It’s Hurt

988 Words
Marinka memasang wajah masam melihat Leon mengajari Minnie. Pemandangan ini bukanlah pemandangan bagus buat ketenangan emosi Marinka. Dengan cepat dia mengambil video adegan Leon yang tengah menjelaskan tentang penulisan laporan kasus kepada Minnie dan mengirimkannya ke group SNSD miliknya dengan ke 3 teman baiknya. Aruna, Valentina dan Nindia. Me Lo semua tau, gue berubah jadi kambing congek sejak kedatangan anak magang. Tidak perlu menunggu lama pesan milik Marinka langsung dibalas oleh ketiga temannya dengan heboh. Valentina Adisti Nugraha Ca, itu cowok yang namanya Leon? Wow cakep. Mau dong dikenalin. Aruna Lovelyn M Gila Ca, lo dekat ama didempet cowok serba able gitu nggak kehabisan napas? Balasan kedua temannya membuat Marinka keki. Me Woy, gue curhat. Lo semua malah salfok. Kampret emang. Elo lagi Na, apaan yang kehabisan napas? Aruna Lovelyn M Yah kehabisa napas Ca saking hotnya tuh cowok. Nggak usah sok polos deh. Gue tau lo itu kadar mesusumnya nggak jauh-jauh dari gue. Hanya kita doang Ca yang rela pergi hanya demi lihat p****t Jemmie Dornant. Balas Valen dan Nindya yang membuat Marinka mendengus sebal, Marinka bahkan tidak menyadari Leon sempat memperhatikannya sejenak. Mungkin Leon menyadari kalau Marinka tidak seperti biasanya. Memang, sejak pagi tadi Marinka memang lebih banyak diam dan mengasingkan dirinya. Me Kampret emang lo Na. Udah ah gue mau merenung dulu Marinka mengamuk benar-benar tidak terima dibilang m***m karena hobbynya waktu masih kuliah itu. Memang kalau dibandingkan Nindya, Marinka itu sudah ditahap pro soal m***m-mesuman. Marinka masih ingat bagaimana Nindia menjerit heboh dan muntah-muntah saat mereka menonton bareng film porno. Padahal adegan itu masih itu masih masuk adegan foreplay. Pemeran cewek baru di remas-remas, diberi hisapan dan jilatan pada bagian yang Nindia pikir selama ini hanya untuk kencing dan melahirkan saja. Berbeda lagi dengan Valen, Valen malah merasa takjub ketika bagian laki-laki yang digunakan untuk kencing itu, bisa berubah dari awalnya kecil hingga akhirnya besar dan memanjang. Dari yang tertidur, menjadi berdiri tegak dan menantang. Sedangkan Aruna dan Marinka, bisa dengan santai dan enaknya menonton adegan itu. Ok fix, Marinka memang satu kelas dengan Aruna dalam hal kemesuman. Apalagi setelah membaca balasan Aruna, Marinka sadar mereka berdua memang jenis yang sama. 'm***m'. Marinka mendengus sebal, Marinka bahkan tidak menyadari Leon sempat memperhatikannya sejenak. Mungkin Leon menyadari kalau Marinka tidak seperti biasanya. Memang, sejak pagi tadi Marinka memang lebih banyak diam dan mengasingkan dirinya. Lihatlah, sekarang saja dia sudah mematikan hp-nya. Seharusnya dia ingat curhat melalui pesan dengan ketiga temannya itu bukanlah ide yang bagus, mengingat ketiganya punya pemikiran ajaib. "Saya akan pergi ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan. Kalau kamu ada pertanyaan, kamu bisa menanyakannya langsung kepada Moreno," tunjuk Leon pada polisi muda yang masih berada dibawah posisinya. Mendengar itu Marinka segera memasukkan semua peralatannya ke tas miliknya. Marinka segera berdiri dan mendekati Leon saat pria itu sudah mengambil jaket miliknya dan kunci mobilnya. "Komandan Leon! Gimana kalau saya belajarnya dari mbak Marinka saja?" Tanya Minnie yang menghentikan langkah Leon. Leon diam lalu melihat datar ke arah Marinka, sebelum Leon menjawab permintaan Minnie, Marinka sudah terlebih dahulu menjawabnya. Marinka tidak mau kalau nanti Leon malah menyetujuinya. "Maaf ya nona Minnie, tetapi kamu salah kalau mau minta saya buat ngajarin kamu karena saya tidak pernah melakukan apa yang kamu lakukan sekarang. Selama ini tugas saya hanya mengikuti komandan Leon kemanapun dan kapanpun dia pergi," jawab Marinka dengan seketus mungkin. Sejak tau Minnie ternyata menyukai Leon dan mendapat dukungan teman-temannya untuk mendekati Leon, membuat Marinka memutuskan harus mengambil tindakan segera. Dia akan menjadi penjaga Leon selama dilingkungan kerja mereka. Marinka sudah memasang wajah menyebalkan miliknya, tetapi malah terlihat lucu bagi orang disekitarnya. Minnie hanya bisa menganguk lalu memaksakan senyumnya. "Marinka bukan pekerja seperti biasa disini. Jadi kalau kamu ingin belajar, tanya langsung pada saya atau polisi lain yang tengah bertugas," kata Leon pada akhirnya. Marinka tersenyum senang karena merasa dibela. * "Lo ngerasa nggak sih kalau anak-anak magang yang cewek itu pada kecentilan," baru saja Marinka dan Leon memasuki mobil, Marinka sudah terlebih dahulu mengadu pada Leon. "Masa tadi pagi gue dengar di toilet, anak magang itu udah ngenargetin siapa aja yang mau mereka gebet," Marinka masih saja mengomel. Leon tidak menaggapi perkataan Marinka, meski begitu Marinka terus saja mengoceh meyampaikan uneg-unegnya. Ocehan Marinka berhenti saat dia dan Leon tiba di sebuah hotel tempat kasus pembunuhan terjadi. Marinka beruntung karena Leon melakukan pemeriksaan saat korban yang terbunuh sudah diangkat untuk diautopsi. Marinka yakin akan langsung pingsan seketika, kalau Marinka harus behadapan langsung dengan mayat. Leon tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan pemeriksaan. Setelah Leon mendapatkan apa yang dibutuhkannya Marinka dan Leon segera bersiap untuk langsung pulang ke kantor mereka lagi. Saat Marinka dan Leon masih berada di depan resepsionis hotel, sebuah suara pria mengejutkan Marinka. "Wow, 2 minggu selalu alasan sibuk ternyata bisa sibuk berdua di hotel dengan cowok." "Vino!" seru Marinka. Marinka benar-benar terkejut. Marinka tidak menyangka akan bertemu cowok yang menjadi pacarnya itu di tempat ini. "Iya aku, kenapa? Terkejut habis ketahuan selingkuh?" kata pria itu dengan nada mengejek. "Bukan gitu," Marinka mencoba menjelaskan namun segera dipotong oleh Vino. "Bukan apa? Kamu cuma mau bilang kalau kamu baru mau check in?" tanya Vino sarkastik. Vino lalu memutar tubuhnya ke arah Leon lalu berkata, "gue bakal buat perhitungan ama lo karena udah berani jalan ama cewek gue."Kata Vino tajam Setelah mengatakan itu, Vino langsung menarik Marinka kesampingnya. Marinka mencoba melepaskan genggaman tangan Vino, namun gagal karena tenaga Vino jauh lebih besar darinya. Marinka sadar dan bisa merasakan kalau perubahan sorot mata Leon kini tidak lagi biasa. Raut wajah Leon memang tetap datar, namun sorot dan suara Leon benar-benar terasa dingin yang mampu membuat Marinka hanya bisa diam menciut. "Gue bukan selingkuhan cewek lo. Gue juga nggak serendah itu buat ngerebut apa yang bukan punya gue. Lo bisa ambil dia kalau emang lo ngerasa dia punya lo." Perkataan Leon itu tidak hanya dingin, tapi juga tajam yang membuat Marinka bisa benar-benar merasakan rasa sakit dihatinya ketika pria itu mengucapkan kata-kata itu. 'It's hurt,' rintihnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD