Day (5)

1015 Words
Suara alarm memenuhi ruangan kamar berukuran besar ini ditambah dengan ketukan yang terus terdengar dari luar kamarnya. Membuat Fairel menutup telinganya dengan bantal yang ada di sekitarnya. “Siapa sih berisik banget” kesal Fairel karena suara itu semakin lama semakin terdengar jelas. “Kak Failel bangun kak” suara seorang anak kecil memanggil Fairel dari balik pintu membuat Fairel mau tak mau harus beranjak dari tempat tidurnya. Fairel melangkah malas menuju pintu lalu membukanya, saat pintu terbuka ia bisa melihat adik perempuan semata wayangnya sudah berpakaian rapi bersiap siap berangkat ke sekolah. Fairel mensejajarkan tubuhnya dengan adiknya yang bernama Fini “Ada apa Fini?” tanya Fairel lembut “Kata mama Fini disuluh bangunin kakak, takut kakak telat nanti” ujar Fini dengan nada cadelnya membuat Fairel menggeram gemas. Fairel mengusap rambut adiknya pelan takut merusak tatanan rambut adiknya yang sudah rapi “Oke bos, Fini mau berangkat sama kakak ke sekolah?” Dengan semangat Fini mengangguk dan berlari menuju lantai 1 karena begitu bahagianya bisa diantar oleh kakaknya. Fairel tertawa mendengar teriakan senang Fini “Mama aku diantar Kak Fairel yey” Fairel menutup pintu lalu bersiap siap untuk mandi agar bisa tepat waktu sampai di sekolah. *** “Fini nanti pulangnya mama yang jemput ya” ujar Mama kepada Fini yang sedang memakai sepatunya bersiap akan pergi sekolah bersama Fairel. Fairel yang setia menunggu Fini sambil memanaskan mobilnya. Kemudian ia tersenyum saat Fini masuk ke dalam mobilnya “Halo Fini” sapa Fairel gemas kepada Fini “Fairel, jangan ngebut ngebut ya” nasehat mamanya kepada Fairel “Oke Ma, yaudah Ma Fairel berangkat dulu” pamit Fairel lalu dibalas oleh lambaian tangan dari mamanya. “Dadah mama” *** Sepanjang perjalanan Fini bertanya berbagai hal kepada Fairel, Fairel dengan sabar menjawab pertanyaan dari Fini wajar saja anak umur 5 tahun masih suka bertanya mengenai hal yang jarang dilihatnya. “Kak, kalau Fini udah bosan sekolah di sekolah Fini sekarang boleh pindah ke sekolah kakak Failel nggak?” tanya Fini polos, kepolosan Fini membuat Fairel mau tidak mau mencubit pipinya gemas. “Nggak boleh Fini, Fini harus masuk SD dulu, baru SMP, dan barulah Fini bisa masuk sekolah kakak” Fairel dengan perlahan menjelaskan. “Oh begitu, ya sayang banget padahl Fini pengen ketemu kak Failel terus” “Kan dirumah ketemu terus” ujar Fairel tak lama mereka sampai di depan gerbang sekolah Fini, TK Kinder Garden. Fini turun dari mobil yang langsung di sambut oleh satpam yang berjaga “Kak Fini berangkat dulu ya, dadah” Fairel menurunkan kaca mobilnya untuk membalas lambaian tangan Fini “Dadah Fini cantik” Saat dirasa Fini sudah masuk kedalam, Fairel melajukan mobilnya menuju sekolahnya yang bernama CAIS. *** “Sial” berulang kali Aneira mengutuki dirinya yang terlambat bangun karena lupa menangktifkan alarm hpnya. Menyebabkan dirinya harus bangun pukul 06.50 sepuluh menit sebelum bel berbunyi. Aneira terus berharap bahwa hari ini ia tak akan dihadang oleh kemacetan agar ia bisa sampai di sekolah tepat waktu. Walaupun itu mustahil tapi Aneira harus mencobanya. *** Bel berbunyi menandakan bahwa sudah waktunya masuk, dan pada saat itulah mobil Aneira lewat di depan gerbang yang sudah setengah tertutup, membuatnya harus turun dan memohon kepada satpam agar membiarkan dirinya masuk. “Pak, maaf saya terlambat izinin saya masuk satu kali ini aja” Aneira memohon kepada pak satpam dengan nada memelas. “Maaf mbak nggak bisa peraturan ya peraturan” lalu Satpam itu menutup pintu pagar seluruhnya membuat Aneira kembali mengumpati dirinya “Sial” “Pak, saya mohon bukakan pintunya sekali aja” Aneira masih mencoba memohon membukakan pintu kepada pak satpam yang ia yakini pasti masih mendengar teriakannya. Aneira tak boleh patah semangat, ia harus berjuang walaupun apapun yang terjadi. *** “KALAU GUE SAMPAI TERLAMBAT INI GARA GARA LO KEIN” Teriak Divandra mengalahkan suara mobil yang dikemudikan oleh Kein, seperti halnya Aneira, Kein juga terlambat bangun menyebabkan Divandra harus menahan amarahnya walaupun dapat dilihat faktanya ia tak sedikitpun menahan amarah kepada Kein. “WOI DI, SABAR DIKIT NAMANYA JUGA KETIDURAN” Kein tak mau kalah ia pun ikut berteriak. Selama perjalanan mereka hanya berbalas saling teriak, jika saja mereka ada di atas motor mungkin suara mereka bisa terdengar oleh setiap pengendara yang lewat, tapi untunglah mereka di mobil jadi tak perlu ada yang mendengarnya selain mereka berdua, masih saja ada untungnya. “KEIN BURUAN” “KEIN LO BISA BAWA MOBIL NGGAK” “DI LO BISA DIEM NGGAK” “KEIN GAS AJA” “GAS GAS, LO PIKIR GAS ELPIJI” “BACITT LU” Perdebatan mereka terhenti saat melihat gerbang sekolah sudah tertutup rapat, Divandra kembali berteriak kesal kepada Kein “INI SEMUA GARA GARA LO KEIN” Kein yang sudah lelah karena ikut berteriak hanya diam saja sambil menutup telinganya yang sebentar lagi akan kehilangan indera pendengarannya. “Terus ini gimana Kein?” tanya Divandra pasrah Kein yang mencoba mencari cara bagaimana ia bisa masuk, tak sengaja melihat Aneira teman adiknya sedang berdiri di dekat gerbang. “Di, itu teman lo nggak?” tanya Kein kepada Divandra “MANA? MANA TEMEN GUE” “Di, berhenti teriak capek tenggorokan gue dengar lo teriak” Kein menunjuk Aneira dengan jarinya “Itu teman baru lo kan, siapa namanya?” “ANEIRA” Lagi dan lagi Divandra kembali berteriak membuat Kein yang semula menyesel mendekatkan telinganya dengan bibir Divandra. Tanpa merasa bersalah Divandra langsung turun menuju Aneira meninggalkan Kein sendirian. “Nasib gue ditinggal mulu” Akhirnya Kein memutuskan untuk menyusuk Divandra yang berlari bagaikan seorang anak kecil mengejar ibunya. Kein benar benar heran, energi Divandra begitu besar, bagaimana ia bisa berlarian dengan semangat seperti itu setelah sepanjang perjalanan berteriak teriak tak jelas. *** "Aneira" panggil Divandra membuat Aneira yang merasa terpanggil menoleh ke sumber suara. Aneira tersenyum saat melihat bahwa Divandra lah yang memanggilnya. "Lo terlambat juga?' tanya Divandra Aneira mengangguk mengiyakan. "Ini semua gara gara Kein" tanpa ditanya divandra menjelaskan kenapa dirinya terlambat, Divandra menyalahkan kakaknya atas semua yang terjadi pada dirinya. "Lalu apa yang harus kita lakukan Di?" "Gue ada ide" ujar Divandra lalu membisikkan sesuatu kepada Aneira ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD