Tiga Puluh Empat

918 Words

Alric tak henti-hentinya menatap Misha yang tengah menyuapinya dengan tatapan memuja. Ia merasa semuanya masih seperti mimpi. Alric sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa kelas VIP. Kondisinya sudah sangat membaik dan lukanya sudah lumayan nengering. Alric menahan senyumnya meraih tangan Misha. "Ini bukan mimpi, kan?" Tanyanya mengundang kerutan di dahi Misha.   "Apa? Mimpi apa?" Misha malah balik bertanya tidak mengerti.   Alric menggeleng pelan. Ini bukan mimpi. Begitu kata batinnya. Jemari Alric perlahan bergerak mengusap pipi putih mulus Misha yang tidak dipolesi apapun. "Iya. Ini bukan mimpi, tapi aku beruntung ada bidadari yang duduk di sisiku ini," ucapnya dengan suara berat.   Hati Misha bergetar hebat. Misha mendengkus memutar bola mata jengah. "Kau ini! Bisa berhenti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD