23

1225 Words

Livia sedang membuat adonan kue pie kenari saat mendengar bunyi nyaring dari depan. Ia menepuk-nepuk tangannya yang berwarna putih karna menguleni adonan di celemek, sementara kepangan rambutnya sebagian lolos dari ikatan. Keluar dari dapur, ia menatap seorang pria gemulai dengan lipstik ungu terang dan rambut pirang hijau dengan tatapan bingung. Well, bukan Livia mempertanyakan kemampuan tamu dengan suara nyaring ini, tapi dia tahu pasti kalau lelaki ini gay. Tingginya tak lebih tinggi dari Livia, mungkin sama. Rambutnya bergelombang dan ditata dengan wax, matanya diberikan eyeliner hitam tebal. Bajunya tampak necis, bukan seperti lelaki metropolitan dan saat tangannya berayun, Livia semakin yakin dia banci. Banci itu akhirnya mendekatinya, sebelum menaruh beberapa kantong belanjaa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD