Mentari Dihati Langit 5
Aku bergegas keluar rumah dan akan kutanyakan obat apa yang diberikan Ibu buat Tari. Apakah benar obat buat kesuburan atau malah sebaliknya. Aku menaiki sepeda motor saja karena apotek tidaklah jauh.
Aku sampai di Apotek setelah ku parkirkan sepeda motorku. Aku berpapasan dengan Jeng Farah. Dia mempunyai toko di pasar yang tak jauh dari rumah. Kata orang tokonya laris dan sekalian dia berjualan lewat internet juga. Tari beberapa kali membicarakannya. Namun, aku tak begitu fokus.
"Langit ya," katanya menyapaku, aku mengangguk.
"Iya,"
"Langit. Dimana Tari, sudah seminggu dia gak masuk kerja. Dia cuma minta maaf lewat HP kalau lama gak bakal datang, setelah itu nomornya gak aktif lagi," ujarnya bertanya. Aku terhenyak mendengar informasi yang disampaikan Jeng Farah.
"Maaf, apa istri saya bekerja di tempat Mbak Farah?" tanya ku dengan raut bingung. Pasalnya aku gak tahu dia kerja. Selama ini aku kelewat sibuk. Aku bekerja di pagi hari dan pulang paling cepat pukul sembilan malam. Pantas Tari sering mengeluh capek, namun aku marah padanya dan dia masih mau melayaniku sebagai istri yang baik. Apakah Ibu gak memberi Tari uang? Padahal Ibuku berjanji kebutuhan keluarga dia yang handle karena kami masih tinggal dirumahnya. Namun, aku salah memberi Ibu uang yang banyak tetapi kebutuhan Tari tak dipenuhinya.
"Iya, Tari udah lama kerja sama saya. Masa kamu gak tahu," ujarnya heran.
"Maaf, Mbak. Tari hilang. Saya juga gak tahu dia dimana," kataku dengan desahan. Jeng Farah yang heran dengan ucapanku.
"Maksud kamu bagaimana?"
"Maaf, saya gak bisa ceritakan sama Mbak detail masalahnya cuma kalau Mbak tahu dan melihat dia. Mohon informasikan sama saya," kataku, kuberikan nomorku pada Jeng Farah agar bila dia melihat Tari, dia dengan mudah bisa memberitahukan padaku.
**
"Iya loh anak saya itu udah duren Mbak Lesti, cocok sama Viviane," kudengar secara samar suara Ibuku. Tubuhku bergetar dan rahang ini mengeras.
"Kok bisa cerai sih Jeng?" tanya Bu Lesti tamu Ibuku.
"Iya, istrinya mandul dan pemalas sehingga dicerai sama anak saya."
"Tapi anak saya gak bisa kerja loh, Jeng."
"Ya lain dong. Viviane kan sudah lama tinggal di Ausie jadi jangan disamakan sama wanita kampung." Seperti itulah kira-kira percakapan Ibu dengan temannya. Rupanya Ibu gak kehabisan akal sama sekali untuk membuat rencana perjodohan dengan wanita yang bernama Viviane. Aku sendiri gak kenal dan sama sekali gak tertarik karena dalam pikiran ku masih bersarang Tari. Alangkah bodohnya aku menyia-nyiakan wanita sebaik Tari yang tidak banyak menuntut.
"Mas Langit udah balik, Ma."
Suara Intan membuat mereka melongok menatapku. Kulihat seorang wanita muda namun aku terhenyak karena body nya yang kelewat subur. Bila ku perhatikan mungkin berat badannya sekitar 80 kg. Apakah ini Viviane yang mau dijodohkan Ibu padaku. Dimana pikiran Ibu.
"Langit sini, Nak. Kenalan dulu sama Viviane dan Ibunya Jeng Lesti." Ibuku menarik tanganku. Aku sebenarnya sudah mau meledak. Bagaimana tidak, ternyata obat yang diberikan Ibu. Bukan obat buat kesuburan namun obat agar wanita menjadi tidak subur. Astagfirullah, sudah berapa lama Tari konsumsi obat-obatan itu.
"Langit kok kamu malah bengong sih. Ayo kenalan sama Viviane," kata Ibu memaksaku. Wanita itu dengan senyum yang dibuat semenarik mungkin. Namun aku sudah jengah padanya.
"Ih, Mas Langit ganteng ya, Tante," ucapnya menggodaku.
"Kamu suka kan?" tanya Ibuku dan dengan tak malu. Dia mengangguk. Aku sudah gak tahan lagi melihat tingkah laku mereka.
"Apa-apaan sih ini semua, Bu. Apa maksud Ibu sebenarnya?" kataku dengan ketus. Ibuku terkaget mendengar suara dinginku dan wajah garang ku.
"Langit. Apasih kamu bentak Ibu begitu. Kamu buat Tante Lesti sama Viviane takut. Tahu!" kata Ibu marah.
"Huhuhu …" tiba-tiba Viviane si b*ntal itu menangis. Ah, entah mengapa di kepalaku langsung memberikan julukan itu padanya.
"Tuh kan Langit, Viviane takut. Kamu jangan kasar begitu sama dia. Dia calon istri kamu!" bentak Ibuku.
"Calon istri? Jangan mimpi. Aku sama sekali gak akan mau dijodohkan dan diatur-atur Ibu seperti ini!" ketus ku lagi. Aku berlalu pergi, kubiarkan Ibu selesaikan masalah dengan tamunya dan barulah aku akan bertanya. Namun dia seolah tak mau aku pergi.
"Jaga sikap kamu, Langit. Ibu udah setuju menjodohkan kamu sama Viviane. Lagian kamu juga udah cerai sama perempuan mandul itu!" Aku merasa semakin kesal dan hatiku panas. Jika bukan karena desakan dan sikap sok ngatur Ibu. Aku tak akan ceraikan Tari, istriku dan bidadariku. Wanita yang sangat baik. Mungkin diujung dunia tidak ada wanita baik dan mau berkorban seperti pengorbanan Tari.
"Mandul. Ibulah yang membuat dia sulit punya anak!" Aku melempar obat yang diberikan Ibu ke atas meja dan Ibu terkejut.
"Apa ini?"
"Ini obat yang Ibu beri buat Tari dan kata apoteker itu obat buat ketidaksuburan dan akan berbahaya bila tidak ada anjuran dokter untuk meminumnya. Apa Ibu memang berniat mencelakakan Tari?!" kataku memberi penjelasan dan wajah Ibu seketika pias.
"Lebih baik kalian pulang saja. Aku sama sekali gak bisa melupakan istriku. Aku mencintai Tari dan dengan polosnya aku ceraikan dia," ucapku berlalu. Kulihat wajah Viviane dan Ibunya yang sudah pucat mendengar pertengkaran kami. Aku udah gak peduli.
**
"Langit. Apa maksud kamu, Ha. Kamu sudah seperti orang gila gara-gara perempuan mandul itu!" omel Ibuku yang nyelonong masuk ke kamarku.
"Jaga bicara Ibu. Ibu yang membuat kami sulit punya anak!" kataku dengan sorot mata tajam.
"Langit, kamu salah paham. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Bisa saja Tari menaruh obat itu agar Ibu yang disalahkan," ucapnya membela diri.
"Aku gak habis pikir sama jalan pikiran Ibu. Dimana nurani Ibu sebagai seorang Ibu? Apa salah Tari dan maksud Ibu menjodohkan ku sama perempuan model Viviane," kataku dengan cibiran.
"Dia miskin dan nyusahin sedangkan Viviane kaya dan mau sama kamu. Apa salahnya kamu terima dia. Nanti kalau dia jadi istri kamu pasti dia bisa kurus dan berubah cantik. Dia bisa operasi plastik dan sedot lemak, Langit," kata Ibu enteng tanpa memikirkan perasaanku.
"Hanya itu tujuan Ibu. Harta semata. Ibu benar-benar jahat, tega Ibu hancurkan masa depanku," kataku sedikit bergetar. Aku membuang muka saat itu Ibu menjadi histeris.
"Langit, mohon terima Viviane karena cuma itu cara agar kita lolos dari hutang," ucap Ibu mengiba. Aku seketika melihatnya.
"Apa maksud Ibu? Hutang apa? Bukankah uang bulanan selalu penuh kuberikan pada Ibu dan Ibu paksa aku berikan 50 ribu saja seminggu buat Tari dengan dalih kebutuhan Ibu yang ambil alih dan jika Tari perlu uang akan Ibu beri."
"Huhuhu …. Maafkan Ibu langit. Uangnya habis karena kebutuhan Ibu banyak. Ibu malu kalau kalah gaya sama teman-teman. Untuk itu Ibu mau kamu bantu Ibu nikahi Viviane agar hutang Ibu lunas. Kalau tidak rumah ini akan disita Bank. Huhuhu ..." lanjut Ibu histeris.
Aku sangat terkejut dan tak habis pikir mengapa Ibu menjadi seperti ini? Ku hembuskan napas gusar ku. Walaupun aku sudah sangat geram sekali. Kucoba tenang menghadapinya.
"Bu, aku sepertinya tak bisa ….
Bersambung.