Day (7)

1006 Words
Aneira yang terkejut melihat tingkah Kein yang pergi begitu saja meninggalkan adiknya seorang diri dibalik dinding. Fairel yang sama terkejutnya dengan Aneira hanya bisa menghembus nafas berat. Temannya itu tidak berubah, pantas saja Divandra begitu mudah marah kepada Kein. "Di naik" panggil Aneira kepada Divandra yang sedang menunggu aba aba darinya, beberapa menit kemudian Aneira dan Fairel melihat puncak kepala dari Divandra. Ekspresi Divandra hampir sama dengan ekspresi yang Aneira keluarkan tadi "An, ini gimana gue turun" Divandra benar benar berbicara dengan nada ketakutan. Aneira melihat bahwa Fairel kembali melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan untuk Aneira tadi, Fairel menyuruh Aneira memberi aba aba persis seperti sebelumnya. "Lo, turunin satu kaki lo, jadiin pundak kak Fairel jadi pijakan lo gue yang akan ngebantu lo turun" jelas Aneira membuat Divandra mengerti dan mencoba melakukan hal yang diperintahkan oleh Aneira. Beberapa saat kemudian, Divandra berhasil mendarat dengan sempurna tak ada insiden seperti yang terjadi kepada Aneira. Sesampainya di bawah, satu hal yang membuat Divandra heran "Kein mana?" "Kabur" ujar Fairel yang membuat Divandra menganga tak percaya, kakak laki lakinya benar benar meninggalkannya. "Kein" pekik Divandra tertahan karena tak ingin suaranya terdengar membuatnya ketahuan. "Gue balik ke kelas dulu" Fairel lalu beranjak pergi menuju ke kelasnya. "Kak Fairel makasih" Divandra tak melupakan rasa terimakasihnya kepada Fairel yang sudah menolongnya. Fairel berbalik mendengar ucapan terimakasih Divandra dan tersenyum sebagai balasan dari ucapan seorang Divandra. Tapi Fairel benar benar tidak tahu dampak dari senyuman yang ia berikan kepada Divandra. "ANE bmpph" Aneira seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sudah bersiap untuk menutup mulut Divandra dengan tangannya dan ternyata dugaannya benar Divandra benar benar berteriak kesenangan karena senyuman seorang Fairel kepadanya, dengan cepat bisa merubah mood Divandra menjadi baik malah jauh lebih baik dari sebelumnya. "Lepas Ne" ujar Divandra tak jelas karena tangan Aneira yang masih menutup mulutnya "Janji ke gue kalau lo nggak bakalan teriak" ancam Aneira "Iya gue janji" Aneira melepaskan tangannya memang benar Divandra menepati janjinya untuk tidak berteriak tapi lihatlah ekspresi dia saat ini benar benar seperti orang gila yang tersenyum tak jelas. Aneira dengan cepat menarik tangan Divandra menuju kelas mereka, sebelum jam pelajaran olahraga selesai. *** Sudah dua jam pelajaran berlangsung tapi Divandra tak henti hentinya mengembangkan senyumannya, Divandra ters mengingat senyuman Fairel yang mampu membius hatinya bahkan jiwanya. "Ne, kak Fairel ne dia senyum ke gue" sejak tadi kalimat itu tak berhenti di ucapkan oleh Divandra, bahkan Aneira sudah hafal setiap kata dan nada yang Divandra gunakan. Divandra menahan dagunya dengan salah satu tangannya, memandang keluar jendela mengingat kejadian dramatis yang membuatnya bisa mendapatkan senyum dari Fairel, mengingat hal itu senyuman tak bisa berhenti tanpa sengaja Divandra mengeluarkan suaranya saking bahagianya, tapi tentu saja dirinya tak sadar. Suara dari Divandra ternyata di dengar oleh seluruh siswa di kelas termasuk guru yang sedang mengajar, Aneira yang sadar bahwa Divandra benar benar tak tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian seketika mencoba menggooyangkan tubuh Divandra "di, sadar di pak guru ngeliatin lo" tapi yang dipanggil tetap saja tak menghiraukan. Aneira kembali duduk tenang saat ia melihat pak guru berjalan ke arah meja mereka. "Divandra" panggil pak guru tak ada jawaban dari Divandra Pak guru kembali mengulangi panggilannya "Divandra" "Iya ada apa kak?" semua yang ada di kelas terkejut dengan apa yang dikatakan Divandra "Kak?' tanya pak guru "Makasih kak" ucapan Divandra semakin melantur kemana mana menandakan bahwa jiwa Divandra benar benar tak ada di kelasnya membuat pak guru marah. BRAKKK Divandra yang terkejut akan gebrakan meja itu akhirnya tersadar, Divandra terkejut melihat pak guru sudah ada di depannya. "Eh Bapak" "Silahkan kamu keluar dari kelas ini" perintah Pak Guru sedangkan Divandra tidak mengerti apa yang sedang terjadi . Divandra mencoba bertanya kepada Aneira tapi Aneira hanya menggeleng. "Tapi pak, apa salah saya" pertanyaan Divandra malah mendapat teriakan dari pak guru yang terkenal disiplin itu. "Kamu pikir saya tahu, pergi keluar" Divandra lalu berjalan ke luar dengan langkah gontai, masih bertanya tanya tentang apa yang sedang terjadi. bunyi bel tanda istirahat berbunyi Nayra segera menghampiri divandra anaira tidak habis pikir Bagaimana bisa divandra saat sedang dihukum ia malah memilih ke kantin bukannya menunggu sampai jam pelajaran selesai ane ra tau dari pesan yang dikirimkan divandra kepadanya gue di kantin lo nyusul aja kemudian berlari menuju ke kantin untuk melihat kondisi temannya itu apakah sudah kembali normal atau masih gila seperti tadi Anira bertanya-tanya sebesar itu kah efek efek Farel kepada seorang devandra hanya dengan senyumannya saja mampu membuat divandra lupa akan apa yang sedang terjadi. Aneira mencoba mencari sosok divandra di setiap sudut kantin yang entah kenapa sangat ramai Padahal bel baru berbunyi tapi sudah seramai ini sebuah lambaian tangan ku lihat dari jauh ane yakin kalau itu adalah divandra segera ia menuju tempat duduk di mana divandra berada. Aneira bisa melihat bahwa Divandra telah menghabiskan 2 mangkok bakso dan 1 piring nasi goreng. "gila loh, ini semua lo yang ngabisin sebanyak ini?" pertanyaan Aneira sungguh tak berbobot pertanyaan yang ia sendir tahu akan jawbannya. "Iya" Divandra mengangguk cepat bagai seseroang yang tak bersalah "habisnya senyuman Kak Fairel buat gue jadi lapar nih gue juga heran" Aneira merasa takjub melihat temannya itu sebegitu besarnya efek Kak Fairel kepada Divandra. "Lo benaran udah nggak waras Di, gimana bisa lo nggak sadar diri" Kali ini gantian Divandra yang berdecak sebal "Lo nggak lihat gimana Cakepnya Kak Fairel gimana mungkin gue nggak terpesona melihat ketampanan dia" ujar Divandra begitu semangat. "Ckckck lo emang udah dibutakan oleh ketampanan kak Fairel" Aneira masih merasa aneh kepada temannya itu "Lo nggak tau aja Ne, kak Fairel itu orangnya sempurna" Plak Aneira memukul Divandra dengan roti yang sempat ia beli tadi "Nggak ada manusia yang sempurna apalagi kak Fairel" Divandra tak juga mau kalah berdebat dengan Aneira "Gue nggak bilang dia sempurna tapi mendekati kan bisa aja, lo mau apa?" Divandra malah menantang Aneira. "Benar kata orang ketika seseorang udah bucin di tingkat maksimal gimana pun kata temen lo, lo nggak baka ngedengerin ternyata gue baru ketemu fakta yang nyata selama 17 tahun gue hidup" ujar Aneira sebagai penutup perdebatannya dengan Divandra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD