Mickey Minnie Couple

958 Words
Hanya satu minggu, Marinka bisa membuat dirinya dikenal hampir seluruh orang yang bekerja dikepolisian yang sama dengannya. Tidak hanya dikalangan polisi, pegawai atau pekerja lainnya dikepolisian Jakarta Selatan, tapi juga pemilik kantin dan penjual yang ada di sekitan kepolisian itu. Ada beberapa hal yang membuat Marinka terkenal. Salah satunya adalah, sikap Marinka yang mudah bergaul dan tidak memilih-milih teman. Tapi bukan itu hal utama yang membuat Marinka sangat terkenal yang membuat Marinka sangat terkenal di tempat kerjanya sekarang adalah aksinya yang selalu mengikuti Leon. Selain itu, meja kerjanya yang berpasangan dengan Leon-lah yang membuat Marinka semakin dikenal. Berpasangan karena ornamen dan corak serba Mickey-Minnie mouse di meja mereka. Sejak kabar tentang ulah Marinka yang mendekor mejanya dan Leon di ruang divisinya Leon dan dia bekerja, banyak orang yang berkunjung ke divisi kejahatan umum. Mereka berkujung ada yang memang karena tugasnya, mereka menggunakan kesempatan itu sekalian melihat tentang meja pasangan Marinka dan Leon. Adapula yang pura-pura berkunjung, hanya sekedar ingin melihat meja pasangan itu. Intinya, karena meja itu Leon dan Marinka berubah menjadi pasangan Mickey dan Minnie. Berbeda dengan Marinka yang beru terkenal seminggu belakangan ini, Leon sudah terkenal sejak memasuki kepolisian tempat dia bekerja sekarang. Leon memang pantas untuk cepat terkenal. Bayangkan saja, Leon mempunyai wajah yang sangat tampan, tubuhnya tegap dan gagah, perstasinya di bidang kepolisianpun sangat membanggakan. Sayangnya, semua itu tidak didukung dengan sifat dan sikapnya yang lebih cocok sebagai orang tidak populer. Image Leon yang terkenal dengan tidak tersentuh sama sekali, berubah sejak insiden meja Mickey dan Minnie Mouse oleh Marinka itu. Orang-orang di kepolisian tempat mereka bekerja, sedikit mulai berani untuk menyapa atau mengajak Leon untuk berbicara. Menurut beberapa orang yang Marinka ajak berbicara, rasa takut dan tegang jika mereka bertemu dengan Leon sedikit mulai berkurang. Leon seharusnya berterima kasih kepada Marinka untuk semua itu. Marinka merasa, kalau bukan karena dia, Leon masih memiliki image menakutkan di mata rekan kerjanya. Awalnya, orang-orang belum ada yang tau soal Leon yang merupakan calon suami Marinka. Namun entah siapa yang mengetahuinya terlebih dahulu atau siapa yang menyebakannya terlebih dahulu, tapi dalam 3 hari saja Marinka kerja bersama Leon, hubungan keduanya telah diketahui orang-orang di tempat mereka bekerja. Julukan Mickey Minnie Couple-pun disematkan pada mereka berdua. Bukan hanya karena taplak meja Mickey dan Minnie yang mereka gunakan, tapi juga karena segala peralatan bercorak Mickey Minnie mouse yang Marinka dan Leon pakai. Sekedar pemberitahuan saja, Leon memakai seluruh peralatan corak Mickey yang Marinka bawakan dan berikan kepadanya. Leon menggunakan peralatan itu tanpa malu, Leon tidak peduli dengan tatapan menilai dan wajah geli menahan tawa orang yang melihatnya ketika dia mengenakan seluruh pelatan itu. * Marinka mengerucutkan bibirnya sebal, 2 minggu sudah dia bekerja tetapi tidak ada yang dilakukannya selain dari mengikuti Leon. Saking giatnya Marinka mengikuti Leon, badan Marinka akan otomatis bergerak setiap kali Leon bergerak. Tidak hanya bergerak mengikuti Leon, badan Marinka bahkan kadang ikut berpose yang sama dengan badan Leon. Kalau hanya pekerjaannya saja yang tidak berkembang, Marinka mungkin tidak sefrustasi ini. Tapi ini, hubungannya dengan Leonpun tidak mengalami perkembangan. Bagaimana mau berkembang? Informasi pribadi tentang Leon saja dia hanya tau sedikit. Marinka hanya tau nama panjang Leon saja, Doleon Airlangga Putra, that's all. Tidak hanya buta informasi tentang Leon. Hal yang paling parah, Marinka bahkan bisa menghitung berapa kali pria itu mau berbicara dengannya. Selama dua minggu ini, Marinka berubah menjadi pengamat. Bukan pengamat hukum, politik atau bagian pengamat lainnya yang memang wajar dan penting, tapi Marinka berubah menjadi pengamat kehidupan Leon. "Gue juga ikut penggerebekan malam ini?" tanya Marinka pada Leon yang tengah sibuk menulis sebuah laporan. Leon tidak membalas Marinka dan Marinka tidak sakit hati atau kesal sama sekali. Terlalu sering dicueki, membuat Marinka kebal dengan kecuekan Leon. Jangankan menanggapi Marinka, pria itu bahkan enggan untuk menatap Marinka. Jujur saja, hal itu membuat Marinka mulai merasa jengah. "Elo kenapa sih? Lo kayaknya nggak bisa banget nerima gue.” “Gue ngerti lo nggak senang ama gue, gue sadar itu. Kalau lo nyuekin gue, gue oke-oke aja. Nggak ngomong sama gue, gue juga nggak masalah kok, tapi kalau untuk ngelihat gue aja lo nggak mau, sumpah gue merasa terhina." Ucap Marinka dengan suara yang sedikit membentak. Beruntung mereka hanya berdua diruangan itu. Saat itulah, mata gelap tak berdasar dan raut datar milik Leon langsung menghadap Marinka. Semua reaksi Leon itu langsung membuat Marinka membeku. Tidak hanya itu, Marinka tiba-tiba merasa kesulitan untuk menelan ludahnya. Dia ketakutan sekarang. "Gue nggak ngelihat lo, nggak bicara ama lo dan nyuekin lo bukan berarti gue nggak senang ama lo. Terserah lo mau ngelakuin apa, itu urusan lo.” “Dan gue, gue ngelakuin urusan gue." kata Leon dingin. Marinka benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka kalau Leon akan menanggapinya lebih dingin dari yang sebelumnya. Hal itu membuat Marinka semakin takut akan Leon. Jujur saja, Marinka tersinggung akan kemarahan Leon ini. Tidak hanya tersinggung, Marinka merasa sakit hati dengan perkataan Leon. Marinka tidak tau kenapa dia harus tersinggung atau patah hati, hanya saja itulah yang Marinka rasakan. Aneh memang. Marinka tersinggung dan sedih untuk alasan yang tidak dia tau kenapa. 'Haruskah Marinka menangis?' Tidak. Tidak. Marinka tidak secengeng itu. Lagipula, siapa Leon hingga bisa membuat seorang Marinka Anindya Dinatra menangis? Seorang Marinka Anindya Dinatra tidak akan menangis hanya karena seorang pria. Apalagi pria itu bernama Leon. Airmatanya terlalu berharga untuk seorang Leon. "Jerk..." maki Marinka sebelum meninggalkan ruangan kerjanya. Kalau kalian pikir Marinka pulang, Marinka tidak pulang. Marinka pantang pulang ditengah pertempuran. Marinka hanya keluar ruangan dan duduk di kursi koridor yang berada di depan ruang kerja mereka. Marinka keluar ruangan untuk menenangkan hatinya. Kejadian baru saja membuat Marinka semakin bertekad kalau dia akan membuat Leon berbicara, tertawa dan peduli padanya. Saat itu hal itu terjadi, Marinka juga yang akan membuat pria itu menangis karenanya. Ya, menangis saat Leon peduli kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD