“Kak Feirel udah naik sekarang giliran Aneira” ujar Divandra sambil memperhatikan setiap tamu undangan untuk mencari keberadaan Aneira.
Divandra cukup kesulitan mencari keberadaan Aneira karena lampu yang di bagian tamu sengaja dimatikan agar hanya panggung lah yang menjadi sorotan.
“Ayo Aneira disilahkan ntuk naik ke atas panggung” kali ini giliran MC yang memanggil nama Aneira
Tapi si pemilik nama hanya berdiam diri tak bergeming di sisi kiri panggung untung saja Aneira berada di tempat yang sangat gelap sehingga membuatnya sulit untuk ditemukan.
Aneira berusaha sebisa mungkin untuk tidak naik ke atas panggung karena dirinya belum siap menghadapi Fairel padahal ia sudah meyakinkan dirinya berulang kali tapi tetap saja saat Aneira melihat Fairel berjalan naik ke atas panggung dan berdiri dengan tenang di sana membuat perasaan Aneira merasakan sedikit rasa sakit yang sangat sulit ia sembunyikan. Fairel terlihat baik baik saja setelah bertemu perempuan itu, tak ada sedikitpun keinginan Fairel untuk mencari keberadaannya setelah ia pergi mencari kotak P3K untuknya tapi tak juga kembali seharusnya Fairel merasa penasaran akan apa yang terjadi dengan Aneira tapi ini tidak. Aneira menatap dirinya kasihan kakinya terluka karena kebodohannya dan sekarang hatinya ikut terluka padahal seharusnya ia tak boleh sedikitpun merasakan perasaan itu kepada target dari misinya, misi balas dendamnya.
Ya, Fairel adalah targer balas dendam dari seorang Aneira. Aneira berencana ingin menghancurkan Feirel seperti Feirel menghancurkan keluarga dan hidupnya.
Tapi hanya dengan pertolongan kecil Feirel tiba tiba perasaannya berubah 180 derajat, membuatnya mengutuki dirinya sendiri.
“Aneira Aneira” semuanya memanggil Aneira tapi tak juga Aneira bergerak untuk melangkah ke depan, tapi suatu yang tidak Aneira duga tiba tiba terjadi seseorang yang berada di sampingnya malah meneriaki nama Aneira
“Ini Aneira di sini” teriakan itu sangat keras membuat semua orang yang ada di ruangan ini menatap kepadanya, Aneira memalingkan wajahnya menghindari tatapan orang orang yang sangat penasaran tentang dirinya.
Sekilas Aneira bisa melihat siapa yang meneriaki namanya adalah salah satu siswa CAIS, bagaimana bisa dia mengenal Aneira padahal Aneira adalah seorang siswa baru.
Aneira benar benar mengumpat di dalam hati tadi awalnya Aneira sudah sangat senang bahwa tak ada orang yang bisa menemukannya tapi lihatlah gara gara ia terlalu percaya diri bahwa tak ada yang menemukannya ia harus menelah kenyataan pahit.
“Aneira sini lo, lo lupa janji lo ke gue” suara Divandra terdengar dari pengeras suara membuat Aneira menelan salivanya karena teringat akan janjinya ke Divandra yang sempat ia lakukan.
Flashback
Aneira dan Divandra sedang berada di ruang tamu milik keluarga Aneira mereka sedang menyiapkan souvenir untuk para tamu yang akan hadir. Di sela sela kesibukan mereka Divandra mengeluarkan suaranya memanggil Aneira.
“Nei”
“Hmm” yang dibalas Aneira dengan deheman karena sedang fokus dengan apa yang ia kerjakan
“Lo inget kan kado yang gue mintak waktu itu?” tanya Divandra memastikan bahwa Aneira tak melupakan kado yang ia minta sebelumnya.
“Nggak, malah udah gue siapi” ujar Aneira santai karena memang kadonya sudah disiapkannya tinggal dibawa saja saat pesta ulang tahun Divandra dilaksanakan.
“Wah terimakasih, tapi gue mau mintak kado yang kedua” Perkataan Divandra membuat Aneira mengalihkan pandangannya kepada Divandra
“Baru kali ini gue nemuin orang ulang tahun mintak kado lebih dari satu” ujar Aneira sambil tertawa
“Apa salahnya dengan sahabat sendiri, sekarang lo mau atau nggak?”
“Emang apa dulu nanti susah nyarinya eh gue udah terlanjur ngeiyain, kek kado lo kemaren susahnya minta ampun nyarinya.” Jelas Aneira panjang lebar menceritakan kesulitannya saat mencari kado untuk Divandra tempo hari.
“Tenang ini lo nggak usah nyari apa apa, lo tinggal naik pas gue panggil”
“Maksud lo?”
“Lo mau apa enggak dulu ni, nanti gue jelasin” Divandra semakin membuat Aneira penasaran akan apa yang harus ia lakukan sebagai kado kedua.
“Gue mau tapi lo jangan macam macam kek mintak gue nyanyi di pesta lo atau sebagainya gue langsung lari saat itu juga” Aneira paling anti jika harus bernyanyi di muka umum padahal menurut Divandra suara Aneira sangat bagus tapi Aneira saja yang tidak percaya diri
“Suara lo itu bagus Nei, kenapa juga lo harus malu” ujar Divandra menyemangati Aneira yang sangat tidak percaya diri itu
Aneira dengan cepat menggeleng “Gue nggak akan mau, siapapun yang nyuruh gue termasuk lo”
Divandra menghela nafas pelan “Iya iya gue nggak akan minta lo nyanyi di pesta gue, tapi lo harus janji ngelakuin ini, gue yakin ini nggak bikin malu maluin lo”
Aneira percaya akan perkataan Divandra bahwa sahabatnya itu tidak akan membuatnya malu “Iya deh gue janji ngelakuin ini sebagai kado kedua gue untuk lo, tapi apa yang harus gue lakuin?”
Divandra sangat senang karena sahabatnya itu mau berjanji kepadanya untuk melakukan apa yang ia inginkan
“Besok pas pemotongan kue, gue bakalan manggil lo untuk maju ke atas panggung”
Kening Aneira berkerut karena tak mengerti apa yang diucapkan Divandra mengapa ia harus maju ke depan saat pemotongan kue.
“Maksud lo apaan?”
Divandra menjelaskan dengan perlahan “Besok kana da sesi suap suapan kue, nah lo akan gue panggil pas di suapan ketiga karena lo adalah sahabat gue mana mungkin gue nggak ngasih suapan spesial buat lo, sampai disini paham maksud gue Aneira cantik?”
Aneira mengangguk akhirnya maksud Divandra dapat dicerna oleh otaknya “Oh begitu, oke oke gue ngerti.”
“Awas aja lo sampai nggak datang ke panggung gue bakar lo hidup hidup”
Flashback End
Aneira mengingat percakapannya dengan Divandra saat itu, seketika ia menyesal mengapa ia berjanji akan hal seperti ini.
“Memang penyesalan selalu datang terakhir jika datang di awal namanya pendaftaran” batin Aneira
Aneira kembali menguatkan dirinya agar tak terlihat menyedihkan jika ia berhadapan dengan Fairel.
Aneira menimbang nimbang apakah ia harus melangkah ke depan atau diam saja, tapi janjinya dan wajah Divandra yang sekarang melihatnya dengan penuh harapan membuatnya harus melakukan apa yang sudah ia janjikan. Masa bodoh dengan perasaannya toh cepat atau lambat semuanya akan baik baik saja, karena seorang Aneira adalah manusia yang bisa mengobati dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
***
Aneira melangkahkan kakinya menuju penggung perlahan tapi pasti, tak bisa ia tutupi rasa gugup yang terus menghinggapinya karena tatapan semua yang ada di ruangan ini hanya tertuju kepadanya. Dan ia sangat benci akan perhatian serta sorotan yang diberikan kepadanya. Itu mengapa Aneira merupakan sosok orang yang berusaha untuk tidak terlibat dengan banyak orang tapi misinya membuatnya harus bisa membuatnya terlibat dengan setiap orang yang akan menjadi targetnya, berkamuflase menjadi orang yang berbeda sehingga bisa memperlancar segala sesuatunya.
"Ini dia Aneira yang sudah sangat kita tunggu tunggu" ujar MC saat Aneira sudah mendekat ke arah panggung
Divandra tersenyum sumringah melihat sahabatnya akhirnya menepati janji yang Aneira buat kepadanya.
Aneira akhirnya sampai di atas panggung decak kagum dari para tamu undangan terdengar di telinga Divandra dan Aneira
"Cantik banget"
"Gila berasa ngeliat bidadari gue"
Aneira yang mendengar pujian itu semakin menundukkan wajahnya ketika ia sudah tepat berada di samping kanan Divandra, Divandra kemudian berbisik "Gue bilang juga apa, lo cantik pake baju ini untung nggak malu maluin gue" ucapan Divandra membuat Aneira mengalihkan pandangannya kepada Divandra agar tak terus menggodanya tapi pandangannya malah bertemu dengan Feirel yang menatapnya dalam diam ntah apa arti tatapan itu hanya Feirel yang tahu.
Tanpa Feirel dan Aneira sadari ada yang sedang menatap mereka lekat lekat sambil tersenyum miring
sambil berkata "Oh Jadi dia"
***