Sepuluh menit berlalu. Faiza masih asyik mengobrol lewat sambungan telepon.
Awalnya ustad Haikal ikut menyimak meskipun hanya mendengar percakapan dari Faiza dan tidak mendengar suara orang yang sedang bercakap - cakap dengannya.
Dari percakapan tersebut ustad Haikal mengetahui kalau mereka sedang membahas tanaman cabe yang bermasalah. Rontok ketika buah cabe masih muda dan belum siap panen.
Faiza menjelaskan penyebab cabe bisa seperti itu. Kemudian menjelaskan bagaimana cara menanganinya.
Sampai dibagian bab ini, tiba - tiba ustad Haikal seperti tersihir.
Ustad muda itu sudah tidak bisa mendengarkan apapun yang dikatakan Faiza ditelepon.
Ia justru menatap Faiza dan terpesona, entah apa yang yang ustad itu fikirkan, yang jelas ia sedang memandang Faiza sambil tersenyum - senyum.
Sementara itu di ujung ruang tamu yang lain kiai Haidar dan umi Maryam merasa kecewa melihat sikap putrinya.
Seolah sikap Faiza yang seperti itu didepan tamu menampar muka kiai Haidar.
"Mi coba kesana dan ingatkan Faiza. Sikapnya yang seperti itu sangat tidak sopan". Perintah kiai Haidar
"Baiklah bah". Umi Maryam segera bangkit dari duduknya menuju tempat duduk Ustad Haikal dan Faiza.
Baru saja umi Maryam melangkahkan kaki, terlihat Faiza meninggalkan ustad Haikal dan masuk kekamar.
Tentu saja tindakan putrinya yang seperti ini sangat diluar dugaan.
Tidak mungkin putrinya begitu tidak sopan dan tidak tahu aturan.
"Lho Faizanya kemana nak Haikal?". Tanya umi Maryam bingung.
"Maaf umi Maryam, mungkin ning Iza sedang sibuk". Jawab ustad Haikal
"Sebentar ya nak Haikal, umi akan memanggil Faiza". kata umi maryam
"Tidak usah mi, mohon maaf saya pamit dulu". Ustad Haikal berkata sambil melihat jam ditangan kirinya.
"Memangnya sudah selesai maksud dan tujuan yang ingin disampaikan ke Faiza nak Haikal?". Tanya kiai Haidar yang tiba - tiba datang.
" Belum pak kiai. Insya Allah lain kali saya akan datang lagi. Mohon maaf saya harus benar - benar pamit dulu, karena dua jam lagi ada acara on air di sebuah stasiun televisi swasta. Saya harus pergi dan menyiapkan materi". Ustad Haikal berdiri kemudian bersalaman dan mencium tangan kiai Haidar.
kemudian memberikan salam hormat dan takdim kepada umi Maryam.
"Tolong sampaikan salam saya kepada ning Faiza umi. Mohon maaf sudah mengganggu kesibukannya. InsyaAllah lain waktu saya kesini lagi. semoga momennya lebih tepat".
"Iya nak Haikal, sekali lagi atas nama Faiza, umi dan abah minta maaf kepadamu". umi Maryam berkata dengan sungkan.
Kiai Haidar dan umi Maryam mengantar ustad Haikal sampai ke halaman.
"Hati - hati nak Haikal". Umi maryam melambaikan tangan.
"Iya umi terima kasih". Sahut ustad Haikal kemudian lanjut mengemudi dan meninggalkan rumah kiai Haidar.
"Umi, panggil Faiza kemari". Perintah kiai Haidar setelah mereka masuk kembali kedalam rumah .
Umi Maryam mengangguk kemudian melangkah menuju kamar Faiza.
Sesampai di depan pintu kamar Faiza, umi Maryam bermaksud mengetuk pintu, tetapi tiba - tiba pintu terbuka.
Faiza sontak kaget begitu membuka pintu dan mendapati uminya sedang berada di depan kamarnya.
" umi?".
"Kamu sedang apa ning? Sangat tidak sopan sikapmu kepada ustad Haikal hari ini. Abah dan umi kecewa padamu Zaa... ".
"Faiza mencari data daftar kunjungan ke perkebunan mi. Lagi pula tadi Iza juga sudah pamit sama ustad Haikal". Jawab Faiza membela diri.
"Sudahlah, sekarang lekas temui abah". Umi Maryam meninggalkan Faiza menuju ruang tamu
"Iya umi". Sahut Faiza kemudian melangkah mengikuti uminya.