"Sudah kubilang aku tidak peduli. Pergilah dan pulanglah sesukamu. Kau akan menjadi istriku jika di hadapan ibu." "Padahal semalam nggak ada ibu, tapi aku tetep istrimu kan semalam?" Nur tersenyum. Bukan, bukan senyum polos. Lebih tepatnya senyum penuh kemenangan. Dia dapat melihat dengan jelas ketika saat itu Deva terlihat menelan ludahnya. Laki-laki itu hanya bisa garuk-garuk kepala. Dia salah tingkah, tapi tetap memasang wajah sombong. Dia tidak menjawab apa-apa. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya. Kemudian segera keluar dari kamar dan menuju ke depan untuk menemui Deo yang sudah berada di depan. Nur tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Nggak apa-apa. Aku akan mengikuti permainanmu, Deva. Mungkin kata-katamu dan sikapmu menyakitkan, tetapi aku yakin, suatu saat nanti, Al

