Keira sedang memilih sayuran yang akan ia masak nantinya. Dia menikmati perannya sebagai seorang istri. Dia sama sekali tidak pernah mengeluh akan perannya ini. Memang kadang sedikit melelahkan melakukan semuanya sendiri, tetapi lama-kelamaan Keira mulai menikmati semua pekerjaannya.
"Udah berapa bulan mbak?" Keira menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya yang sedang memilih beberapa sayuran sama seperti dirinya sedang tersenyum kepadanya.
"Enam bulan, Bu." Jawab Keira sopan sembari memberikan senyuman terbaiknya.
"Anak pertama?" Tanyanya lagi.
"Iya."
"Wah.. pasti gak sabar ya nungguin baby nya lahir? Saya juga dulu gitu. Pas hamil anak pertama, rasanya pengen banget cepat keluar dari perut saya. Pengen ketemu langsung saya mah."
Keira tersenyum lebar mendengar perkataan dari ibu yang ada di sebelahnya.
"Sehat-sehat ya kamu dan baby nya. Semoga lancar lahirannya."
"Aamiin.. terimakasih Bu," Balas Keira. Banyak sekali orang yang bertemu dengan Keira, pasti akan berkata seperti itu. Dia merasa sangat bersyukur akan hal itu. Keira merasa masih banyak orang yang perduli akan dirinya dan juga anaknya ini.
"Kalau gitu saya duluan," Ucap ibu itu lagi. Keira hanya membalas dengan anggukan dan senyumannya. Setelah itu, ibu yang ada di sampingnya pergi meninggalkannya.
Setelah itu, Keira melihat keranjang belanjaannya. Dia tersenyum. Dia rasa sudah cukup berbelanja untuk hari ini. Keira menyudahi berbelanjanya. Dia memasukkan sayuran yang tadi ia pilih kedalam keranjang. Setelah itu ia mendorong keranjang belanjaan nya.
Keira memang tidak pernah berbelanja terlalu banyak jika ia sendiri. Reihan sudah sering memperingatinya akan hal itu. Reihan bahkan melarang Keira untuk berbelanja sendirian. Tetapi Keira sama sekali tidak mengindahkan perintah dari Reihan. Dia sangat menikmati belanja bahan makanan seperti ini. Keira mengelus perutnya yang mulai membesar itu.
"Hari ini kita masak apa ya sayang?"
---
Keira membawa beberapa plastik belanjaannya menuju apartemen mereka. Pandangannya teralihkan ketika melihat beberapa pria yang membawa barang-barang. Mereka membawa barang-barang tersebut menuju apartemen di sebelah apartemen nya. Keira tersenyum akan hal itu. Dia akhirnya mempunyai tetangga.
Selama ia menikah dengan Reihan, dilantai apartemen nya ini hanya ia dan Reihan lah yang baru menempatinya. Belum ada seorang pun. Memang dilantai ini hanya ada empat unit apartemen.
Rasanya akan sangat menyenangkan jika ia memiliki tetangga yang bersebelahan dengan dirinya. Apalagi jika pemilik apartemen tersebut seorang wanita. Keira sangat yakin ia akan terus berkunjung ke apartemen tetangganya itu.
Keira merasa ia harus membawa makanan untuk tetangga barunya itu. Ia sangat berharap jika tetangganya itu ialah seorang wanita. Keira akan semakin senang jika itu benar. Dia tidak akan merasa sendiri lagi selama Reihan pergi bekerja.
Keira segera masuk kedalam apartemen nya. Ia langsung menuju dapur dan meletakkan berbagai barang belanjaannya. Keira mulai membuka kulkasnya. Dia merasa dia akan membuat kue brownies untuk tetangga nya itu.
Keira mulai mengeluarkan berbagai bahan untuk membuat kue tersebut. Dia sangat mahir dalam membuat kue. Biarpun dalam membuat masakan lainnya, Keira sedikit kurang mahir. Tetapi untuk alasan kue, Keira jagonya. Reihan bahkan selalu meminta untuk di buatkan gue oleh Keira. Karena memang kue buatannya sangat enak.
Keira membuat kue tersebut dengan sangat senang. Dia tidak sabar untuk memberikan kue buatannya kepada tetangga barunya itu.
---
Keira tersenyum dengan lebar ketika kue buatannya sudah ada dihadapannya. Akhirnya setelah empat puluh lima menit dia menunggu, dia bisa melihat kue buatannya di hadapannya ini. Keira segera memindahkan kue tersebut ke piring.
Sebenarnya Keira tidak terlalu yakin kie buatannya ini enak. Tetapi setidaknya ia sudah berniat baik dengan menyapa dan memberikan kue kepada tetangganya ini.
Setelah itu dia mengangkat kue tersebut dengan kedua tangannya dan membawanya menuju apartemen tetangganya itu. Tetapi sebelum itu Keira menatap dirinya di depan kaca. Dia melihat penampilannya. Dia tersenyum tipis ketika melihat penampilannya. Tidak terlalu buruk. Pikirnya.
Keira pun berjalan keluar dari apartemennya dan menuju apartemen tetangganya tersebut. Langkah Keira mulai melambat menuju tempat tetangganya itu.
Keira yang tadinya bersemangat seketika menjadi gugup. Dia merasa sangat gugup ketika sudah berada di depan pintu apartemen tetangganya itu. Dia takut jika tetangganya tidak menyukai kue buatannya. Keira mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu gugup.
Detik berikutnya Keira dengan pasti langsung menekan bel pintu tersebut. Dia berusaha untuk tersenyum biarpun sebenarnya dia merasa sangat gugup sekarang.
Keira dapat mendengar langkah kaki yang mulai mendekat ke arah pintu. Pemiliki dari apartemen tersebut mulai membuka kenop pintunya.
Perlahan tapi pasti pintu tersebut mulai terbuka. Keira mulai menampakkan senyumannya.
Tetapi setelah ia melihat siapa yang menyambutnya, senyumannya langsung hilang seketika. Digantikan dengan mata Keira yang mulai melebar dan jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Keira tidak bisa mengatakan apapun. Kue yang dibawanya hampir saja jatuh jika tidak ia tahan. Keira masih terus menatap wanita yang ada dihadapannya sekarang.
Wanita tersebut tersenyum dengan lebar menatap kedatangan Keira. Tapi tidak dengan Keira. Dia merasa semuanya seperti sia-sia. Dia tidak menyangka melihat wanita ini lagi dihadapan nya.
"Hai Kei.." sapa wanita itu kepadanya. Dengan senyuman yang seakan tidak pudar ketika melihat kedatangan Keira.
"Riska?"