SEMANGKOK BUBUR HANGAT BUATAN STEVANUS, NIKMAT!
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elena.
"Aku tahu sejak semalam kau mungkin belum makan kan? Sehingga membuatmu terus-terusan mual. Sepertinya penyakit maag mu ini sudah parah. Jadi aku memutuskan untuk membuat kan sarapan untukmu bubur nasi saja. Karena tak ada suwiran ayam, aku menggantinya dengan telur mata sapi, serta daging slice yang aku beri bumbu barbeque. Semoga saja kau suka, memang ini sedikit kombinasi makanan dan sarapannya aneh tapi enak kok rasanya," kata Steven sambil membawakan semangkuk makan untuk Elena.
Wanita itu pun tersenyum dengan perhatian yang di berikan oleh Steven. Meski terkesan biasa tapi jika di pikir lagi seorang CEO, mau membuatkan semangkok bubur. Entah mengapa Steven menurutnya jauh lebih bisa memperlakukannya dengan baik dan menjadikan dia seperti wanita satu-satunya saat mereka berada di luar kantor.
Karena saat mereka berada di dalam kantor maka Steven akan memperlakukan Elena seperti karyawan lainnya. Dia akan bersikap tegas, dingin, bahkan terkesan sedikit arogan, angkuh, dan tak akan segan. Sesekali bahkan dia membentak Elena jika memang wanita itu memang berbuat salah dalam melakukan pekerjaannya.
"Cicipi lah!" perintah Steven.
"Terima kasih ya, CEO," ucap Elena.
"Bolehkah aku menambahkan minyak wijen? Sepertinya akan lebih enak jika ini ditambahi oleh minyak wijen diatasnya. Pasti akan tambah wangi," katanya lagi.
Steven pun mengganggukkan kepalanya, dia mengambilkan minyak wijen untuk Elena. Dia menyerahkan pada Elena.
"Ini, namun sejak kapan kau menyukai minyak wijen? Bukankah selama ini kau paling tidak suka dengan minyak ini? Lalu kenapa tiba-tiba kau terpikir untuk menambahi minyak wijen?" tanya Steven.
"Hehe, sepertinya akan enak saja," ucap Elena. Dia pun menuangkan minyak wijen itu, kemudian menyuapkan ke mulutnya.
"Enak sekali! Aku sudah menduga akan seperti ini rasanya," ucapnya. Entah mungkin karena lapar atau memang bubur membuatnya nyaman.
"Kau mau sekalian berangkat denganku ke kantor?" tanya Steven.
"Eh tidak," reflek Steven mengatakan itu dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Hah? Kenapa? Mengapa tiba-tiba kau membatalkannya? Padahal tadi menawarkan diri," keluh Elena.
"Maaf ya, Elena. Sepertinya dalam waktu dekat kita tidak bisa mempublish hubungan kita," jelas Steven.
"Kenapa memangnya?" tanya Elena dengan nada sedikit kecewa. Steven pun menghela napasnya panjang.
"Kau tahu sendiri kan, Elena. Kau mengerti kan posisiku? Jenny baru saja menikah," terang Steven.
"Apakah itu lantas membuat orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita?" tanya Elena.
"Bukan begitu, Elena. Sebenarnya orang tuaku itu menyetujui saja hubungan kita, bahkan Mama ku memang membebaskan aku berhubungan dengan siapapun. Papa ku juga sudah tau hubungan kita," terang Steven.
"Lalu?"
"Namun tidak untuk sekarang. Bukannya tanpa alasan, kau kan tahu sendiri bagaimana secuil kisah hidupku yang selalu mengalah dan mengalah demi kebahagiaan adik dan kakakku? Apalagi sekarang Jenny baru hendak menikah. Jadi aku harus bersabar terlebih dahulu," ucap Steven.
Elena pun hanya bisa diam dan pasrah saja setelah mendengar penjelasan Steven. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena memang dia tahu bahwa itu sudah menjadi resikonya berkencan dengan seorang presiden direktur atau CEO perusahaan dan hubungan mereka harus tersembunyi. Apalagi hubungan mereka sekarang merenggang dan strata sosialnya juga sangat berbeda. Bagaimana lagi namanya juga sudah cinta, Elena sudah siap dan tahu resikonya juga. Akhirnya mau tak mau mengalah juga.
"Aku akan segera pulang, CEO. Karena aku harus ke dokter juga, rasanya semakin ke sini mungkin maag ku semakin menjadi-jadi saja. Karena aku tadi sudah mual-mual dari pagi, aku tak ingin karena penyakitku ini pekerjaanku akan menjadi terhambat," pamit Elena.
Dari pada dia terus di rumah Steven membuatnya makin sakit hati dengan model percintaan seperti ini. Steven pun berjalan ke arah Elena. Dia memeluk wanita itu dari belakang dan mengelus kepalanya.
"Kau marah, Sayang? Maafkan aku ya, Elena. Tapi aku janji suatu saat nanti aku akan membalas semua yang sudah kau korbankan untukku sekarang," ucap Steven sambil menciumi pucuk rambut Elena.
Tiba-tiba Elena mencium aroma tubuh Steven. Hal itu langsung membuat Elena kembali mual. Namun dia berusaha menahannya sambil mengusir Dion.
"Menyingkirlah, CEO! Aku tak ingin mencium aroma tubuhmu itu, membuat aku mual," ujar Elena.
"Kau jahat sekali. Kau melakukan ini hanya gara-gara aku tak bisa mengantarkanmu ke kantor? Kau tidak mau aku peluk?" ujar Steven sambil cemberut.
Elena pun tersenyum dan mencuci mangkok bekas dia makan. Setelah itu dia pun segera mengambil pakaiannya berganti dan memutuskan untuk ke klinik rumah sakit.
"Aku pulang dulu, CEO. Terimakasih untuk sarapan paginya," ucap Elena sambil menyalami tangan Steven dan menahan nafasnya takut muntah. Steven menganggukkan kepalanya, dia mengelus rambut wanita itu dann tersenyum.
"Hati-hati di jalan, Sayang. Kabari aku jika ada apa-apa. Aku juga akan segera berangkat juga. Kita bertemu di kantor, beri tahu aku apa hasil di dokternya," perintah Steven.
Dia memesan ojek online untuk ke klinik itu. Sambil menunggu, sepanjang jalan Elena melamun tentang semua ucapan Stevanus. 'Ting' satu pesan masuk, saat Elena masih di jalan. Satu notif m-banking masuk ke pesan Elena dengan nominal yang lumayan banyak. Elena pun membuka pesan itu dan tertera nama pengirimnya adalah Stevanus Adiguna Liem Wijaya.
"Apakah sudah masuk?]
[Untuk apa kau mengirim uang sebanyak itu?']
[Bukankah kau harus ke dokter dan memerlukan biaya]
[Itu sudah ditanggung oleh kantor. Jadi kau tak perlu mengirimkan uang sebanyak itu untukku. Aku bukan wanita yang bisa dibeli? Apakah kau merendahkanku?]
"Itu yang aku suka darimu, Elena. Kau memiliki ketulusan yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Kau tidak pernah memandangku dari harta yang ku punya, tetapi kau terus mencintaiku. Bahkan sampai detik ini aku ingat betul tak pernah memberimu sepeser pun uang selain gaji dari kantor dan hadiah yang aku berikan. Padahal kau sudah memberikan semua untukku," gumam Steven.
"Pantaskah Aku mengeluh?" batin Steven dalam hati. Kemudian dia segera membalas pesan Elena.
[Aku mencintaimu. Jangankan harta, semua aku bisa berikan untukmu]
[Kecuali pernikahan, komitmen, dan anak]
APAKAH JAWABAN STEVEN?
BERSAMBUNG
Hai guys untuk yang suka cerita tentang mertua vs menantu kalian bisa baca ceritaku yang lain di judul TAJAMNYA LIDAH MERTUAKU. Jangan lupa subscribe dan tinggalkan love untuk membuat penulis semangat.
Untuk yang suka tentang drama rumah tangga yang mengisahkan perjuangan seorang istri merebut suaminya dari genggaman tangan pelakor bisa membaca di novelku berjudul
Season 1 KETIKA SUAMIKU MEMINTA IZIN POLIGAMI
Season 2 BAYI TAK BERNASAB