Begitu mobil hitam itu berhenti di garasi, Livia melepas sabuknya cepat sembari berkata "Terima kasih" dengan pelan dan langsung membuka pintu mobil, menghambur keluar. Raphael membuka mulut dan berniat menghentikannya saat punggung wanita itu semakin menjauh sebelum masuk ke balik pintu. Lelaki itu menggaruk kepalanya kasar, keluar dari mobilnya sembari membanting pintu dengan keras dan berpikir kenapa ia menaikkan nada suaranya seoktaf lebih tinggi. Karna Livia tersenyum padamu, ucap hatinya. Tapi wanita itu selalu tersenyum pada setiap orang, bela pikirannya. Tapi senyumnya membuat otakmu berhenti berpikir sesaat. Dan bukannya tersenyum kau malah membentaknya. Aku tidak, geram Raphael marah dalam diam. Ohya? Lalu kenapa dia lari terbirit-b***t barusan? Akuilah Raphael, senyum Livi

