Doleon Airlangga Putra

1039 Words
"Mam, Inca pokoknya nggak mau! Inca bakal tetap berusaha buat ngebatalin pernikahan ini. Titik." Ucap Marinka sambil mendengus lalu mematikan handphonenya. Marinka tidak peduli kalau nanti mamanya akan mengomeli dia. Mengomel karena memutuskan pembicaraan mereka dengan tidak sopan sama sekali. Marinka memilih untuk diomeli daripada mendengar penjelasan dari mamanya soal dia yang telah mendaftarkan Marinka dan Leon untuk mengikuti kursus pernikahan di paroki gereja tempat Marinka dan Leon akan mendapatkan pemberkatan pernikahan. Sampai sekarang, Marinka masih tidak mengerti mengapa mama papanya sepertinya sangat ngotot ingin menikahkannya dengan Leon. Padahal Marinka berani bertaruh, kalau kedua orang tuanya itu bahkan tidak tau apa-apa tentang Leon. Jangankan tentang Leon, nama lengkap Leon saja, Marinka yakin mereka tidak mengetahuinya. Marinka menatap sinis Leon. Sungguh, Marinka ingin sekali berteriak tepat di depan wajah pria datar itu. Tapi semua teriak kekesalan itu dia tahan karena Marinka masih ingat kalau seorang Doleon Airlangga Putra bisa membuatnya membeku ketakutan. Marinka tidak mau mengalami hal itu lagi untuk yang ketiga kalinya. That’s a terrible memory. Marinka kembali melakukan pekerjaan yang belakangan ini selalu dia lakukan. mengikuti kemanapun Leon pergi. Berbeda dengan hari pertamanya, beberapa waktu belakangan ini Marinka menambah pekerjaannya. Pekerjaannya itu adalah memikirkan cara yang baik dan tepat untuk dekat dengan Leon. Tidak hanya itu, Marinka juga menambah pekerjaannya dengan mencari informasi tentang Leon. Berbicara tentang informasi,meski sudah 2 minggu berada didekat Leon, Marinka tetap tidak mendapatkan informasi apapun tentang pria itu. Saat memikirkan soal informasi, Marinka baru mengingat soal sesuatu. Marinka menepuk keningnya, dia baru ingat kalau dia bisa ke ruang arsip kepegawaian untuk mencari data tentang Leon. "Gue mau ke ruang arsip dan data dulu," pamit Marinka pada Leon sebelum pergi meninggalkan ruangan. Marinka melanjutkan niatnya biarpun Marinka tidak mendapatkan ijin atau balasan dari Leon. "Selamat siang bu, saya bisa minta alamat komandan Doleon Airlangga Putra nggak bu?" tanya Marinka pada petugas yang bekerja diruangan itu. Pegawai ruangan itu berhenti sejenak dari pekerjaannya yang mengetik sesuatu di computer, lalu dia mengamati Marinka dengan seksama. "Mbak bukannya calon istrinya komandan Leon ya? Bukankah seharusnya mbak sudah tau semua info tentang komandan Leon ya?" kata si pegawai sambil menaikkan satu alisnya. Marinka langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Iya calon istri mbak, calon istri yang tak dianggap," cibir Marinka pada dirinya sendiri. Melihat wajah Marinka dan mendengar cibiran Marinka, membuat si pegawai ruang arsip itu terkekeh geli. Barulah setelah itu memberikan saran lain pada Marinka. "Kalau mau nanya soal alamat komandan Leon jangan disini mbak. Dari sejak komandan Leon masuk, tidak ada seorangpun yang tau datanya. Semua data komandan Leon ada disimpan khusus mbak." Marinka mengernyitkan alisnya bingung. Sebodoh-bodohnya Marinka soal birokrasi, baru kali ini dia mendengar ada aparat negara yang identitasnya disimpan secara terpisah. ‘There's must be something different with him right?’. Kata Marinka dalam hatinya. Dengan fakta ini, Marinka semakin penasaran dengan sosok Leon. Marinka bukanlah gadis bodoh, bodoh yang membuatnya tidak mau tau atau peduli akan sesuatu. Karena itulah, kenapa Marinka bisa semakin KEPO akan Leon. Marinka seakan menemukan keanehan dan misteri tentang Leon dan hidup pria itu. "Kalau mbak ngerasa itu aneh, nggak aneh juga kok mbak. Itu karena komandan Leon adalah salah satu anak emas kepolisian Indonesia mbak," jawab si pegawai berharap bisa mengurangi kernyitan di wajah Marinka. Namun, bukannya mengurangi kernyitan di wajah Marinka. Kernyitan di wajah Marinka ternyata semakin banyak karena jawaban si pegawai itu. Marinka semakin mengernyit karena dia tidak tau kalau lawannya memiliki kredibilitas setinggi itu. Kalau Leon anak emas di kepolisian Jakarta Selatan, mungkin Marinka masih mengerti. Untuk se-Jakarta pun Marinka percaya. Tapi kalau se-Indonesia, Marinka perlu memeriksa keaslian informasi itu terlebih dahulu. "Kalau Leon anak emas, Marinka anak apaan? anak tangga?” Marinka mendesis sebal. “Cih anak emas. Pantas saja kelakuannya seperti itu," Marinka mendecih sambil mengatakan hal itu. Namun, baru saja Marinka kelihatan sebal detik berikutnya Marinka sudah tersenyum menyeringai. Senyum menyeringai itu muncul karena sebuah ide terlintas dikepalanya. Dengan cepat Marinka segera memikirkan cara untuk menjalankan idenya. "Kalau begitu saya permisi ya mbak." Marinka pamit, lalu dengan langkah semangat Marinka berjalan menuju ruangan tempatnya dan Leon bekerja. Marinka langsung mendudukkan dirinya di bangku miliknya, lalu dia mengambil HP-nya. Marinka segera menghubungi para sahabat baiknya untuk menanyakan, apakah ide yang baru saja masuk ke otaknya itu bagus atau tidak. Lalu, Ketika temannya mengetikkan kata 'ya', secepat itu juga Marinka beraksi menjalankan idenya. Ide Marinka kali ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemikiran Marinka selama ini dalam melawan musuh. Jika sebelumnya Marinka hanya menggunakan metode pendekatan biasa saja pada Leon, kali ini dia menggunakan metode merayu sebagai tambahannya. Dengan memastikan wajahnya masih cantik dengan balutan make up naturalnya, Marinka langsung memutar tubuhnya ke arah Leon lalu bergerak mendekatinya. Setelah itu Marinka memasang wajah genitnya dan senyum menggoda khas teman-temannya ketika sedang merayu laki-laki incaran mereka. "Leon sayang," kata Marinka dengan nada yang sengaja dia desah-desahkan. Leon diam tidak menanggapi. Mendapat tanggapan datar dari Leon, membuat wajah Marinka berubah datar untuk sesaat. Namun wajah itu kembali dibuat segenit mungkin dengan jari telunjuknya yang kini diletakkannya di bawah dagu Leon. Dengan posisi jari telunjuk Marinka itu, Marinka mengangkat wajah Leon. Hal itu membuat tatapan Leon tepat mengarah pada mata Marinka. Entah Marinka sadar atau tidak, kalau dalam ruangan itu masih ada orang lain selain dia dan Leon. Tapi yang pasti, Marinka bertingkah seperti hanya ada dia dan Leon disana. Bahkan sekarang, orang-orang itu memperhatikan adegan Marinka dan leon secara terang terangan. Selain memperhatikan, mereka juga berusaha menahan tawa mereka melihat kelakuan lucu Marinka yang sedang menggoda Leon. Dua minggu berkerja bersama Marinka membuat polisi yang ada disekitar Leon dan Marinka sudah terbiasa dengan kelakuan ajaib Marinka. Apalagi kalua hal itu berhubungan dengan Leon. Marinka akan berubah menjadi mahluk paling ajaib yang pernah mereka lihat dikepolisian itu. "Leon sayang mau makan? Marinka mau kok nyuapin Leon," ujar Marinka lagi sambil memberikan wink pada Leon. Setelah mengatakan itu, matanya kembali mengkedip kedip genit. Jarinya yang ada di dagu Leon diusap-usapkannya dengan kecil dan lembut di dagu Leon, seolah sedang meransang pria itu. "Lo nggak punya kerjaan lain selain ngeganggu gue?" kata Leon dengan suara dinginnya. Melihat reaksi dan jawaban Leon, membuat wajah Marinka seketika mengkerut. Bibirnya juga dia kerucutkan. "DOLEON AIRLANGGA PUTRA, I hate you!!!" pekik Marinka sebal lalu meninggalkan Leon untuk kembali ke tempat duduknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD