Miss U

1138 Words
Marinka akui kalau dia bukanlah orang yang sempurna. Marinka juga sedikit egois. Seperti sekarang, Marinka berharap kalau Leon akan datang padanya untuk meminta maaf. Seperti kebiasaan papa dan kakaknya lakukan kalau mereka marahan. Marinka marah dan sakit hati atas perkataan Leon, saat terakhir kali mereka bersama. Tidak hanya perkataan Leon, perlakuan Leon yang meninggalkannya bersama Vino itu jauh lebih membuatnya marah. Seperginya Leon, Marinka mengamuk pada Vino. Marinka memutuskan Vino di tempat dan segera pergi pulang meninggalkan pria itu begitu saja. Sepulang dari hotel, tempat TKP Leon tadi mengadakan pemeriksaan, Marinka memilih langsung pulang kerumahnya. Marinka memilih memuaskan tangisnya seharian di dalam kamarnya. Beruntung mama, papanya sedang ke luar negeri. Hingga dia tidak takut untuk mengeluarkan tangisnya kuat-kuat. * Hari ini adalah hari ketiga, Marinka bolos dari pekerjaannya. Selama 3 hari bolos kerja, Marinka mengunci dirinya di dalam kamar. Pada hari pertama bolos, Marinka memasang aksi ngambek minta dibujuk. Lalu pada hari kedua, Marinka berharap dan menunggu minta maaf dari Leon dan untuk hari ke 2, Marinka melakukan refleksi diri. Marinka memikirkan semuanya dengan matang, tentang apa yang ingin dilakukannya. Marinka belum bisa menyimpulkan apa perasaannya kepada Leon yang Marinka tau, dia sakit saat Leon berkata seperti kemarin kepadanya. Marinka juga tidak suka saat Minnie mencoba untuk mendekati Leon. Tidak hanya itu, Marinka mau dia selalu spesial dari orang lain di mata Leon. Marinka menoleh pada jam dinding kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sia-sia jika dia pergi ke kantor sekarang. Marinka menghela napasnya, ternyata ngambek dan berharap Leon akan meminta maaf bukanlah pilihan yang tepat, pikir Marinka. Marinka mengambil HP-nya untuk menghubungi Leon, namun kesadaran memukulnya kalau dia tidak punya nomor handphone Leon. Satu bulan 2 minggu sudah Marinka bekerja dengan Leon, tapi Marinka belum punya nomornya. 'Oh great' umpat Marinka dalam hatinya dengan kesal. Marinka lalu melemparkan HP-nya ke ranjang miliknya dengan putus asa. Marinka merutuki dirinya soal sedikitnya informasi tentang Leon yang diketahuinya. Saat Marinka sudah putus asa dan merasa buntu dalam mencari alamat Leon, Marinka tiba-tiba teringat akan papanya. Papa kenal dengan pimpinannya, it's means her dad can get information about Leon for her. Dengan cepat Marinka mengambil HP miliknya lagi dan menghubungi papanya. "Halo?" "Papa?" tanya Marinka meski tau hanya ada 2 kemungkinan orang yang menerima telepon itu. Kalau bukan papanya ya mamanya. "Iya papa Ca, kenapa?" balas seseorang dari seberang sana. "Pa, bantuin Inca dapetin nomor handphone sama alamat Leon dong," minta Marinka dengan nada merayu khas miliknya. "Huh apa? Nomor handphone sama alamat? Kenapa nggak nanya langsung?" tanya papanya. Marinka berdecak dan mulai mengadu tentang Leon. "Ih papa. Papa nggak tau aja sih, kalau Inca itu takut kali nanya hal pribadi ke Leon. Leon itu turunan ratu Jagdis tau pa. Pake matanya aja, Leon bisa ngebuat Inca kaku dan nggak bisa gerak," Mendengar aduan Marinka, bukannya segera menjawab atau mengomentarinya, papa marinka malah tertawa. "Kamu kaku karena terpesona kali Ca," goda papa Marinka. Marinka memutarkan bola matanya sebal. Jiwa penggoda milik papanya sepertinya langsung aktif kalau Marinka bicara soal Leon. "Ih papa, serius kali pa. Bantuin Icha ya pa ya ya ya. Plis... papa Inca yang ganteng. Yang gantengnya ngalahin Lee Min Ho," rayu Marinka. "Nggak ngalahin Minho SHINee Cha?" tanya papanya kembali menggoda Marinka, Aranda sangat tau kalau Marinka pasti kesal kalau ada yang mencoba lebih baik dari idolanya itu. "Yang enggaklah pa, papa cukup ngalahin Lee Min Ho aja Pa," kata Marinka defensive. "Gimana pa? Mau ya pa," kata Marinka lagi. Senyum Marinka melebar saat didengarnya desahan dari papanya. Itu artinya kalau permintaannya akan dikabulkan oleh papanya. Dan benar saja, sesaat setelah papanya mendesah, papa Marinka berjanji akan mengirimkan info itu ke Marinka. "Ya udah, entar papa kirim." "Makasih papa ganteng, Inca sayang papa," kata Inca serius dibarengi nada bercanda. "Papa lebih sayang ama Inca," balas papanya. Marinka tersenyum, tanpa papanya bilang juga Marinka sudah tau tentang itu. "Ya udah ya pa, Inca matiin sekarang, Inca tunggu nomor sama alamatnya," pesan Marinka. "Okay baby, good night. Sleep tight and sweet dreams," ucap papa nya sebelum mematikan sambungan teleponnya. Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya Marinka mendapatkan apa yang dimintanya dari papanya. Marinka menatap nomor ditangannya itu beberapa kali. Dengan ragu-ragu Marinka mendial nomor itu. Namun tidak diangkat. Diteleponnya lagi nomor itu dan tetap saja tidak diangkat. Begitu terus sampai akhirnya Marinka kesal dan memilih untuk melemparkan HP-nya ke lantai kamarnya yang berlapis karpet tebal. Marinka asik mengomel dan berpikir apa yang membuat Leon tidak mengangkat teleponnya, hingga akhirnya Marinka kelelahan dan akhirnya jatuh tertidur. * Marinka melangkahkan kakinya dengan semangat menuju ruangan kerjanya. Sesuai dugaannya kalau Leon dan polisi lainnya belum datang. Tentu saja belum datang karena jam baru menunjukkan jam 6 lewat 40 menit. Sedang jam kerja mereka dimulai jam 7 pagi. Marinka mengeluarkan kotak makanan dan juga minuman yang sudah disiapkan untuknya dan Leon. Merapikan meja miliknya dan Leon, Marinka lalu duduk dengan manis ditempatnya sambil menunggu Leon tiba. Satu persatu para polisi yang bekerja didivisinya mulai berdatangannya. Namun tidak dengan Leon, hingga membuat Marinka masih menunggu lagi. Sampai jam akhirnya menunjukkan pukul 07.10, tetapi Leon tidak kunjung muncul juga. Sepanjang Marinka mengenal Leon, Leon bukanlah tipe orang yang mau terlambat. Bahkan dari yang Marinka tau dan dengar, Leon tidak pernah terlambat. Jelas saja, keterlambatan Leon hari ini membuat Marinka sedikit khawatir. Marinka beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju parkiran, memilih menunggu disana. Tetapi Leon tidak juga muncul, membuat Marinka akhirnya memutuskan untuk menanyakannya pada rekan mereka diruangannya. "Loh kamu nggak tau, komandan Leon ada pelatihan di Bandung. Dia pergi bersama Minnie karena kamu tidak hadir 3 hari ini." Itulah jawaban yang Marinka dapat saat Marinka menanyakan keberadaan Leon. Seketika Marinka mau menangis, tapi dia masih tau malu hingga akhirnya dia memilih untuk kembali ke tempat duduk Leon, menghempaskan dirinya disana, lalu meletakkan kepalanya di meja milik Leon. Marinka pikir dia sudah cukup menderita dengan rasa rindunya kepada Leon dalam 3 hari ini. Ternyata Marinka harus tambah disiksa lagi dengan kenyataan baru kalau Leon malah mengikuti pelatihan. Bahkan semakin diperparah dengan Leon yang pergi dengan Minnie. Marinka mengutuki dirinya, Marinka sadar semua ini karena kesalahannya sendiri. Seandainya dia tidak pakai acara merajuk dan minta dibujuk, tentunya dia bisa langsung mengajak Leon baikan. Selain itu, Marinka bisa memastikan kalau dialah yang pergi bersama Leon ke Bandung bukan Minnie. Marinka memejamkan matanya, rasanya kecewa pada diri sendiri itu membuatnya merasa sesak dan marah. Tanpa Marinka sadari setetes airmata keluar dari matanya mengalir dari lekukan hidungnya. Rasa kecewa, marah dan cemburu pada Minnie mungkin dirasakan Marinka sekarang, tapi yang paling membuatnya tersiksa sekarang adalah rasa rindunya pada Leon. "Sorry, lo bisa pindah nggak. Gue mau duduk." 'Suara itu!' pekik Marinka didalam hati. Dengan cepat dibukanya matanya dan segera menemukan sosok Leon. Tanpa pikir panjang Marinka langsung menghambur kearah Leon lalu memeluk pria itu erat. "I miss you, i really really miss you. Miss you so bad," bisik Marinka lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD