Mentari dihati langit 4
Aku melajukan mobilku secara kasar. Aku akan ke pelabuhan, aku seperti orang gila sekarang mencari-cari keberadaan Tari tak tentu arah. Apakah Tari masih disana, rasanya mustahil karena sudah seminggu dia kuceraikan. Raka temanku memanggil-manggil namun sama sekali tak kuhiraukan.
Semuanya masih misteri. Bagaimana bisa baju dan bross Tari ada pada wanita yang mayatnya kami lihat bersama kemarin. Namun yang mati bunuh diri itu bukan Tari. Oh, Tari dimanakah dirimu kini. Aku salah Tari, sebagai suami selama ini aku sangat egois, mementingkan diriku sendiri.
Aku sampai dipelabuhan, akupun bergegas bertanya kesana kemari apakah ada yang melihat Tari. Bermodalkan photo istriku, aku bertanya kemana-mana, apakah ada yang melihat istriku. Hingga akhirnya aku terduduk lemas disalah satu bangku. Aku lelah bertanya namun tak ada satupun dari mereka yang melihat Tari. Hingga aku secara samar melihat wanita, dia Tari. Kukucek lagi mataku, mungkinkah netraku bermasalah. Tidak, aku masih waras dan tidak gila. Kuberlari secara cepat menghampirinya.
"Tari!" kataku memegang lengan wanita dengan gamis dan hijab segiempat itu. Dia menoleh dan secara kasar dilepaskan tanganku serta rautnya marah padaku.
"Maaf, siapa ya?" Dia berkata ketus, aku mengamati wajah wanita itu dan dia bukan Tari.
"Maaf, Mba salah orang," ucapku meringis. Dia dengan cibiran akhirnya berlalu dariku. Aku mengusap kasar wajahku. Aku benar-benar frustasi. Allah, apakah ini hukuman buat suami dzolim sepertiku. Seharusnya bilapun Tari kucerai, dia masih berhak tinggal dirumah dan mendapat nafkah dariku selama masa iddah. Namun aku malah diam dia diusir seakan aku mengamini dia pergi.
Benar kata Raka, seharusnya Ibu gak perlu masuk terlalu dalam ke masalahku dan terkesan mengatur. Aku bagai kerbau yang mau saja dicucuk hidungnya sekarang Tari pergi dan kami semua menjadi susah seperti ini. Mengapa aku merasa kehilangan setelah Tari pergi bukankah itu inginku menyingkirkan istri mandul.
.
.
"Mas, apa salahnya kalau kita berobat, kita ikhtiar kalau kamu sangat ingin punya anak, Mas," katanya saat usia pernikahan kami hampir dua tahun.
"Iya, Tari. Tetapi kita baru saja membeli obat yang direkomendasi Ibu. Masih kamu minum?" tanyaku dengan desahan. Pasalnya Ibu berkata rugi bila ke dokter, kalau mandul lebih baik dicerai saja. Ibu mengatur dan membelikan obat penyubur buat Tari, dan istriku dipaksa minum. Ibu berkata dengan obat itu Tari bisa lekas hamil karena anak teman arisannya juga minum obat itu dan hamil. Lebih baik uang buat program hamil dialokasikan buat bayar sekolah Intan dan kebutuhan anak Mira serta buat Ibu.
Tentu aku menolak saat itu namun Ibu bersikeras harus mencoba obatnya dengan hati terpaksa akupun menuruti dan bodohnya aku percaya pada Ibu. Setega itukah dia pada istriku. Benar kata Raka, Ibu yang baik tidak akan mungkin ingin melihat anaknya bercerai dan menderita kecuali dia egois.
Dengan wajah mengeras, aku harus tahu obat apa yang Ibu beri buat Tari. Mengapa dia sampai hati dan setega itu pada istriku. Aku merapal doa, Allah lindungilah Tariku, belahan jiwaku. Aku merindukannya dan aku menyesal.
**
"Tari, ini benar kamu Tari?" tanyaku. Aku melihat Tari, namun dia sangat cantik sekali. Penampilannya sangat berbeda. Bila bersama ku pakaian nya selalu lusuh dan penampilannya kumal. Dia tersenyum seperti bidadari. Dia tak menjawab dan hanya tersenyum.
"Ayo kita pulang, Tari," ucapku menarik tangannya. Namun dia cemberut dan melepas kasar tanganku.
"Ada apa, Tari. Aku salah dan minta maaf sama kamu."
"Jangan cari aku lagi. Aku sudah bahagia sekarang," ucapnya padaku.
"Bahagia apa maksudmu. Tari, kamu sekarang dimana. Tidak ada orang mati bunuh diri bahagia yang ada dia masuk neraka," ucapku padanya namun dia tertawa kecil dan cantik sekali.
"Siapa bilang aku bunuh diri, wanita itu kan bukan aku. Lagian yang masuk neraka itu suami dzolim dan Ibu yang menyakiti perasaan anak. Aku bersabar dan Allah kasi pahala. Bukankah pahala besar buat orang bersabar. Mas Langit, aku sangat mencintaimu namun begimi caramu membalas cintaku. Tak apa inilah cara Tuhan memberi pahala untukku dan dosa buat keluarga mu termasuk dirimu yang abai padaku," ucap Tari, dia tersenyum lagi. Kemudian dia berlari kearah cahaya.
"Tari ... Tari ...." panggilku. Namun dia pergi.
"Langit...Langit...." Aku mengerjab dan sudah ada Ibu dan dua adikku disana. Aku tersentak kaget dan secara cepat aku bangun.
"Ibu. Mira dan Intan. Ngapain kalian dikamarku!" kataku ketus.
"Langit, kamu mimpi ya. Kamu gak perlu mikirin Tari, anggap aja dia udah mati," kata Ibu tanpa perasaan.
"Apa maksud Ibu bicara begitu. Ibu senang dia mati?" tanyaku dengan kesal. Wajah Ibu dan kedua adikku tampak pias.
"Tapi dia memang udah hilang, Mas. Anggaplah dia udah gak ada dan buat apa menyiksa diri untuk perempuan mandul kayak Tari." Mira menimpali, aku merasa bagai dihantam balok kayu. Keinginan mereka terwujud memisahkan suami dari istri.
"Langit, udahlah sekarang kamu pikirkan masa depan kamu. Viviane mau berkenalan sama kamu dan kesempatan bagus sayang. Dia kaya dan kita gak perlu lagi hidup susah," ucap Ibu dengan enteng. Aku merasa kepalaku berputar, Ibu selalu menuntut aku menceraikan Tari apa dengan alasan mencari mantu baru yang kaya. Dimana pikirannya.
"Masa depan aku hanya Mentari, Bu. Aku akan cari dia karena aku yakin dia masih hidup dan asal Ibu tahu. Kata Tari kalaupun dia meninggal kita semua masuk neraka karena sudah dzalim sama dia," kataku ketus, wajah Ibu seketika pias.
"Sembarangan memang dia Ibu apakan. Dia itu pemalas dan Ibu membantunya bekerja. Kamu tahu kalau dia numpang dan masih aja malas." Ibu membela diri.
"Mengapa Ibu lempar batu sembunyi tangan. Bukankah kalian bertiga yang pemalas. Lihat rumah kita bagai kapal pecah. Pokoknya Ibu sekarang gak perlu ngatur hidupku lagi," ucapku sambil bangun. Aku bergegas mengambil obat yang diberi ibu. Akan kutanyakan ke apotek obat apa itu sesungguhnya. Bila mereka dalang Tari mandul maka aku tak akan merasa simpati lagi pada mereka.
Aku sama sekali tidak sangka dengan sikap ibu kepada istriku. Apa yang aku saksikan sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan selama ini. Hatiku merasa perih ketika mentari tidak ada lagi disisiku Ke mana aku harus mencarinya.
Mentari, tahukah kamu kalau Mas itu rindu. Kenapa kamu tega menghukum Mas Kayak gini. Pulanglah Tari. Kita bicarakan bersama. Pasti ada solusi dan Mas menyesal. Mas mencintai kamu. Jangan menghukum Mas Kayak gini, Tari. Pulanglah. Aku berbicara sendiri pada diriku. Tak sangka hatiku bisa sepilu ini di tinggal Mentari.
Bersambung.