"Eh nak Zaki, silahkan masuk". Seru umi Maryam dari dalam saat ustad Zaki menyalakan sepeda motor bermaksud pulang meninggalkan halaman kediaman rumah kiai Haidar.
"Iya umi Maryam terima kasih". ustad Zaki mematikan mesin sepeda motor kemudian turun.
"Mau bertemu abah atau mencari ning Iza?". Tanya umi maryam terus terang.
"Hehee... iya umi.... itu... mau ketemu ning". jawab ustad Zaki sungkan.
"Waduhh.... si ning baru saja berangkat ke perkebunan tadi nak".
"Njeh umi, tadi sudah bertemu kok, tadi saya kesini waktu ning iza baru mau berangkat keluar,".
"Oh, syukurlah kalau begitu". kata umi Maryam lega.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya umi". Ustad Zaki ahirnya pamit.
"Baiklah nak Zaki". Umi maryam mengangguk kemudian masuk kembali kedalam rumah begitu ustad Zaki meninggalkan halaman rumahnya.
Hafiz mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
Beberapa penumpang didalam mobil berteriak - teriak memperingatkan untuk berhati - hati dan memperlambat laju kendaraannya.
"Fiz... ". Seru Anton yang duduk di jok sebelahnya " Kamu sudah bosan hidup apa?".
"Iya bener, sudah bosan hidup mungkin". Timpal Lita kakak Hafiz yang duduk di kursi tengah bersama Faiza.
"Tenang bos... tenang". Sergah Hafiz. " Ini kita sudah telat lebih dari setengah jam, kalau tidak cepat - cepat, bisa - bisa satu jam lagi kita baru sampai di di tempat tujuan".
"Ini semua kan gara - gara kamu". Gerutu Anton
"Yee... kenapa nyalahin aku sih?. Salahin mobilnya kenapa pake acara kehabisan bensin segala". Kata Hafiz membela diri.
"Kan sudah aku bilang kemarin kalau bensinnya tinggal sedikit". Anton menoyor kepala Hafiz.
" Heeii... kapan bilangnya bambang?".
" Kemarin sore aku sudah bilang sama ning Iza, kalau bensinnya tinggal dikit. Jadi lebih baik di isi dulu, jadi kita tidak akan bingung lagi atau terburu - buru mengisi BBM saat kunjungan ke kebun orang hari ini". Jawab Anton lugas
Hafiz menengok kebelakang melihat Faiza. gadis itu meringis sambil meminta maaf.
"Maaf ya tadi sore aku lupa menyampaikan pesan mas Anton kepadamu".
"Iya ga apa - apa Za" kata Hafiz " yang penting kan mobilnya sudah terisi bensin sekarang".
"Huu... dasar, kalau yang salah ning Iza mana pernah ada yang berani menyalahkan". Seru Anton.
Sekitar dua puluh menit kemudian tibalah mereka di kebun kepala desa suka jaya. Setelah mengobservasi dan memberikan penyuluhan kepada para petani holtikul di desa itu rombongan
Faiza segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kebun Oemah hijau.
"Fiz bisa minta tolong gak ya?" Tanya Faiza kepada Hafiz setelah mereka tiba di kebun Oemah hijau.
" Memangnya ada masalah apa Za?. Katakan padaku, apapun permintaanmu aku pasti akan melakukan. Sekalipun itu harus menyebrangi lautan, mendaki gunung, lewati lembah, sungai api semua akan aku lewati". Jawab Hafiz sok puitis.
"Memangnya kamu ninja Hatori?". Faiza terkekeh.
"Heii... jangan salah. Aku bisa menjadi naruto kalau kamu mau, bisa menjadi popeye si pelaut biar bisa menghajar bruto yang mengganggumu. Bisa menjadi pendekar kapak maut naga geni 212 biar bisa menghajar penjahat. Atau menjadi kera sakti untuk keliling dunia mencari kitab suci ". Hafiz berjingkrak - jingkrak menirukan gerakan - gerakan khas para tokoh cerita yang ia sebutkan.
Faiza tak dapat menahan tawanya melihat aksi kekonyolan Hafiz.
" Aku minta tolong, besok sore sekitar jam tiga untuk datang ke pesantren".
"Whatt??? Ke pesantren?" Hafiz terperangah
"Ya". jawab Faiza singkat
"Ke pesantren bapakmu?".
" Iya".
" Ngapain?. Melamarmu? memangnya kamu sudah siap aku lamar?".
" Srius Fiz...".
"Lho iya, aku serius juga. Aku sudah siap kalau memang kamu sudah siap menjadi istriku, mengarungi bahtera kehidupan bersamaku aku..." Kalimat Hafiz terpotong oleh kakaknya yang langsung menghadiahinya dengan sentilan di jidat.
"Kuliah saja belum tamat ,mau main lamar anak orang. Memangnya kamu pikir ning Iza itu siapa?".
" Jangan syirik kenapa sih mbak". Hafiz meringis mengelus - elus jidatnya.
"Kalau mau dapetin ning Iza sono belajar ngaji dulu. Mondok sepuluh tahun jangan pulang kalau belum jadi ustad". Seloroh Lita
" Kalau memang itu yang Iza mau gak apa - apa pasti aku akan lakukan".
"Sudah - sudah. Kenapa pada ngomong nglantur gak karuan sih? Aku mau minta bantuan Hafiz untuk menyiapkan media tanam di area pondok besok". Terang Faiza melerai
"Oalah... aku kira suruh melamar". Hafiz menepuk jidatnya kecewa