalu mencolok di kantor, CEO. Aku tak ingin semua orang tahu hubungan kita. Aku masih ingin bekerja layaknya biasa sebagai seorang karyawan, aku tidak ingin dianggap memanfaatkan hubungan ini denganmu CEO," jelas Elena.
"Baiklah kalau begitu, kau jangan terlalu tergesa-gesa," pesan Steven.
Elena menganggukkan kepalanya. Dia segera berganti pakaian dan kemudian memesan ojek online untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Elena lebih banyak diam, dia mencoba memikirkan lagi ajakan Steven untuk tinggal bersama, dia mencoba menimbang baik buruknya. Bukan tanpa alasan Elena memikirkan semua itu, meskipun dia mencintai, ya amat sangat mencintai Stevanus tapi dia masih bisa berpikir jernih.
Hubungannya dengan Stevanus tak akan bisa lebih, karena dari awal Stevanus sudah sepakat bahwa tidak ingin menikah. Hubungan mereka tak akan pernah mengalami kemajuan, apalagi Stevanus dari awal sudah mengatakan dia tidak ingin memiliki anak. Hal itulah yang sebenarnya membuat Elena besar.
"Haruskah aku menerima ajakan CEO Steven dan tinggal bersamanya? Atau aku menolaknya dan tetap tinggal di rumahku sendiri?" batin Elena dalam hati.
KEPUTUSAN MANA YANG AKAN DIAMBIL OLEH ELENA?
BERSAMBUNG