Bab 2

1210 Words
Adam memarkirkan mobilnya di pelataran restoran yang terkenal dengan iga bakar nya. Demi memenuhi keinginan wanita pujaan hatinya, Adam tak sungkan untuk ikut serta menemani sepeda saat ini. Jika dibanding dengan Karina, Adam sangat jarang menemani Karina memenuhi rasa ngidamnya. Paling dia hanya sekedar bertanya dan selebihnya dia akan meminta pegawainya untuk mengantarkan makanan tersebut ke rumahnya. Sepanjang perjalanan tadi, tak henti-hentinya Alina tersenyum puas di dalam hati. Walaupun statusnya istri kedua tapi bagi Alina ini adalah salah satu langkah yang sangat besar. Tanpa sepengetahuan Adam, Alina telah mengirimkan sebuah pesan singkat ke ponselnya Karina menggunakan nomor lain. Dia telah menyusun sebuah rencana yang akan mempercepat Adam jatuh ke pelukan nya. Lagipula Adam telah mendapatkan hak waris nya setelah Karina dinyatakan hamil dan hak itu tak bisa di ganggu gugat karena sudah sah di mata hukum. Salah satu keuntungan yang di incar oleh Alina adalah selain harta Adam, dia pun bisa pergi kemanapun dengan suaminya tanpa di cibir. "Kamu bahagia banget sayang?" Adam mengelus rambut Alina setelah mesin mobil dimatikan. Alina tersenyum. "Iya dong sayang. Udah lama banget kita gak pergi berdua kayak gini," jawab Alina manja. "Terakhir kan dua tahun yang lalu kita bisa bebas kayak gini," lanjut Alina mengingatkan Adam tentang memori kencan mereka berdua. Wajah Adam tampak sendu ketika Alina mengingatkan hal itu. "Untuk hal itu aku minta maaf sayang." "Aku yang minta maaf sayang," ujar Alina. "Aku tahu posisi kamu lagi sulit saat itu." Adam merasakan kehangatan dari jawaban Alina. Andai saja perjodohan itu tak terjadi pasti hidupnya telah bahagia bersama Alina tanpa dibayang-bayangi kehadiran Karina. "Yuk kita masuk," ajak Adam. *** Karina memegang kunci mobilnya dengan tatapan nanar. Sekali lagi hatinya berkata melarangnya untuk pergi tapi logikanya mengalahka bisikan hatinya. Logikanya berperang dengan hebat jika Karina harus segera memastikan sendiri. Meliana yang melihat Karina tampak bimbang menjadi sedih. Sebagai seorang sahabat yang sudah cukup lama berteman dengan Karina. Dia tahu jika Karina tengah di Landa kebimbangan yang hebat. Apalagi Adam adalah satu-satunya pria yang berhasil mendobrak pintu hati Karina. Sebanyak itu pria yang yang mencoba mendekati Karina, sahabatnya itu sama sekali tak menghiraukannya. Kebanyakan dari mereka adalah pria-pria yang hebat dengan latar belakang pendidikan yang bagus. Hanya dengan Adam lah, Karina jatuh bertekuk lutut seperti saat ini. "Jadi pergi atau gak?" Suara Meliana membuat Karina tersadar akan kebimbangan hatinya saat ini. Lalu dia menoleh ke arah sahabat nya itu. "Aku masih takut akan kebenaran yang akan terungkap," aku Karina jujur. Terselip nada kekhawatiran dalam suaranya. Meliana pun mensejajarkan tubuhnya dengan Karina. "Setiap tindakan pasti menimbulkan konsekuensi tertentu," jawab Meliana. "Kamu tahu sebenarnya langkah apa yang harus kamu ambil saat ini." Karina terdiam. Dia memang tahu langkah apa yang harus dia ambil. Tapi kenapa hatinya terasa sangat berat. Kemungkinan-kemungkinan kecil jika Adam selingkuh terbayang-bayang di dalam otak kecilnya. Tapi bisa jadi itu hanyalah sebuah delusi. "Aku selalu berada di samping mu." Karina menghela nafas berat. "Aku takut jika aku tahu kebenarannya, jika Adam selingkuh jelas semua tak akan lagi sama seperti semula." Nafas Karina terasa begitu berat dan tercekat. "Aku sangat mencintainya melebihi nyawa mu sendiri. Aku tak bisa membayangkan jika Adam bersama wanita lain selain aku." Meliana sangat paham akan kegelisahan Karina. "Kalau begitu, mari kita buktikan sama-sama dan mari kita berdoa jika itu hanyalah sebuah pesan nyasar." Meliana mencoba menghibur Karina. Meliana memperhatikan wajah Karina. Walaupun sedang hamil anak kembar, aura kecantikan Karina terpancar sangat jelas. "Kita pergi sekarang?" Karina menganggukkan kepalanya singkat. "Aku harap apa yang aku takutkan tak menjadi kenyataan." Meliana pun mengambil kunci yang berada di tangan Karina. Dia tak akan membiarkan jika karina yang menyetir mobil dalam keadaan kalut. "biar aku aja yang nyetir." Tanpa banyak adu argumentasi, Karina hanya menganggukkan kepalanya. Biasanya jika dalam mode bekerja, Karina pasti sudah mendebatkan hal-hal kecil seperti ini. Setelah memastikan Karina memakai seatbelt nya dengan benar, Meliana pun melajukan mobil Karina dengan kecepatan sedang. Dia masih sayang dengan nyawanya karena membawa seorang Daru saat ini. Ayahnya Karina itu sangat otoriter dan hal itu mungkin yang menjadi salah satu Karina memiliki teman yang sangat sedikit. Di sepanjang perjalanan, Karina hanya menatap jalanan yang ada didepannya atau sesekali menatap langit. Cuaca di siang hari itu begitu cerah tapi cuaca yang cerah itu tak membuat suasana hati Karina membaik. Meliana paham jika saat itu Karina sedang berperang dengan pikirannya. Tak terasa akhirnya mobil yang dikendarai Meliana tiba di sebuah restoran. Wanita itu memindai beberapa mobil yang terparkir di sana. Meliana cukup hapal dengan mobil Adam tapi dia sama sekali tak menemukan mobil suaminya Karina di sana. Semoga aja bukan Adam. Meliana berdoa dalam hati karena dia tak mau jika Karina terluka terlebih lagi mengancam rumah tangga sahabatnya itu. Karina sudah membuka pintu mobil terlebih dulu dan lalu di susul oleh Meliana. Karina menatap restoran khas iga bakar itu dengan perasaan campur aduk. "Yuk masuk," ajak Meliana sambil menggandeng tangan Karina. Karina pun menuruti ucapan Meliana lalu mulai melangkahkan kakinya ke dalam restoran. Ketika pintu restoran di buka, kedua netra Karina menyapu seluruh penjuru restoran yang bergaya vintage itu. Deg. Jantung Karina terasa di tusuk dengan pisau ketika melihat sosok suaminya berada di sana. Iya, dia tak salah lihat. Itu adalah Adam. Adam, suaminya yang telah bersumpah setia padanya satu setengah tahun lalu. Suaminya sedang bersama seorang wanita dan tampak keliatan sangat mesra. Seluruh tubuh Karina terasa membeku melihat pemandangan mesra itu. Adam tak pernah memperlakukannya semesra itu di sepanjang pernikahan mereka. Melina melihat ke arat tatapan mata Karina. Wanita itu pun melotot tak percaya ketika dia benar-benar melihat Adam di sana. Adam tengah bermesraan dengan wanita lain. Meliana lalu menggenggam tangan kanan Karina dengan cukup erat. "Kalau kamu mau mengamuk, aku dukung," ujar Meliana karena dia bisa merasakan rasa perih yang menguar saat ini. Tanpa pikir panjang, Karina melangkahkan kakinya ke arah Adam dan wanita sialan itu. Kedua matanya menatap Adam kecewa dan juga marah. "Begini ya kelakuan kamu selama ini." Suara Karina yang tiba-tiba dan tak terduga membuat Adam tersentak kaget. "Karina." Wajah Karina tampak angkuh saat mendapati suaminya saat ini. "Iya ini aku, kenapa?" Alina yang berada di sebelah Adam hanya terdiam tapi kedua tangannya memeluk lengan Adam dengan cukup erat. Hal itu tak luput dari pandangan mata Karina. Karina menyambar sebuah gelas berisi air putih yang masih penuh lalu menyiramnya ke arah wanita tak tahu malu. "Apa-apaan kamu Karina?" Adam naik pitam saat melihat Alina di siram air oleh Karina. Suara Adam yang cukup keras menarik atensi dari beberapa pengunjung restoran di sana. Walaupun mereka sedang di tatap para pengunjung restoran tak membuat Adam gentar. "Minta maaf kamu sama istri aku, Karina." Bagai di sambar petir di siang hari saat Karina mendengar kalimat itu. Apa katanya tadi? Istrinya?! "Aku minta maaf sama si jalang itu?" Karina menunjukkan ke arah Alina dengan tatapan marah. "Sampai mati aku gak akan Sudi mengucapkan kata maaf itu." Lalu tanpa di duga-duga, Karina melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras ke arah pipi kanan Adam. "Aku akan menunggu mu di pengadilan," ucap Karina tegas dan catat tak ada air mata yang mengalir di pipinya saat ini. "akan ku pastikan kau dan wanita sialan mu itu mendapat hukuman setimpal atas apa yang telah kalian lakukan pada ku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Karina pergi meninggalkan Adam dan juga wanita sialan itu. Mulai detik ini, dia tak akan sudi mengemis masalah cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD