Marinka menatap kosong pada cermin didepannya. Gaun putih yang dikenakannya menempel cantik pada tubuhnya. Tidak ada pancaran kebahagian di wajah cantiknya. Bukan karena dia membenci pernikahan ini, tapi alasan dari pernikahan inilah yang membuat Marinka tidak bahagia. Selama satu minggu, otak Marinka terlalu lelah memikirkan semua yang terjadi menimpanya belakangan ini. Meski papa mama Marinka telah meyakinkan Marinka kalau Vino tidak sempat menyentuhnya, tetap saja Marinka merasa kehilangan atas keperawanannya tidaklah normal. Bukan hanya karena tidak menemukan darah di sprei itu, tapi karena penjelasan dokter soal dia yang memang telah kehilangannya sejak lama. Ibarat puzzel, ada salah satu potongan puzzel tersebut yang hilang yang membuat puzzle itu tidak sempurna. Sama halnya denga

