PUAS SAMPAI MUAL!
"Elena," panggil Steven.
"Aku merindukanmu," ujarnya sambil menggendong Elena ke arah kamar.
"Apa kau ingin melakukannya lagi?" tanya Steven.
"Jika aku menolak apakah kau akan memberikan kesempaatan untukku pergi dan melepaskanku CEO?" tanya Elena.
'Cup' Stevanus mengecup bibirnya. Stevanus meremas p******a milik Elana, membuat wanita itu tersentak kaget.
"Aghhh!" pekik Elena kaget dia tersenyum melihat ke arah lelaki yang dia cintai itu. Elena memang membuka hati hanya untuk Steven selain karena Steven memiliki wajah yang memang tampan mempesona namun latar belakang Steven lah yang membuat Elena lebih nyaman mengingat selama ini dia hanya sendiri setelah keluar dari panti asuhan yang membesarkannya selama ini.
"Hahhh...Ahhh..." gumamnya.
Stevanus meremas p******a Elana, membuatnya mendesah. Elena tak tinggal diam tanggannya menyentuh bagian bawah Stevanus. Membuat lelaki itu kaget juga, tangan Elena membuka resletingnya, kemudian duduk berjongkok di hadapan Steven. Steven tersenyum karena semakin ke sini Elena semakin berani saja, sungguh sebenarnya Steven sangat mencintai Elena Dia adalah wanita baik-baik. Saat pertama kali Steven dan Elena melakukan itu memang gadis di hadapannya ini bisa membuktikan bahwa dirinya masih suci tidak seperti wanita yang banyak ditemui Steven di luaran sana. Hal itulah yang membuat Steven semakin mencintai Elina selain latar belakang Elena yang tinggal sendiri tanpa keluarga.
"Elena..." panggil Steven sambil memandangi wajah ayu milik Elena.
Elena tak peduli, dia membuka dan memelorotkan celananya sampai bawah. Kemudian membuka celana dalamnya, batang milik Steven mendongak tegak. Elena langsung mengulumnya membuat Steven menahan rasa kaget juga senang yang berjamur menjadi satu karena wanita di hadapannya ini benar-benar bisa menyenangkannya dari segi pekerjaan maupun di atas ranjang.
"Akkkhhh! Sialan! Kau memang binal sekali," pekik Stevan langsung menggendongnya.
Elena langsung menatap Steven dengan tatapan nanar. Steven membaringkan tubuh Elena di atas ranjang. Mereka saling berpandangan meskipun tanpa ucapan Elena dan Steven sama-sama tahu bahwa mereka sebenarnya amat sangat mencintai namun untuk saat ini belum bisa bersama karena keadaan lah yang memaksa mereka untuk menutupi hubungan ini dari semua orang.
"Aku belum mandi, biarkan aku mandi dulu. Bukankah kita masih memiliki banyak waktu bersama?" kata Elena.
"Aku tidak tahan lagi!" ucap Steven.
"Karena itu, mandinya nanti saja," sambungnya sambil melepas satu persatu kancing baju Davina.
"Akhhhh..." jerit Elena lirih.
"Pakaian dalam hari ini biru, sangat kontras sekali dengan warna kulitmu yang putih bersih," puji Steven sambil melepaskan bajunya.
Nampak tubuh Steven dengan bentuk kotak-kotak, hasil dia fitnes. Membuat Elena tersenyum senang.
"Kenapa kau tersenyum begitu? Kau suka kan tubuh seperti ini?" tanya Steven.
"Tentu saja aku suka. Kalau aku berkata tidak suka tubuh seperti ini tentu aku bohong sekali, bukan? Lagian siapa yang tak suka dengan pria berbadan atau altletis sepertimu CEO," jawab Elena.
"Jadi nikmatilah sepuasnya," kata Steven memerintahkan sambil melepas semua bajunya.
Tanpa membuang waktu lagi Steven pun langsung menjilat semua tubuh Elena. Dia menikmati mulai leher sampai bagian pusarnya. Bahkan Steven membuka bagian bra dan celana dalamnya menggunakan mulutnya.
"Kau sangat seksi sekali, Elena. Entah mengapa aku selalu tetap terpesona oleh tubuhmu. Namun Kenapa perut ini sedikit membuncit saja rasanya? Pasti kau jarang berolahraga akhir-akhir Ini," kata Steven sambil menyentuh perut Elena.
"Sepertinya memang begitu, atau mungkin karena aku terlalu banyak makan junk food akhir-akhir ini," keluh Elena.
"Meski begitu, aku selalu ingin menciumnya," ucap Steven sambil membuka ketua belah paha Elena menampakan gundukan itu.
"Apakah itu hinaan atu pujian?" tanya Elena dengan cemberut dia pun meraba perutnya memang sedikit ada yang mengganjal karena selama ini badan Elena memang kurus jadi ketika perutnya buncit sedikit saja akan terlalu terlihat.
"Tentu saja itu pujian," ujarnya sambil menjilat bagian bawah sana yang sudah basah.
"Akhhh! CEO!" pekik Elena menahan kenikmatan di bawah sana.
Jantung nya berdetak begitu keras. Bahkan dia tidak pernah merasakan sebelumnya. Elena mencengkram bagian selimutnya dengan keras. Menahan rasa yang bercampur menjadi satu, nikmat dan geli.
"CEO..." panggil ELena.
"Rasanya selalu enak," ujar Elena.
Tanpa membuang waktu lagi Steven segera membuka bajunya sampai dia telanjang bulat. Menampakkan batang itu yang sudah berdiri tegak. Namun dia tak segera memasukkan ke lubang kenikmatan milik Elena. Dia justru memainkan lubang itu dengan menggunakan jaringnya sambil sesekali meremasnya.
"Ngghhh! Ahhhhhh....." gumam Elena
""Nggghhh! CEO masukkan! Tolong jangan menggodaku, CEO!" perintah Elena menahan nikmat di bawah sana.
"Sebentar lagi," jawabnya.
"Aku akan membuatmu merasakan nikmat dunia," ucapnya sambil tiba-tiba mendorong batang miliknya itu masuk ke dalam lubang yang sudah basah.
Hal itu makin membuat tubuh Elena tersentak ke atas. Elena mendongakkan kepalanya menahan kenikmatan dan sakit yang menjadi satu. Bahkan dia harus menahan tubuhnya agar tidak terdesak ke atas, rasanya sangat enak bercampur dengan nikmat.
"Aku tidak perlu menahannya lagi kan," kata Elena.
"Lepaskanlah!" sahut Steven sambil terus menggoyangkan batang nya dalam lubang Elena.
Dua insan itu mabuk dan terbuai kenikmatan dunia. Sampai melupakan apapun yang terjadi, bahkan Elena juga lupa dan tak menyadarinya. Setelah puas, Elena dan Steven tertidur dalam ranjang berdua dalam keadaan tanpa busana.
"Huekkk! Huekkkk!" Elena mual, dia menahannya dan bangun dari tidur dalam keadaan telanjang bulat.
Dia berlari menuju ke kamar mandi. Ludah nya pahit sekali rasanya, sejak semalam dia tak makan apapun. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Steven kesehatannya benar-benar menurun dan Elena pun sudah berencana untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit dan klinik terdekat di kantornya. Mengingat dia juga memiliki asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan.
"Toh ini juga gratis, sepertinya aku benar-benar harus periksa sekarang. Jika dibiarkan terus-menerus maka aku tidak akan bisa bekerja lagi," gumam Elena.
Hampir satu jam Elena berada di kamar mandi karena menahan mual yang terus berdatangan. Untung saja ini sudah segera mereda. Dia memutuskan untuk segera mandi dan mengenakan piyama handuk milik Steven yang tergantung di sana. Dia keluar dari kamar mandi namun tak melihat Steven ada dan berbaring di tempat tidur. Mungkin dia juga sudah bangun, Elena pun memutuskan untuk keluar kamar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elena.
APA YANG DILIHAT ELENA?
BERSAMBUNG
Hai guys untuk yang suka cerita tentang mertua vs menantu kalian bisa baca ceritaku yang lain di judul TAJAMNYA LIDAH MERTUAKU. Jangan lupa subscribe dan tinggalkan love untuk membuat penulis semangat.
Untuk yang suka tentang drama rumah tangga yang mengisahkan perjuangan seorang istri merebut suaminya dari genggaman tangan pelakor bisa membaca di novelku berjudul
Season 1 KETIKA SUAMIKU MEMINTA IZIN POLIGAMI
Season 2 BAYI TAK BERNASAB