3. BUKAN PERTEMUAN PERTAMA

497 Words
Tak disangka ternyata ustad Haikal juga sedang memandangnya. Degg.... entah apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan keduanya. Pandangan mereka beradu. Sedetik kemudian sama - sama menundukkan pandangan. Faiza melangkah mundur. Bermaksud untuk masuk kamar sebentar. "Ning... ". Seru kiai Haidar. "Iya bah". Sahut Faiza. "Duduklah dulu. Sapa tamu kita. Beliau sudah jauh - jauh kesini, rela dengan sabar menunggu kamu pulang. Masak iya kamu mau pergi begitu saja?" "Iya bah". Faiza duduk disebelah umi Maryam. "Maaf ustad Haikal, silahkan ngobrol dulu dengan Faiza. Barang kali ada hal penting yang ingin disampaikan. kami kesana dulu ". Kiai Haidar berdiri dan pamit untuk duduk di kursi lain diruang tamu itu. Kemudian umi Maryam mengikuti. Sekarang tinggal Ustad Haikal dan Faiza. Beberapa menit berlalu. Suasana hening,belum ada yang memulai percakapan. "Duhh nih orang aneh banget. Sebenarnya mau apa mencariku, kenapa gak langsung to the point saja". Gerutu Faiza dalam hati. "Ga mungkin kan kalau aku yang mulai duluan?. Secara dia yang katanya nyari aku". "Assalamualaikum ning Faiza". Akhirnya ustad Haikal mengucapkan salam. "Waalaikum salam ustad". Jawab Faiza singkat. "Kamu masih ingat saya?". Faiza yang dari tadi menunduk, mendapatkan pertanyaan seperti itu sontak saja mengangkat kepala. Untuk sepersekian detik pandangan mereka kembali beradu. Faiza tertegun. Pandangannya langsung menilai. Laki - laki yang ada didepannya ini memiliki wajah yang tampan, bersih, berwibawa dan tenang. Aura mendominasi juga terpancar dari matanya. Akan tetapi ia sama sekali tidak ingat pernah bertemu dengan laki - laki ini apal lagi mengenalnya. "Mana mungkin saya tidak tahu ustad Haikal. Orang sekaliber ustad yang viral dimana - mana, kontennya ramai di unggah orang di medsos. wara wiri sering tampil hampir di semua televisi nasional. Pasti saya juga tahu sedikit banyak tentang ustad". jawab Faiza diplomatis. "Maksud saya bukan tahu seperti itu ning". ustad Haikal memperbaiki duduknya agar lebih santai. karena sebenarnya dari tadi ia juga sedikit canggung dan tegang. "lalu maksud ustad?". "Kamu mungkin sudah lupa, dulu aku sering kesini. Bahkan beberapa kali menginap disini. Namaku Haikal, aku teman sekelasnya Kaif kakakmu saat kuliah di Al azhar". "Oh begitu". Sahut Faiza mengangguk - angguk "Aku dulu pernah mondok dan sekolah Tsanawiyah disini. Tetapi hanya sampai kelas satu saja. Saat naik kelas 2 aku pindah ke Jakarta". "Maaf ustad, saat mas Kaif kelas 1 tsanawiyah sepertinya saya masih duduk di taman kanak - kanak. Maaf kalau mungkin saya jadi lupa". Jawab Faiza sambil berusaha mengingat - ingat apakah dulu permah bertemu dengan ustad Haikal saat masih kecil. keningnya berkerut tampak mengingat- ingat. Tetapi ia sama sekali tidak ingat. Sementara itu ustad Haikal merasakan jantungnya berdegup kencang saat mengamati paras menawan gadis didepannya yang sedang berfikir. "Masya Allah.... Adiknya Kaif memang luar biasa cantik. Sungguh luar biasa kecantikan yang pari purna". Gumam ustad Haikal dalam hati. "Astaghfirullah...". Ustad Haikal mengucap istighfar kemudian menunduk dan mengusap mukanya dengan kasar. Ia baru saja memandang yang bukan mahromnya dengan pandangan yang menggiring kearah dosa. "Jadi ustad Haikal dulu sudah kenal saya?". "Iya ning. Tentu saja saya mengenalmu. Dan ini bukan pertemuan pertama kita".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD