Marinka sadar sepenuhnya kalau belakangan ini Leon kembali seperti Leon yang pertama kali ditemuinya. Tidak ada lagi reaksi atau tanggapan kecil dari pria itu. Padahal belakangan ini Marinka sudah cukup senang bisa merasakan perubahan dari Leon. Tapi kini, Leon kembali tidak tersentuh oleh Marinka. Hal itu membuat Marinka takut untuk mendekatkan diri atau menggoda Leon seperti sebelumnya.
Marinka masih melakukan tugasnya untuk mengikuti Leon kemanapun Leon pergi, hanya saja kali ini Marinka sedikit membuat jarak dengan Leon. Berbeda dengan yang dulu juga, Marinka memilih lebih banyak diam, tepatnya lebih banyak melamun ketika bersama Leon. Marinka bingung, dia bingung dengan perasaannya sendiri. Satu sisi dia merasakan apa yang dilakukannya benar, disisi lainnya dia merasa ini salah dan aneh dengannya.
Suasana disekeliling Marinka tiba-tiba berubah gaduh, terlihat beberapa polisi pria mengintip kearah koridor masuk ruangan. Marinka sebenarnya KEPO, hanya saja Leon terlihat tidak peduli dan tetap duduk ditempatnya. Jadi Marinka mau tidak mau juga harus tetap duduk dengan tenang, sama seperti Leon. He is her boss after all.
"Mereka kesini... mereka kesini..." bisik-bisik polisi muda yang kebetulan di ruang yang sama dengan Marinka dan Leon.
Marinka memfokuskan matanya ke pintu ruangan kerjanya. Mata Marinka langsung menangkap 5 orang gadis yang masuk bersama pimpinannya, alias sahabat papa Marinka.
"Perhatian semua, hari ini kita kedatangan mahasiswa magang yang akan membantu pekerjaan kita disini selama 3 bulan. Untuk divisi ini akan ada 1 mahasiswa magang dan ditanggungjawabi oleh Leon," kata Ali sambil mengarahkan pandangannya pada Leon.
Marinka melirik Leon, pria itu sudah berdiri dan menghormat petinggi di kepolisian itu. Marinka kembali menolehkan padangannnya pada kumpulan mahasiswa magang itu karena suara bisik-bisik yang Marinka dengarkan dari arah mereka.
"Minnie Adelia Kusuma" panggil Ali, setelah memeriksa lembaran kertas ditangannya untuk melihat nama seseorang disana.
Seorang gadis dengan penampilan yang simple namun terkesan elegan mengangkat tangannya. Gadis itu benar-benar terlihat sangat cantik dan tenang. Melihat itu semua, entah kenapa membuat Marinka merasakan perasaan insecure. Apalagi setelah melihat Minnie berjabat dengan Leon sambil tersipu malu. Marinka tidak suka dengan semua itu. Sangat tidak suka.
"Hai..."
Setelah menyepa Leon, gadis itu menyapa Marinka. Marinka mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu membalas senyum dan sapaan dari Minnie
"Hai," sapa Marinka balik.
"Kenalin, saya Minnie Adelia Kusuma. Mbak bisa memanggil saya Minnie," tambah gadis itu ramah.
"Saya Marinka, Marinka Anindya Dinatra," kata Marinka kali ini dengan senyum terpaksa.
"Mulai hari ini saya akan menjadi asisten komandan Leon.”
Perkataan Minnie mengubah senyum terpaksa Marinka menjadi senyum masam miliknya. Bari saja Marinka akan protes, gadis itu sudah melanjutkan perkataanya yang membuat Marinka semakin kesal kepada Minnie.
“Saya dengar mbak juga adalah asistennya komandan Leon ya? Jadi saya minta bantuan mbak untuk mengajari saya soal job desk saya kan mbak?" kata gadis itu terlihat tulus.
Marinka mungkin kesal karena ada rasa tidak rela dalam hatinya, namun akhirnya dia hanya bisa mengangguk kecil. Setelah menjawab Minnie, Marinka lalu melirik ke arah Leon yang kini telah menjelaskan apa saja yang Minnie perlu kerjakan.
'Different treatment huh, Dihari pertamanya Minnie telah mendapatkan pekerjaannya langsung. So how about me, this is already over for one month and she never get a real job,' kata Marinka kesal dalam hatinya.
'Gue harus segera melakukan sesuatu,' putus Marinka dalam hati.
Marinka bergerak mendekati Leon yang terlihat hendak pergi dari bangkunya. Marinka dengan cepat berjalan di sisi Leon ketika dilihatnya Minnie juga bergerak mendekati Leon.
"Mas Leon," panggil Minnie.
Leon menghentikan langkahnya, begitupun dengan Marinka yang ada dibelakangnya. Leon tidak menjawab Minnie, dia hanya menatap datar Minnie.
Berbeda dengan reaksi Marinka yang keki waktu dicueki Leon, Minnie malah tersenyum lebar yang membuat Marinka ingin segera mencekik lehernya.
"Saya boleh ikut?" tanya gadis itu.
Mendengar itu Marinka segera memasang raut masam tidak suka.
"Saya hanya ingin ke toilet," kata Leon datar.
Beberapa polisi yang disana sontak menahan tawa. Hanya Marinka yang masa bodo, tidak peduli dan tetap mengikuti Leon meski dia tau Leon akan ke toilet, biasanya juga begitukan?
"Terus mbak Marinka?" tanya Minnie sambil melihat Marinka dengan tatapan bertanya.
Leon tidak menjawab dan memilih untuk berlalu begitu saja.
Marinka mengerucutkan bibirnya tidak suka, Marinka berharap Leon menjawab dengan Minnie, dengan memberitahu kalau Marinka itu memang selalu mengikutinya. Membayangkan bagaimana jika tiba-tiba Minnie bertingkah seperti mana biasanya dia kepada Leon, membuat Marinka langsung marah, kesal dan tidak terima. Tetapi ambisinya untuk membatalkan pernikahannya dengan Leon, membuat Marinka mengabaikan semua rasa itu.
*
"Ni gue dengar-dengar di divisi Kejahatan, banyak polisi-polisi cakep yang belum nikah ya?"
Saat Marinka hendak memesan makan dan minum, tak sengaja dia mendengar percakapan mengenai divisinya, jadi normal kalau dia KEPO. Marinka sedikit memutar tubuhnya untuk melihat orang-orang itu, ternyata orang-orang yang sedang bergosip itu adalah anak magang dikantornya, salah satu dari mereka adalah Minnie.
"Iya cakep-cakep, apalagi komandan gue. Cakep banget malah. Sayang punya buntut," sahut Minnie.
Marinka yakin yang dimaksud Minnie buntut itu dia.
"Anak maksud lo?" tanya teman Minnie terkejut.
"Bukan, tunangan maksud gue." Jawaban Minnie terdengar seperti ogah-ogahan.
Marinka yang berda di dekat mereka, masih dengan setia mendengarkan obrolan Minnie dan teman-temannya. Saking niatnya dia menguping, dia bahkan memilih untuk duduk dibelakang meja kelima anak magang itu.
"Tunangan kan? Belum jadi istri kok" kali ini terdengar suara pria. Dua dari kelima anak itu memanga adalah anak laki-laki.
"Gue yakin Minnie bakal menang kalaupun saingan ama tunangannya polisi yang dimaksud Minnie. Siapa sih yang nggak mau ama Minnie," puji seorang gadis dari kelompok itu.
Tidak ada jawaban dari mereka, tapi hanya ada ledekan dari teman-teman Minnie yang bisa Marinka dengarkan.
Marinka terdiam, Marinka akui kalau dari segi fisik maka Minnie akan menang telak. Tidak hanya cantik, Minnie memiliki badan bak model pujaan banyak pria. Bahkan dari segi sikap juga mungkin Minnie akan menang denga pembawaannya yang tenang dan dewasa. Hal itu membuat Minnie benar-benar pantas menjadi idaman banyak pria.
Marinka menggigit bibir bawahnya sambil menahan tangisnya. Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan semua bayangan kalau Leon akan lebih memilih Minnie daripada dia. Marinka segera beranjak dari tempat itu dan berlari menuju ruangannya. Setelah duduk ditempatnya, Marinka segera menenggelamkan wajahnya dilipatan kedua tangannya.
Ingin rasanya Marinka menangis karena sedih, tapi dia malu. Marinka juga mau berteriak, untuk melepaskan kekesalannya, tapi dia sadar ini bukan di hutan. Tidak hanya ingin menangis dan berteriak, Marinka juga ingin menjambak dan mengkekep Leon, tapi siapa dia? Intinya, Marinka tidak bisa melakukan apapun saat ini. Marinka mengangkat wajahnya ingin melihat Leon dan mengajak pria itu untuk baikan, tapi baru saja Marinka mengangkat wajahnya dia sudah disodori es cream coklat Baskin Robbins kesukaannya oleh Leon.
"Buat lo." Kata Leon, lalu Leon memilih kembali fokus dengan pekerjaannya, meninggalkan Marinka yang terbengong bodoh karena ulahnya.