Day (18)

1005 Words
Velix yang sudah tersulut emosi dan tak terima akan perkataan Fairel tiba tiba langsung mendorong Fairel, yang membuat Fairel terdorong kebelakang dengan cepat tangan Fairel memegang tangan Aneira yang ada di belakangnya agar tidak terjatuh karena tubuh Fairel yang tiba tiba terdorong. Fairel memastikan keadaan Aneira baik baik saja "Are u okey?" tanya Fairel yang masih didengar oleh Aneira, Aneira mengangguk dan segera membalas perkataan Fairel "Im Okay" "Maksud lo apaan, ngomong kek gitu?" Velix menatap jalang Fairel, Velix kemudian melangkah mendekati Fairel mempertipis jarak anatar mereka semakin dekat dan mungkin sebentar lagi sebuah bogem mentah akan mendarat ke wajah Fairel, tapi seperti sudah biasa dalam situasi seperti ini Fairel masih saja tenang dan tersenyum. Membuat Velix yang emosi semakin emosi karena disaat seperti ini Fairel masih bersikap tenang dan tersenyum kepadanya. "Dia cewek gue, kurang jelas" ujar Fairel penuh penekanan kali ini bukan senyuman yang ia keluarkan lebih kepada smirk khas milik Fairel. suasana disini semakin membuat Aneira bergidik takut, Aneira takut akan sesuatu yang akan terjadi berikutnya, membuat Aneira yang sangat dekat dengan tubuh Fairel sedikit menarik baju Fairel dengan tangannya yang bebas sebab tangannya yang lain masih di genggaman Fairel. Aneira melakukan itu agar Fairel mengerti bahwa dirinya tak perlu memperpanjang masalah ini. "Kak Fairel udah yuk" bisik Aneira dari belakang. Fairel yang mendengar itu segera memundurkan langkahnya berniat untuk pergi dari pria itu. Tapi tiba tiba sebuah bogem mentah mendarat di sudut bibir Fairel membuat darah segar mengalir di sudut bibirnya, beberapa tamu yang memperhatikan itu berteriak histeris karena kaget karena tindakan Velix yang begitu berani. Fairel dengan cepat menyeka darah di sudut bibirnya, kemudian saat Fairel bersiap melayangkan serangan balik tiba tiba Aneira menahan lengannya yang lain, membuat Fairel mau tak mau melihat ke Aneira. Fairel yang melihat mata Aneira yang sudah berkaca kaca membuatnya mengurungkan niatnya untuk membalas pria di hadapannya itu, barulah sesaat setelah itu para petugas keamanan menarik paksa Velix untuk segera keluar dari gedung acara ini. Fairel dan Aneira masih berdiri dengan posisi yang sama "Kak Fairel nggak apa apa?" tanya Aneira khawatir baru kali ini ada yang melindungi dirinya seperti kakak kandungnya melindunginya dulu. "Gue nggak apa apa Nei" Fairel tersenyum tapi sudut bibirnya kembali merasakan perih membuatnya merintih kesakitan "aww" Aneira yang melihat Fairel yang menahan sakit segera membawa Fairel ke belakang panggung untuk diobati "Ikut gue kak" Fairel mengikuti Aneira dengan pasrah karena Aneira masih setia menarik tangannya, bahkan genggaman tangan mereka tak sedikitpun lepas. Sesampainya di belakang panggung, Aneira menyuruh Fairel duduk di sebuah kursi yang ada di sana "Kak lo tunggu disini ya, biar gue ambil P3K dulu kunci mobil lo mana?" Aneira ingat bahwa di mobil milik Fairel ada sebuah kotak P3K yang tersimpan di dashboard dekat air mineral tadi. Fairel segera menahan tangan Aneira agar tidak pergi "Nggak apa apa Nei, nanti juga sembuh" Aneira menggeleng cepat lalu melepaskan tangan Fairel dan memakasa Fairel untuk segera memberikan kunci mobil miliknya. Aneira langsung bergegas menuju parkiran dimana mobil Fairel berada. Aneira benar benar trauma dengan hal yang berbau pertengkaran dan darah, Aneira akan sangat takut melihat korban yang terluka akibat kejadian itu, apalagi kejadian itu tepat berada di depannya dan si korban adalah Fairel, kakak kelasnya dan partnernya di pesta Divandra. "Sial, dimana mobilnya?" nafas Aneira terengah engah parkiran tempat ini sangat luas dan hampir semuanya terisi, Aneira mencoba menekan kembali remote mobilnya agar ia mengetahui dimana letak mobilnya tapi tidak juga ia temukan, setelah berjalan kembali barulah ia menemukan mobil Fairel. "Itu dia" ucap Aneira senang Aneira segera melangkah menuju mobil Fairel dengan cepat ia membuka dashboard dan benar memang terdapat kotak P3K disana ingatan Aneira benar benar baik. Segera mendapatkan kotak P3K Aneira berlari menuju ke tempat Fairel. BRUKKK Aneira tersungkur ke tanah, kakinya tersandung kaki miliknya sendiri hal ini bisa terjadi sebab Aneira tak biasa memakai heels sehingga membuat jalannya menjadi tidak seimbang. Kotak P3K yang ada di tangan kanannya terlempar beberapa meter darinya. Aneira dengan cepat bangkit lalu membersihkan kedua telapak tangannya yang kotor, dan saat Aneira berdiri ada rasa perih di kedua lututnya dan pergelangan kakinya, tapi Aneira mencoba tak memperdulikannya yang penting sekarang adalah mengobati Fairel, Aneira tak ingin terlambat lagi seperti dulu. Aneira mengambil kotak P3K itu, lalu kemudian melanjutkan langkahnya yang sedikit terseok karena rasa sakit di pergelangan kakinya benar benar luar biasa. Seperti yang sudah dikatakan Aneira sebelumnya, untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun Aneira merasakan ada seseorang yang begitu melindunginya setelah kakak dan ayahnya. Tapi seperti dejavu bagi Aneira, setiap ada orang yang melindungi dirinya pasti ada saja hal yang tidak baik terjadi kepadanya dan pada saat itu Aneira tak bisa melakukan apapun, dan kali ini harus berbeda dari sebelumnya Aneira harus bisa melakukan sesuatu walaupun hanya tindakan kecil bagi orang tersebut karena hanya dengan itu Aneira bisa mengucapkan terimakasih yang tulus dari hatinya. Aneira tidak ingin melakukan hal yang sama seperti sedia kala. Aneira kemudian berlari menuju belakang panggung, kemudian Aneira berpapasan dengan Kein "Nei, kaki lo kenapa?" Kein sepertinya tidak mengetahui apa yang terjadi tadi. "Gue nggak apa kak, gue buru buru kak Maaf" Aneira segera pergi dari hadapan Kein, sebenarnya Kein merasa ada yang janggal tapi Kein mencoba untuk berpositif thinking. Aneira menghentikan langkahnya sebelum ia bertemu dengan Fairel, Aneira mengatur nafasnya agar dirinya tak tampak seperti orang yang berlari. Aneira menarik nafasnya pelan dan mengeluarkannya, Aneira tak boleh menunjukkan bahwa dirinya terjatuh. Aneira mencoba berjalan normal walaupun kakinya amat sakit, setelah dirasa dirinya bisa mengatur semuanya dengan baik. Aneira melangkah mendekati Fairel, tapi belum sempat ia menghampiri Fairel tiba tiba Fairel sedang duduk bersama perempuan yang membelakangi Aneira, Aneira segera menyembunyikan dirinya di balik vas bunga berukuran besar. Kemudian ia mencoba melihat apa yang sedang terjadi perempuan itu menyentuh sudut bibir Fairel dengan lembut. Aneira hanya bisa terdiam melihat apa yang perempuan itu lakukan terhadap Fairel, Aneira merasa matanya memanas hatinya terasa sakit, perjuangan Aneira mengambil kotak P3K ternyata sia-sia. Fairel tak butuh obat dari Aneira yang Fairel butuhkan adalah perempuan itu, perempuan yang menyentuh Fairel tanpa adanya penolakan dari Fairel. Aneira kemudian berdiri dan... ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD