Day (19)

1290 Words
Sebelum Aneira memutuskan berdiri dan beranjak pergi kembali ia perhatikan sekali lagi Fairel dan perempuan yang ada di hadapannya. Tapi sebuah pemandangan menarik perhatiannya. “Bukankah dia?” “Perempuan itu? Aneira yang tak menyangka bahwa perempuan yang ada di hadapan Fairel adalah dia, Sherrin Auretta. Aneira kembali mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi, ia menelan kekecawaan dan sakit hatinya demi menjalankan sesuatu yang memang sudah ia rencanakan seharusnya. Aneira merogoh sakunya, kemudian mengambil ponsel miliknya, lalu dengan perlahan ia menjulurkan tangannya dengan kamera menghadap kepada dua orang itu Fairel dan Sherrin. KLIK KLIK Aneira mendapatkan beberapa foto antara Fairel dan Sherrin yang terlihat jelas dari samping, lamat lamat Aneira amati foto itu. Walaupun foto tersebut membuat hatinya kembali merasakan rasa perih dan sakit yang sejak tadi dia tahan. Aneira kembali memasukkan ponselnya setelah ia mengirimkannya kepada Mr.X Ini hasilnya, gue nggak nyangka bakalan semudah itu. *Sent Foto* *Sent Foto* Kali ini Aneira memutuskan untuk benar benar pergi sebelum Fairel mengetahui keberadaan dirinya , Aneira menguatkan cengkaramannya ke kotak P3K yang sejak tadi ia pegang. Aneira mengeluarkan smirknya dan berkata di dalam hatinya “Lo bisa Nei” *** Aneira berjalan menjauh selangkah demi selangkah meninggalkan mereka berdua bersama padahal sejak tadi Aneira selalu menguatkan hatinya dan menyemangati dirinya tapi tetap saja hati dan perasaannya sangatlah terluka, sebab Aneira sangat mengenal Sherrin, siapa Sherrin bagi Fairel, dan seberapa pentingnya Sherrin untuk Fairel. Aneira menghentikan langkahnya, suasana yang seharusnya menyenangkan entah kenapa berubah menjadi menyendihkan hanya untuk dirinya, ia memandangi dressnya yang terdapat noda kotor akibat kejadian yang membuatnya terjatuh, mengingat hal itu membuat Aneira tertawa, menertawai kebodohannya akibat melupakan fakta dimana memang tak seharusnya Aneira peduli kepada siapapun apalagi semua hal tentang Fairel, bodoh sekali bagi Aneira tiba tiba bisa merasakan perasaan ini hanya dengan perlakuan Fairel yang seolah melindunginya, seharusnya Aneira sadar ia bisa seperti ini karena Fairel dan semua salah Fairel. Tapi sekali lagi berulang kali Aneira memikirkan hal hal yang rasional bahwa seharusnya ia benci kepada Fairel, tapi hati dan perasaannya mengatakan sebaliknya perasaannya terus mencoba menolak rasa benci kepada Fairel. “Aneira” Sebuah panggilan yang membuatnya berbalik dengan cepat Aneira mengubah ekspresinya agar tak terlihat menyedihkan di mata orang itu. Kein mendekat kepada Aneira, memperhatikan Aneira lekat lekat ada sisa bulir air mata yang ada di mata Aneira membuat Kein menjadi penasaran akan apa yang terjadi kepada Aneira “Nei, lo nangis?” tembak Kein langsung yang membuat Aneira terkejut tapi dengan segera ia mengendalikan dirinya “Oh, gue tadi kelilipan” Aneira berbohong agar bisa berdalih dari pertanyaan Kein yang menyudutkannya, Kein sangat tahu bahwa Aneira berbohong, walaupun ia baru mengenal Aneira belum lama ini tapi Kein tahu bagaimana sikap Aneira saat sedang berbohong rasa gugup dari matanya bisa dilihat secara jelas. “Lo jangan bohong sama gue” Kein terus memaksa Aneira untuk mengatakan yang sebenarnya “Apanya yang bohong, gue emang kelilipan Kak” Aneira masih saja tak mengatakannya dengan jujur Kein akhirnya menyerah, sepertinya ini bukan urusan Kein mungkin Aneira masih merasa kurang nyaman terhadapnya sehingga Aneira tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya. “Ya sudah kalau nggak ada apa apa, lu gabung gih ke pesta bentar lagi Divandra muncul” Aneira mengangguk “Loh dimana Fairel?” pertanyaan Kein membuat Aneira menghela nafas berat “gue nggak tau” Aneira menjawab singkat pertanyaan dari Kein Kein yang merasakan ada perubahan dari raut wajah Aneira, segera mengetahui inti dari sikap Aneira dan kebohongan yang Aneira katakana bersumber dari Fairel. “Gue cari Fairel dulu, lo gabung aja” Ujar Kein pada akhirnya jika itu menyangkut Fairel ia tak ingin ikut campur lebih dalam cukup hanya menjadi penonton tanpa harus terlibat. Kein beranjak pergi tapi Aneira menahan tangannya Aneira memberikan kotak P3K yang sejak tadi ia pegang. “Kak kalau ketemu kak Fairel kasih ini ke dia” Aneira mengulurkan kotak itu kepada Kein “Lo aja yang ngasih ke dia” “Kak, lo aja gue mintak tolong” Aneira lalu memaksa Kein untuk segera mengambilnya “Ini kak” Aneira lalu beranjak pergi menjau. Kein yang tak bisa menolak keinginan Aneira akhirnya hanya bisa melihat ke arah kotak P3K itu, berbagai pertanyaan terus berputar di benak Kein. Tapi Kein hanya bisa diam tanpa melakukan sesuatu. Biarlah ini menjadi urusan mereka berdua, kini Kein hanya bisa menjadi kurir perantara kotak P3K. Kein seperti menertawakan dirinya sendiri. *** Divandra sudah tampil cantik dengan dress pilihannya yang sudah ia pilih jauh jauh hari, dress bewarna pink dengan perpaduan ungu yang begitu manis dan melekat pas di tubuhnya, Divandra tampak cantik dengan polesan make up yang membuatnya benar benar seperti seorang putri malam ini. Putri di pesta ulang tahunnya, semua sesuai dengan apa yang ia idamkan selama ini, pesta sweet seventeen yang begitu mewah. Sayangnya di malam ini Divandra adalah Seorang putri dari kerajaan dongeng yang sedang mencari pangerannya tapi tak juga Ia temukan hingga malam ini. Divandra masih sendiri tanpa pasangannya seharusnya suapan kue keduanya harus ia berikan kepada pacarnya, tapi karena ia pun tak memiliki pacar hingga detik ini terpaksa Divandra memberikannya kepada Kein kakaknya yang sangat ia sayangi walaupun terkadang menyebalkan dan selalu mengerjainya, tapi kakak tetaplah kakak bagaimanapun ia. Sahabatnya, Aneira. Pasti sudah datang dengan dress yang telah ia pilihkan untuknya Divandra yakin bahwa Aneira akan terlihat cantik seperti dirinya. “Divandra, udah siap semuanya?” tanya salah satu staff party organizer “Udah” Divandra pun diperintahkan untuk ke panggung dimana acara ulang tahunnya berlangsung, sejak tadi inilah yang ditunggu tunggunya bertemu dengan teman temannya, menyapa mereka, dan yang paling membuat Divandra tak sabaran adalah kue ulang tahun yang di pesankan khusus oleh orang tuanya menjadi kado spesial bagi Divandra. *** Setelah memberikan kotak P3K itu kepada Kein, Aneira berjalan menuju ruang tengah dimana pesta itu berada orang orang sudah berkerumun berdiri di depan panggung menunggu tuan putri acara ini, Aneira masih menahan rasa sakit di pergelangan kakinya maka dari itu Aneira sedikit berdiri di tepi kerumunan agar ia bisa mencoba meredakan rasa sakit yang terus menggerogoti kakinya. Jika tak mengingat bahwa ini adalah pesta ulang tahun sahabatnya Divandra pasti sejak tadi ia akan segera cabut dan menghilag, tapi ini ulang tahun Divandra ia tak ingin sahabatnya itu kecewa. Aneira mengambil segelas grape juice yang sudah disediakan, menyesapnya hingga menghilangkan rasa dahaga yang sejak tadi menyerangnya entah dahaga yang berusaha Aneira lenyapkan atau perasaan kecewa dan tak nyamannya, entahlah Aneira pun sama sekali tidak tahu. Suara MC yang memandu acara ulang tahun Divandra pun terdengar, sebagai tanda bahwa acara puncak yang ditunggu tunggu akhirnya segera dilaksanakan. “Halo, selamat malam semuanya” Sapaan khas seorang MC membuat suasana yang ramai menjadi semakin ramai. MC itu terus bercerita panjang lebar tapi tak satupun Aneira tahu apa yang diucapkannya, Aneira bisa diibaratkan seorang patung yang hanya berdiri tanpa melakukan apapun berkedip pun tidak apalagi mendengar seperti fisiknya ada di sini tapi pikirannya melayang entah kemana. Tiba tiba lampu di ruangan ini sengaja dimatikan, barulah di saat ini Aneira sadar bahwa ia sedang berada di sebuah pesta maka harusnya ia menikmati pesta ini bukan memikirkan hal yang lain. Sebuah lampu menyorot bintang utama di acara ini, Divandra. Aneira tersenyum melihat betapa cantiknya Divandra, yang berjalan begitu anggunnya di damping kedua orang tuanya yang menggandeng dirinya seakan tak ingin anaknya terlepas ataupun terjatuh. Kasih sayang orang tuanya begitu jelas terlihat, membuat Aneira tersenyum pedih melihat hal itu bukannya ia bermaksud iri tapi hanya dengan meihat pemandangan itu ia seketika merindukan orang tuanya, lebih tepatnya hanya merindukan ayahnya ia tak pernah mengenal rupa dan bentuk ibunya hanya nama ibunya dan sekelebat rasa benci terhadap ibunya. Aneira tersenyum getir, mengingat semua yang terjadi. Kepergian ayahnya dan kepergian kakaknya menjadikan Aneira seorang perempuan yang kuat. Aneira mencoba kembali memfokuskan dirinya dengan acara yang ada dihadapannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD