6. MARAH- MARAH SENDIRI

514 Words
Sementara itu ustad Haikal pergi meninggalkan kediaman kiai Haidar dengan perasaan kecewa. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Faiza akan meninggalkannya begitu saja. Selama ini dirinya selalu dihormati, bahkan dipuja - puja dimana - mana. Bahkan ketika dirinya berhadapan dengan jamaah atau audiens perempuan,mereka pasti histeris meneriakkan namanya. "Aah....". Pekik ustad Haikal sambil mengacak - acak rambutnya. "Kaif... awas kau... kau sudah membuatku malu didepan abi dan umimu. Juga adikmu sudah mengacak - acak harga diriku". Ustad Haikal mengemudi degan sangat cepat. seolah - olah ingin secepatnya pergi jauh dari kawasan pondok pesantren kiai Haidar. "Aku... ustad Haikal yang tampan dan terkenal, ditolak mentah - mentah oleh seorang gadis". Ustad Haikal memukul - mukul kemudi mobil meluapkan emosinya. Entah karena apa sekarang perasaannya campur aduk. Antara marah, kecewa dan malu. "Orang - orang bilang aku ustad muda yang sukses. Soleh, pintar, tajir dan tampan pastinya. Ha ha haa... tampan apanya? Bahkan aku ditinggalkan oleh seorang gadis yang baru saja mau aku khitbah". "Apa mungkin Faiza sudah punya pacar?. Memangnya apa mungkin kiai Haidar mengijinkan anaknya untuk pacaran?". Ustad Haikal terus meluapkan kekesalannya. "Apa mungkin laki -laki yang bernama Hafiz itu pacarnya?. Atau calon suaminya ?. Kenapa Kaif bilang kalau adiknya belum ada yang mengkhitbah?. Juga tidak punya pacar, karena pasti dia tidak diijinkan untuk pacaran". Karena mrngemudi dengan tidak fokus tanpa disadari, mobil melaju sangat kencang, bahkan beberapa kali hampir saja menabrak kendaraan yang ada didalamnya. "Aku harus menelepon Kaif sekarang juga. Dia harus memberi penjelasan padaku tentang semua ini. Tentang adiknya yang begitu tidak punya etika, Juga tentang Hafiz yang kelihatannya merupakan orang yang special bagi Faiza. Karena dengan sangat jelas aku sendiri menyaksikan saat gadis itu bicara dan menyebutkan nama laki - laki itu, mata ning Faiza tampak penuh semangat dan berbinar - binar". Gerutu ustad Haikal Untung saja tadi dia bertamu hanya seorang diri. Andaikata ada orang lain, dan orang- itu menceritakan kepada orang lain apa lagi sampai ke awak media pasti jagad maya akan ramai oleh beritanya. Kalau difikir - fikir memang kejadian hari ini sangat konyol. Dimulai dari dirinya yang rela menunggu kepulangan Faiza selama berjam - jam seperti orang bodoh. Sampai bertemu kemudian dicuekin dan ditinggal ngobrol dengan orang ditelepon, bahkan endingnya ditinggal masuk kamar. "Duh Gusti... salah dan dosa apa yang sudah hamba lakukan sampai hamba mengalami semua ini". Desah ustad Haikal terus merutuki kejadian yang baru saja menimpanya hari ini. drrtt... drrr... Hand phone ustad Haikal berbunyi. Asistennya menelpon. Akhirnya kini kesadaran ustad Haikal mulai kembali ke akal sehat. ustad rupawan itu mengemudikan mobilnya pelan - pelan dan berhenti di pinggir jalan. "Hallo... Assalamualaikum " Sapa ustad Haikal "Waalaikumsalam...,". Jawab sang asisten ". Yang sedang memburu cinta tolong juga ingat waktu yaa... jangan kebablasan. Ingat nih sudah jam berapa? bentar lagi on air ji... iling". "Bawel". jawab ustad Haikal "ji... sekarang posisi dimana? tim kreatif sudah sejak tadi nanyain kamu?". Tanya Rey sang asisten mulai gemas. "iya - iya, ini juga sudah mau nyampe studio. Sekarang tolong kamu diam dan urus yang disitu. Biarkan aku melanjutkan perjalanan. ok?". "Ok!" jawab Rey mengucap salam kemudian menutup panggilan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD