Setelah pengakuan mendadak yang Raphael lontarkan pada Livia, wanita itu tak bisa tidur setelahnya. Ralat, mereka tak bisa tidur. Bagaimana bisa, kalau Livia tersenyum sepanjang malam seperti orang gila sementara Raphael memfokuskan dirinya menatap detail ukiran? Tapi mereka tak mau menjauhkan dirinya meski suasana terasa sesak. Raphael berbaring dan membiarkan kepala Livia ada di dadanya saat wanita itu berbaring menyamping dan menaruh tangan di perut lelaki itu. "Perutmu sedikit kurusan," ucap Livia membuka topik. Raphael tersedak menahan tawanya. "Apa itu pujian?" "Anggap saja begitu. Apa kau dulu pernah memiliki badan bagus atau dari dulu kau seperti ini?" tanya Livia penasaran. "Dulu badanku memang bagus, lebih bagus dibanding kakakmu." Livia menatap tak percaya apalagi melihat

