Day (6)

1022 Words
Kein, dan Aneira mengikuti apa yang disarankan oleh Divandra. Kein baru menyadari adiknya benar benar gila “Lo yakin dengan ide ini” Divandra berdecak sebal sudah berapa kali kakaknya menanyakan hal yang sama kepada dirinya “Lo kalau nggak berani nggak usah” Akhirnya Kein menuruti perkataan adiknya itu, Aneira yang semenjak tadi diam hanya mendengarkan pertengkaran kakak dan adik ini. “Udah lo hubungi belum temen lu?” tanya divandra memastikan bahwa Kein benar benar menghubungi temannya. “Udah” jawab Kein sembari mengikuti adiknya menuju gerbang belakang, karena menurut Divandra ia sering melihat anak anak yang terlambat naik lewat gerbang ini dan berhasil, tapi terkadang memang ada guru yang menjaganya maka dari itu Divandra menyuruh Kein menghubungi temannya untuk melihat situasi dan kondisi di dalam. *** Tembok tinggi yang ada dihadapan mereka seketika membuat nyali Divandra dan Aneira ciut, bagaimana seorang perempuan bisa memanjat setinggi itu. “Duh Di, gimana ni gue nggak bisa kalau setinggi itu” Aneira mengeluh kepada Divandra membuat Divandra semakin pusing karena tidak tahu harus melakukan apa. Ia mencoba mencari tangga di sekitar, pasti anak anak yang terlambat menyimpan tangga mereka agar tak ketahuan. “Lo dan lo kak Kein, bantu gue cari tangga gue yakin ada tangga di sekitar sini” Ujar Divandra memerintahkan Kein dan Aneira “Mana ada tangga” jawaban Kein membuat Divandra membesarkan bola matanya kepada Kein, Akhirnya mereka mencari tangga bersama sama. Beberapa menit kemudian suara Aneira terdengar “Ini tangganya ketemu” Dan itu membuat Kein takjub benar kata adiknya bahwa akan ada tangga “Lo emang hebat Di, bangga gue jadi kakak lo” “Bacot” lalu Divandra memerintahkan Kein untuk mengambil tangga yang ditemukan oleh Aneira. Tangga itu Kein letakkan tepat di mana mereka akan naik. Sebelumnya Divandra kembali memastikan bahwa temannya Kein sudah berada di bawah sana “Teman lo, udah datang?” “Tunggu bentar, gue telfon dulu” lalu Kein mendial kontak atas nama Fairel. Halo Rel Iya, gue udah stand by. Oke gue mau naik. Divandra ternganga mendengar siapa yang di telfon Kein. “Jangan bilang lo nelfon kak Fairel?” tanya Divandra memastikan Tanpa merasa bersalah Kein mengangguk santai PLETAK “AWWW” teriak Kein kesakitan Kein benar benar tak mengerti mengapa Divandra tiba tiba memukul kepalanya “Lo apaan sih?” "Gue bilang hubungi teman lo, bukan kak Fairel" "Lo lupa Fairel kan temen gue" "Ya tapi nggak harus kak Fairel, mau ditaruh dimana muka gue di depan kak Fairel" "Ya muka lo nggak taro dimana mana" Kein merasa jengkel dengan adiknya ini kenapa disaat seperti ini harus memikirkan imagenya di depan Fairel. Aneira benar benar lelah dengan pertengkaran kedua kakak beradik ini yang tak berhenti sejak tadi akhirnya Aneira membuka suara agar kedua kakak beradik ini berhenti. "Ssttt nanti kita ketahuan" kedua kakak beradik ini akhirnya menghentikan pertengkaran mereka, membenarkan apa yang dikatakan Aneira. "Maaf ya Neir" Ujar Kein menampakkan senyuman yang membuat Divandra geli. "Kein, lo duluan naik" Perintah Divandra kepada Kein, Kein yang tak terima bahwa dirinya harus jadi bahan percobaan. Segera menolak perintah Divandra. Divandra menahan kesalnya tak habis pikir dengan kelakuan Kein, seharusnya Kein menunjukkan bahwa dirinya adalah lelaki sejati. "Kein" "Di" Aneira yakin pertengkaran akan kembali terjadi, akhirnya ia mengajukan dirinya untuk naik pertama kali "Gue aja Di" "Tapi Ne" Divandra merasa tak enak "Nggak apa apa" Aneira mencoba meniti tangga yang bersandar ke dinding, sebenarnya hal itu adalah hal yang menakutkan bagi Aneira karena ini pertama kalinya dirinya memanjat setinggi itu. Aneira menaiki tangga satu per satu dengan perlahan, agar dirinya bisa menjaga keseimbangannya. dan setelah beberapa menit akhirnya Aneira sampai di tangga paling atas yang berarti menandakan bahwa Aneira sudah mencapai dinding tembok paling atas. "Ne, lihat disana ada orang nggak?" tanya Divandra dari bawah dengan cepat Aneira naik sedikit lagi agar bisa melihat apakah ada orang yang menunggunya disana dan benar ia bisa melihat Fairel sedang menunggu kedatangan mereka. "Lo lihat Fairel nggak Nei?" tanya Kein kali ini karena sebelumnya tak mendapat jawaban dari Aneira "Iya ada kak" jawab Aneira cepat, sekarang dirinya sedang berfikir apa yang harus ia lakukan agar bisa turun ke bawah, karena sama tinggi dengan sebelumnya. "Kak, ini gimana cara turunnya?" tanya Aneira ke Fairel yang sedang menunggunya di bawah. Aneira lihat bahwa Fairel sedang ikut berfikir sama sepertinya. Aneira bisa melihat bahwa Fairel merapatkan dirinya ke dinding. "Lo turun pelan pelan, jadiin pundak gue sebagai pijakan" saran Fairel kepada Aneira, bukannya malah menyetujui saran Fairel Aneira malah semakin takut "Tapi kak" "Tenang ada gue" ucapan Fairel seperti memberikan kekuatan kepada Aneira agar mempercayai Fairel seutuhnya. Aneira mencoba menurunkan satu kakinya "Jangan ngintip kak" peringat Aneira. Saat ia menurunkan kakinya benar saja kakinya bisa langsung menyentuh pundak Fairel, kemudian Fairel mengulurkan tangannya agar menjadi pegangan bagi Aneira tapi Aneira malah kehilangan keseimbangannya membuat tubuhnya ling lung dan tiba tiba terjatuh, Aneira bersiap bersiap untuk merasakan kerasnya permukaan tanah yang pasti akan membuat tulang tulangnya patah. tapi beberapa detik tak juga Aneira rasakan kemudian ia memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan. Dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah manik mata seseorang yang baru pertama kali ia lihat sedekat ini. "Ane udah turun belum" panggil Divandra dari balik dinding, membuatku tersadar bahwa posisi ku sedang dalam keadaan yang tidak menguntungkan, Fairel segera menurunkanku dan mencoba menetralisir rasa gugupnya dengan berdehem "Ehem" Aneira yang juga tidak tahu akan apa yang harus ia lakukan akhirnya meminta maaf kepada Fairel "Maaf ya kak, dan terimakasih udah ngebantu gue" Aneira bisa melihat bahwa baju Fairel sedikit kotor akibat sepatu yang ia pakai "Ehm kak.." ucapan Aneira terhenti saat melihat Kein sudah berada di tembok bagian atas. "Woi Rel, amankan?" tanya Kein memastikan kondisi "Aman bro" Fairel mengangkat jempolnya sebagai bentuk pemberitahuan kepada Kein. HAP Kein meloncat dari atas tembok dengan cepat, membuat Aneira terkagum melihatnya semudah itu Kein melompat sedangkan Aneira sangat sulit sehingga mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Kemudian Kein membersihkan punggung tangannya yang kotor akibat pendaratannya, tapi tiba tiba ia melangkah pergi meninggalkan kami berdua. "Kak Kein" panggil Aneira Kein berbalik menghadap Aneira dan Fairel "Apa?" tanyanya "Divandra?" tanya Fairel kepada Kein. Tapi Kein kembali berbalik melanjutkan langkahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD