Stevanus Hanggara Putra

1013 Words
ALEXANDER HANGGARA PUTRA "Pakai bajumu, Elena. Mari kita pulang," ajak Stevanus. "Aku lelah sekali," kata Elena. Dengan telaten Stevanus membantu Elena untuk memakaikan pakaiannya yang sudah tak beraturan itu. Dia penuh dan bekas cupangan memenuhi seluruh badannya. Stevanus tersenyum dan mengelus kepala Elena. Ya dia sangat menyayangi gadis di hadapannya itu. "Malam ini kau pulang ke apartemen aku kan?" tanya Stevanus. Elena menganggukkan kepalanya. Mereka segera keluar dari ruang rapat menuju ke dalam mobil Stevanus. Elena tertidur di mobil. Bahkan Stevanus harus menggendongnya sampai di kamar apartemen miliknya. Tiga bulan sudah mereka berkomitmen tentang kisah cinta. Ini pertama kalinya Stevanus berani membawa Elena pulang ke apartemen miliknya. Saat sesampai di depan pintu Stevanus menciumi telinga Elena. Membuat wanita itu menggeliat karena geli. "Aku turunkan ya! Kita sudah sampai," perintah Steven. Elena menatap Stevanus dan tersenyum. "Aku tidak bisa mengeluarkan kartu yang ada di kantong ku. Jadi tidak bisa membuka apartemen ini dan aku tidak bisa men-scan lewat smart door lock nya, karena aku menggendong mu," ucapnya. "Maaf ya," kata Elena sambil turun dari gendongan nya perlahan. Stevanus pun menurunkan Elena perlahan, lalu membuka pintunya. Elena tertegun, Ini pertama kalinya Elena berkunjung ke rumah Stevanus. Dia terkagum-kagum dengan apartemen milik Stevanus yang rapi, bersih, dan elegan. Ini pertama kali Elena berkunjung ke rumah Stevanus, Stevanus Hanggara Putra yang biasa di panggil CEO Stevan. Sebenarnya dia cukup senang atas perlakuan Stevanus ini. Bukan tanpa alasan, bukan kah sekali nya lelaki mengajak dia ke rumah itu artinya dia serius. Apalagi Elena tahu sekali selama ini Stevanus tak pernah tahu lelaki itu membawa wanita itu pulang. "Wahhh, ternyata bagian dalamnya lebih bersih dari yang aku kira," puji Elena. "Iya kan aku tidak suka berantakan, Elena. Bahkan kau tahu sendiri kan, bagaimana aku di kantor tak suka jika ada debu sedikit pun," sahut Steven. Elena berbinar-binar melihat semua ruangan itu. Apartemen yang tak terlalu luas namun mewah dan elegan sekali. "Aku hanya punya satu kamar mandi. Jadi aku akan mandi duluan," ucap Steven sambil membuka baju. "Oh iya, apakah aku boleh istirahat sebentar? Sungguh aku lelah sekali, CEO," pinta Elena. "Kalau kau bosan sendirian, bagaimana kalau kita mandi bersama saja?" ajak Steven. "Tidak terima kasih," sahut Elena sambil menggelengkan kepalanya. "Masuk lah dan tidur di kamarku yang utama sebelah sana," perintah Steven sambil menunjukan satu ruangan khusus di kamarnya. Elena pun menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dia terkagum-kagum dengan desain kamar Steven. Simple, mewah, elegan, Steven pun mandi. Mata Elena pun tertuju pada balkon yang ada di kamar Steven, balkon itu di lengkapi dengan Sofa bed, membuat nyaman siapapun yang merebahkan diri sambil menikmati melihat bintang dan gemerlap lampu di bawah. "Nyamannya," batin Elena sambil merebahkan diri di sofa bed. "Aku tidak percaya rumah pria yang baru menjalin hubungan denganku selama tiga bulan ini lebih nyaman dari pada rumah ku sendiri. Apa mungkin karena aku benar-benar menyukai CEO dari awal? Sehingga aku tak ingin menyia-nyiakannya dan ini membuatku nyaman. Rasanya aneh," batin Elena. Stevanus baru selesai mandi, dia melihat Elena melamun memandang ke arah balkon. Dia berjalan ke arah Elena yang nampak memandangi jalanan. 'Tap tap tap' suara langkah kaki masuk ke kamar mendekatinya, terdengar di telinga Elena. Wanita itu menoleh. "Apa yang kau pikirkan, Elena? Bukankah kau mengatakan ingin tidur tadi? Kenapa sekarang kau berada di balkon?" tanya Steven. "Apa ada yang kau inginkan?" tanya Stevanus. Elena tersenyum sambil memandangi Stevanus, dia melihat lelaki itu nampak baru saja selesai mandi, dia masih mengenakan handuk kimono nya. Stevanus hanya tersenyum sambil memandang ke arah luar. "Aku hanya melihat pemandangan balkon dan malam. Sungguh rasanya ini seperti mimpi rasanya," sahut Elena. "Apa kau menyukainya?" tanya Steven. Elena menganggukkan kepalanya. "Apa yang kau sukai dari rumah ini?" sambungnya. "Semuanya, terutama dirimu. Kau menatanya dengan sempurna di mataku, rasanya selera kita sama," jawab Elena. "Andai kau bisa di rumah ini bersamaku, apa yang ingin kau rubah? Apakah kau ingin mendesain ulangnya?" tanya Steven. "Tidak, CEO. Semua menurutku sempurna, namun ada tapi nya," jelas Elena. "Kenapa?" "Aku tidak suka rumah di apartemen seperti ini. Terasa sempit sekali menurutku, jika boleh maka aku ingin rumah yang benar-benar di lahan utuh," terang Elena. "Mengapa begitu? Bukankah dengan kau ada di apartemen justru menaikkan prestise mu?" ucap Steven. "Iya, tetapi aku tidak suka CEO. Aku lebih suka rumah yang memiliki taman untuk ku bisa berkebun. Ketika kita menikah nanti aku juga ingin ada kolam renang yang bisa untuk latihan anak-anak kita nanti," jelas Elena. "Menikah?" sahut Steven. "Kenapa kau terkejut begitu?" selidik Elena. "Hahaha! Elena, Elena, kau jangan membahas tentang hal yang terlalu jauh. Apalagi anak denganku," kata Steven. "Kenapa?" tanya Elena lagi sambil berbalik arah. Dia tak mengira jika Stevanus akan mengatakan seperti itu. "Apakah kau menganut prinsip kohabitasi, CEO?" selidik Elena. Kumpul kebo atau kohabitasi adalah hidup bersama sebagai suami istri di luar pernikahan. Istilah kumpul kebo umumnya digunakan saat dua orang belum menikah hidup bersama dan terlibat dalam hubungan romantis atau intim. Mereka biasanya melakukan hubungan seksual di luar pernikahan dalam jangka panjang atau permanen. "Kenapa harus ada ikatan perkawinan, Elena. Kita bisa bersama kan? Aku memang menghargai dirimu, aku memang ingin hidup bersamamu. Tapi bukan berarti kita harus memiliki anak kan? Kita juga tidak harus menikah. Tapi aku berjanji bisa memberikanmu uang yang cukup dan menganggapmu sebagai istri," jelas Steven. "Apa maksudmu CEO?" tanya Elena sedikit kecewa dengan ucapannya. "Kenapa kau terlihat begitu kecewa Elena? Bukan kah kau tahu tipikal seperti apa diriku," ujar Steven. "Ah aku tak ingin membahasnya lagi, Elena. Malam ini, aku ingin menghabiskan bersamamu," sambungnya. "Bisakah aku menggunakan kamar mandi mu, CEO? Badanku gerah sekali," ujar Elena. Stevanus menganggukkan kepalanya. Elena pun ke kamar mandi, dia membuka semua bajunya. Nampak bekas cupangan yang membabi buta di seluruh tubuh Elena. "Untung aku memakai satu set pakaian dalam mewah ini," batin Elena. "Astaga, Elena. Mengapa kau mengatakan hal itu. Mengapa semenjak kau bersama CEO pikiranmu m***m sekali," keluh Elena sendiri. Tak munafik Elena memang pertama kali melakukan hubungan badan dengan Stevanus. Pria itu bisa membuat Elena nyaman bahkan berkali-kali merasakan puncak kenikmatan dunia saat bersama lelaki itu. Elena mengguyur badannya di bawah shower. "Apakah malam ini CEO akan melakukannya lagi?" BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD