"Oh jadi begitu". Faiza mengangguk - angguk.
"Sibuk sekali ya sepertinya?. Full kegiatan?". Tanya ustad Haikal.
"Ah tidak ustad, hanya mengisi waktu luang saja kok". Jawab Faiza
"Maaf sudah mengganggu kegiatan ning Iza".
"Saya yang minta maaf ustad. Sampai menunggu berjam - jam lamanya. padahal tentunya ustad juga punya jadwal kesibukan dengan jadwal yang sangat padat".
Ustad Haikal tersenyum. Sesekali mencuri pandang kearah gadis yang ada didepannya.
Dalam hati berfikir. Dia adalah ustad muda yang terkenal dan sukses. Menghadapi ribuan jamaah adalah hal yang mudah. Akan tetapi, kenapa berhadapan dengan Faiza malah merasa grogi.
"Tidak mengapa ning. Memang kedatangan saya sengaja mau bertemu dengan neng Iza".
"Oh... begitu. maaf ada masalah apa ya ustad?" Faiza bertanya penasaran.
"Jadi begini" Ustad Haikal menjawab sambil memperbaiki letak duduknya. Ustad tampan itu menengok ke bagian lain dari ruang tamu yang memang berukuran sangat besar. Ada beberapa set meja dan kursi yang ditata di beberapa bagian diruang ini. dan disalah satu kursi itu tampak kiai Haidar dan umi Maryam berada. Tampak seperti sedang mengawasi mereka.
" Sebenarnya maksud kedatangan saya kesini adalah...". Belum sempat ustad Haikal menyelesaikan kalimatnya terdengar bunyi notifikasi panggilan dari ponsel Faiza.
Faiza terkejut, kemudian melihat kearah layar ponselnya.
Rupanya Hafiz yang sedang menelponnya.
Merasa tidak enak mengangkat telepon didepan tamu, Faiza segera merijek panggilan Hafiz.
tetapi beberapa detik kemudian kembali terdengar suara panggilan dari ponsel Faiza.
"E... mmm...silahkan diangkat ning Iza. Barangkali itu panggilan penting". Ustad Haikal berkata sambil tersenyum
"Hehee... tidak begitu penting kok ustad. Cuma panggilan dari teman di perkebunan. Biar nanti saya telpon diabalik". jawab Faiza sungkan.
"Baiklah kalu begitu". Ustad Haikal segera melanjutkan kata - kata yang tadi sempat terpotong.
" Sebenarya beberapa hari lalu saya bertemu Kaif kakakmu di sebuah acara . Kata Kaif kamu...". Kembali ustad Haikal tidak mampu meneruskan kalimatnya karena beberapa kali terdengar buny panggilan dari ponsel Faiza.
Ahirnya melalui isyarat Faiza meminta ijin untuk menjawab panggilan telepon.
Di ujung sana, Hafiz merasa kesal pada Faiza. tadi katanya kalau ada masalah disuruh telepon. Eh begitu benar - benar ada masalah yang tidak dapat ditangani sendiri ee malah telpon di rijek.
"Hallo... Assalamualaikum". Pangilan terhubung. Faiza mengangkat telepon Hafiz dan mengucapkan salam.
"Kum salam". Jawab Hafiz sekenanya. " kamu sedang apa sih Za... ditelpon dari tadi g diangkat - angkat".
"Iya maaf Fiz baru bisa angkat. Ada masalah memangnya?.
apakah ibu - ibu PKK desa makmur sudah datang?".
"Iya... duhh emak - emaknya rempong banget Zaa... banyak banget pula pertanyaannya ini, makanya nelpon kamu. ini ada yang bertanya masalah cabe dikebunnya pada rontok, minta solusi penanganan dan jenis obat untuk keluhan seperti ini". Terang Hafiz menggebu - gebu.
"Kamu jelasin dong Hafiz... sudah pernah aku jelasin kan ke kamu perihal berbagai macam jenis penyakit cabe, cara penanganannya dan obat apa yang direkomendasikan untuk cabe. di toko kita kan semua tersedia?".
"Duh... susah Za... susah jelasinnya Zaa...".
"Baiklah kalau begitu. Berikan hanphone nya pada mereka, kita vidio call saja".
Selanjutnya Faiza menjelaskan secara lngsung kepada ibu2 PKK yang datang lewat telepon dengan sabar.
sementara ustad Haikal hanya diam dan menerka - nerka siapa yang sedang menelpon Faiza.
Hafiz??.. siapa laki - laki yang bernama Hafiz tersebut.
Dari percakapn itu sudah dapat dinilai kalau mereka berdua sangat akrab.