Dimas terduduk di sisi ranjang. Semenjak kedatangannya di Belanda, cowok itu terus memikirkan keadaan Febri. Dimas menutupi kedua wajahnya dengan telapak tangan. Matanya memandang ke meja belajar. Beberapa tumpukan amplop cokelat membuat hatinya teriris perih. Semua ketakutan Dimas sudah tertuang rapi di dalam amplop berstempel resmi. Setiap malam Dimas menghabiskan waktunya di rooftop. Memandang milyaran bintang seakan meminta kesaksian bagaimana keadaan cewek itu. Langit akan tetap terlihat sama walau terpisahkan oleh benua. Dan di sinilah Dimas memejamkan matanya, merasakan terpaan angin yang membawa setiap butir memori untuk dikenang. “Loh? Bukannya lo habis jatuh ya?” Muka Dimas berubah menjadi khawatir. Febri dibuat bingung olehnya. “Gue? Jatuh? Jatuh dari mana coba?” Dimas m

