Day (4)

1002 Words
Fairel memutuskan untuk membaringkan tubuhnya beberapa menit karena rasa kantuk yang tertahankan sehabis mandi, tapi perutnya juga sudah memberontak untuk meminta jatah makan malamnya. “Lebih baik gue tidur dulu” Fairel akhirnya membaringkan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size, tentu saja untuk ukuran badan Fairel sangatlah besar bahkan terkesan mubadzir, tapi mau bagaimana lagi uang Fairel sudah sangat banyak tak tahu kemana harus dibelanjakan, jadi lebih baik untuk kenyamanan diri uangnya digunakan. Fairel tak berbohong, hanya dalam beberapa menit ia sudah tertidur lelap. *** Tok Tok Suara ketukan pintu dari luar membangunkan Fairel, ia segera meraih ponselnya untuk mengetahui pukul berapa sekarang, dengan mata yang masih menyipit menyesuaikan cahaya ia meraba raba meja dimana ia meletakkan ponselnya. Sebelum dirinya mendapat ponselnya ia mendengar kembali suara dari Mbok Astri. "Den, makanannya sudah siap” “Iya Mbok, bentar” setelah mengatakan itu barulah Fairel mendapatkan ponselnya. Fairel terkejut melihat jam yang ada di layar ponselnya. “Pukul 22.00” ujarnya lalu segera beranjak turun dari tempat tidurnya menuju pintu kamarnya, menekan ganggangnya dan saat membuka pintu ia bisa melihat Mbok Astri setia menunggunya. “Loh, mbok masih disini?” “Iya, kan mbok nungguin aden, ayok den makanannya nanti keburu dingin” Kemudian Fairel mengikuti langkah mbok astir, mbok Astri adalah pembantu Fairel sejak Fairel kecil, Mbok Astrilah yang selalu menemani Fairel makan ketika mama dan papa belum pulang atau bahkan sedang pergi. Mbok Astri sudah Fairel anggap sebagai nenenknya sendiri karena umur Mbok Astri yang hanya berbeda beberapa tahun dengan neneknya. *** Fairel sampai di meja makan yang sangat mewah, meja makan yang berkapasitas enam orang ini sekarang hanya terisi olehnya. Terkadang Fairel benci dengan suasana sepi ini tapi mau bagaimana lagi orang tuanya memiliki kesibukan masing masing. Fairel bukanlah tipe anak manja yang harus selalu diperhatikan sebab sejak kecil ia sudah diajarkan untuk mandiri apalagi dalam menghadapi masalah Fairel sudah sangat terlatih. “Loh Den, kok diam aja sok dimakan” Mbok Astri menyuruh Fairel untuk segera makan karena hari sudah larut malam. “Mbok, temenin” Ujar Fairel kepada Mbok Astri seperti biasa Mbok Astri selalu menuruti keinginan Fairel tak pernah bisa ia menolak apa yang dikatakan Fairel, karena menurut Mbok Astri Fairel adalah anak yang baik ia sangat menghargai siapapun itu walaupun hanya sekedar pembantunya. “Den mangkanya cari pacar biar ada yang temenin” goda Mbok Astri kepada Fairel “Yaudah deh Mbok aja jadi pacar aku gimana?” Fairel malah kembali menggoda Mbok Astri “Kalau nggak ingat umur saya juga mau Den, orang ganteng gini baik pula siapa yang nggak mau” Fairel yang mendengar ocehan Mbok Astri hanya tertawa, walapun hanya mbok Astri yang menemaninya itu sudah cukup bagi Fairel. *** Kein sampai di rumahnya, memarkiran mobilnya di tempat biasa ia meletakkan mobilnya. Sebelum memasuki rumah ia sudah menyiapkan diri untuk mendapat omelan dari ibunya. Kein melangkah perlahan ia mencoba membaca situasi meneliti dimana keberadaan ibunya agar ia bisa masuk kamar dengan tenang. “Dikit lagi, gue sampai kamar” bisik Kein sambil mengendap ngendap bagaikan seorang maling. Divandra yang berjalan menuju kamarnya terkejut melihat Kein mengendap ngendap, timbullah niat jahil untuk mengerjai kakaknya itu “MALING MALING” teriaknya keras yang membuat Kein ikut terkejut “Mana malingnya Di, biar abang pukul” Kein memasang kuda kudanya bersikap siaga jika maling itu tiba tiba memukulnya. Kemudian mama Kein turun dari tangga, ikut panic mendengar teriakan Divandra “Di, mana malingnya?” “Iya Di, abang tunggu nggak datang datang” Divandra mendekati Kein lalu memukul kepalanya dengan gulungan kertas yang ntah ia dapat dari mana “Lo malingnya b**o” Seketika Kein tersadar bahwa dirinya sedang menjadi bahan kejahilan Divandra “Dasar Lo….” Perkataan Kein terhenti saat ia mendengar suara mamanya sedang memanggilnya “Kein” Kein tertunduk jika sudah seperti ini ia akan takut tak berani menatap mamanya “Iya ma” Mamanya kemudian mendekati Kein lalu berhenti setelah beberapa langkah dari Kein “Dari mana kamu?” Bukannya Kein yang menjawab malah Divandra “Itu ma kak Kein habis kumpul sama gengnya” ucapan Divandra membuat Mamanya menatap kearah Divandra “Mama sedang bertanya kepada Kein” Kein yang mendengar hal itu, langsung melirik ke arah Divandra “Mampus lo” ujar Kein tanpa suara. Membuat Divandra kesal setengah mati melihat wajah Kein yang sangat menjengkelkan. “Kein, mama tanya kamu darimana?” ulang mama Kein sekali lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Kein. “Kumpul ma sama temen” jawab Kein memang benar ia berkumpul dengan temannya tapi ia tak menyebutkan dimana tempatnya berkumpul ia tak mau mamanya memarahinya karena menghabiskan waktu di gedung itu. “Dimana?” “Café ma” jawab Kein cepat agar tak menimbulkan kecurigaan. “Oke, lain kali jangan pulang malam lagi” nasehat mama kepada Kein, lalu Kein beranjak dari hadapan mamanya menuju kamarnya, tapi sebelum itu ia sempatkan untuk melihat Divandra yang sedang menertawakannya, dasar adik kurang ajar. *** Kali ini giliran Aneira yang sampai di apartmentnya, setelah pertemuannya dengan orang itu ia memutuskan untuk kembali ke apartmentnya. Apartment Aneira merupakan salah satu apartment mewah dengan fasilitas super lengkap, tentu saja apartment ini atas nama Aneira yang diberikan oleh seseorang yang sangat Ia sayangi. Aneira sampai di depan pintu apartmentnya menekan sandi apartmentnya yang hanya dirinya yang tahu. Bunyi klik terdengar menandakan pintu terbuka. Aneira membuka sepatunya lalu meletakkan di tempat yang seharusnya. Segera ia menuju dapur untuk mengambil segelas air, tubuhnya terasa kekurangan cairan. Aneira meneguknya perlahan lalu duduk di kursi yang ada di dapur. Apartment ini sangat sepi hanya ada Aneira, sudah biasa bagi Aneira menghadapi situasi seperti ini. Aneira menumpukan kepalanya di atas meja yang ada di hadapannya ia menghela nafas kasar, pikirannya kembali mengingat akan apa yang ia temui hari ini. Begitu banyak kejutan yang terjadi hari ini dan hari hari berikutnya ia harus menyiapkan diri menghadapinya. “Kein” “Divandra” Dan “Fairel” Masih kurang satu, aku harus segera mengetahui keberadaannya. Masih banyak misi yang harus ia lakukan demi terwujudnya hari itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD