PUNCAK GAIRAH
'Ceklek' pintu kamar mandi dibuka. Nampak Elena keluar dari dalam dengan pakaian yang setengah basah karena dia memang tak membawa pakaian ganti. Elana kemudian mengusap wajahnya. Steven menatap Elena dengan tersenyum sambil duduk di sofa.
"Apakah tahu tidak sopan melihat seperti itu, Tuan CEO?" tanya Elena sambil tersenyum.
"Bukankah itu tidak terlalu nyaman untuk tidur, Elena? Apakah kau akan tidur dengan mengenakan pakaian bekerja seperti itu?" tanya Steven.
"Mau bagaimana lagi? Hanya pakaian ini yang melekat di badanku. Lagi pula kita tidak berencana untuk menginap malam ini, jadi aku tidak tahu, CEO. Aku tidak membawa pakaian ganti dan ini sudah larut malam, tak mungkin karena aku membeli baju jam segini," kata Elena.
"Di mana aku bisa tidur?" tanya Elena.
"Seperti yang kau lihat, hanya ada satu kasur di kamarku, Elena. Bagaimana kalau kita tidur seranjang nanti? Kita bisa kan tidur berdua," jawab Steven. 'Glek' Elena menelan ludahnya kasar.
"Yang benar saja bagaimana mungkin CEO yang aku kenal kini semakin binal saja. Aku tak menduga dia masih memiliki tenaga setelah kami melakukan itu tadi di meja ruang rapat tadi. Dia begitu amat menyukai masalah ranjang, setahuku dia dulu sangat dingin kepada wanita. Bahkan dia hanya memiliki rumor saja dengan beberapa wanita selain itu dia tidak pernah benar-benar serius dengan rumor itu," batin Elena.
"Kenapa kau terdiam sayang," kata Steven mendekati Elena.
"Atau kenapa kau tak bisa tidur denganku? Karena kau takut berbaring di ranjang yang sama dengan kau?" tanya Steven menatap Elana dalam-dalam.
Jujur saja selama ini Stevanus memang tidak pernah dekat dengan siapapun. Lebih tepatnya dia tak mau mendekatkan diri kepada wanita, karena dia takut dan memiliki trauma yang besar pada keluarga. Stevanus selama ini sangat fokus kepada pekerjaannya, karena dia tahu cara untuk berbalas budi kepada orang tua angkatnya. Ya, Stevanus bisa mencapai di titik ini karena peran orang tua angkatnya yang selalu mendukung dan menyayanginya bahkan dengan penyakit yang Stevanus derita.
Tak banyak orang yang tahu tentang penyakitnya ini dan Stevanus memang menyembunyikannya. Dia takut jika seorang wanita tahu dia memiliki penyakit itu maka wanita itu akan menghindarinya, termasuk Elena. Itulah yang menyebabkan Stevanus tak mau memiliki ikatan pernikahan ataupun tak mau memiliki anak karena dia tidak mau mewariskan penyakitnya itu. Elena merasakan jantungnya berdetak sangat keras.
"Aku tidak akan melakukannya hari ini CEO. Aku sangat lelah, bukankah hati kita sudah melakukannya," kata Elena sambil berbalik arah dan tidur di ranjang milik Stevanus.
"Ini satu-satunya tempat untukku tidur. Aku harus tidur," batin Elena.
"CEO bisakah aku minta segelas air saja? Yang penuh dengan es, rasanya aku kepanasan," kata Elena.
"Apapun untukmu, Elena. Semua akan aku lakukan," kata Steven. Elena melihat ke arah Stevanus yang sedang keluar mengambil banyak air.
"Dia memang sangat tampan, baik, namun juga cool menjadi satu. Dia adalah lelaki yang tak mudah dekat dengan wanita. Itu sebabnya, aku jatuh cinta pada CEO," batin Elena dalam hati.
"Minumlah! Habiskan lalu tidur, seharusnya kau minum s**u hangat bukan minum minuman yang dingin seperti ini," ujar Steven.
"Terima kasih ya, CEO," kata Elena sambil menghabiskan air itu. Saat Elena menikah air dingin yang ada di bibirnya, Stevanus menghampirinya dan menyekanya.
"Kenapa kau terkejut? Hehehe," kata Stevanus itu membuatku ingin menciummu.
"Aku seharusnya bilang aku tidak akan melakukannya malam ini. Namun entah mengapa bibirku serasa terus tercekat saat wajah tampannya semakin mendekati bibirku," batin Elena.
"Kau tidak menyuruhku untuk tidak melakukannya kan? Bicaralah jika kau tidak mau melakukan ini, Elena. Jangan membuatku salah paham, aku bisa beranggapan kita sama-sama mau kan?" tanya Steven.
Elena hanya diam tanpa menjawab. Elena memejamkan matanya, bibir mereka sangat bersentuhan.
"Ahhhhh! Ahhhh, dia sangat bagus dalam hal ini," batin Elena.
"Ahhhh...Hoshhh..." erang Steven.
"Ummmhhhhh," gumam Elena. Tanpa sadar tangan Elena memeluk bahu Stevanus.
"Entah berapa lama, aku menjaga kesucianku ini. Beberapa kali aku bertemu dengan pria termasuk Raka, namun aku selalu menjaganya. Aku tak ingin seorang menyentuhnya, dampak ikatan yang pasti dan pernikahan. Aku selalu menjaga kesucianku itu namun entah mengapa saat bersama CEO. Aku bisa meluruhkan semua prinsipku demi bisa menyenangkannya. Ini kah cinta atau hanya nafsu karena pertama kali merasakannya," batin Elena.
"Ciumanya terlalu intens dan nikmat," batin nya.
"Bagaimana nikmat kan?" tanya CEO.
"Aku tidak tahu karena itu hanya ciuman saja, CEO. Kau tahu kan?" ujar Elena yang sudah terangsang.
"Benarkah itu?" tanya Steven.
"Karena aku hanya ingin memastikan kalau memang enak seperti yang kau bilang. Kau tidak tahu jika itu hanya ciuman saja," jawab Elena.
"Bisakah aku memeriksanya sekarang?" tanya Stevan.
"Kira-kira ini lah perlakuan CEO yang membuatku ingin terus melakukannya," batin Elena.
"Ya, aku ingin melakukannya," kata Elena.
"Apa maksudmu?" tanya Steven.
"Kau bisa memeriksanya? Kalau kau mau," gumam Elena sambil membuka bajunya menampakkan dua buah d**a yang menyembul di arahnya.
"Sudah. Aku harap kau menyukainya, CEO," jelas Elena.
"Ck! Kau menantang ku Elena, siapa yang tak menyukainya? Sekali lagi aku bilang kau akan dalam masalah kalau memintaku untuk melakukannya. Karena kau itu sangat menggoda," ucap Steven.
Dengan sukarela Elena melepaskan bra sampai pengait akhirnya dan membuangnya ke samping ranjang. Dia nampak sudah telanjang bulat di hadapan Stevanus. Stevanus pun langsung meremas dan menghisap tubuh Elena. Dia memelintirnya dan menekan p****g itu sampai Elena mengerang kesakitan sekaligus bercampur dengan nikmat.
"Akhhhhh..." erang Elena.
"Sampai kapan kau mau menjilati semua tubuhku, CEO?" tanya Elena. Stevanus tak menjawab. Dia masih menjilati bagian lekuk tubuh Elena.
"Sepertinya kau suka memeriksanya saat berhubungan," rintih Elena.
"Aku tidak bisa menikmatinya sendiri, Elena. Ini hanya untuk kita berdua, kau harus menyukai keduanya. Jadi katakan kepadaku seberapa nikmatnya," perintah Steven.
"Enggghhhh... ngghhhhh... nikmat sekali, CEO," jawab Elena.
Tangan Stevanus masuk ke dalam lubang kenikmatan Elena dan mulai mengocoknya sampai mengeluarkan cairan kemudian dia menjilat cairan itu.
"Akhhhh CEO..." desah Elena.
"Kau pasti sensitif di bagian ini. Kau ingin aku menjilatnya?" tanya Steven.
"Jangan CEO! Kau tidak perlu melakukannya. Jangan lakukan itu, cukup sampai di sini. Cepat masuk kan!" perintah Elena.
"Ck! Kau sama sekali tidak sabaran. Kalau begitu kita harus mempercepatnya," sahut Stevan. Mereka melakukan hubungan itu tanpa mengenakan pengaman.
"Haaaaaa....ughhhhhh..." erang Elena. Saking nikmatnya, Elena lupa jika dia masih dalam masa suburnya.
APA YANG TERJADI SELANJUTNYA?
BERSAMBUNG