Dating & Spying

1187 Words
Dengan tangan yang memeluk Leon, Marinka memperhatikan keluarga yang mereka ikuti sejak tadi itu. Setelah hampir 2 jam mengikuti mereka, Marinka tetap tidak menemukan keanehan atau kejanggalan pada keluarga itu. Meski begitu, pria yang dipeluk lengannya oleh Marinka ini sepertinya tidak berpikir yang sama dengannya. Marinka berpikir begitu karena, beberapa kali Marinka menangkap sorot menakutkan dari mata Leon setiap kali ibu si anak bergerak mendekati salah satu anaknya. Seandainya Marinka diminta untuk mengintai seseorang selama kurang lebih 2 jam Marinka pasti akan menolaknya. Jelas saja Marinka menolaknya, bagi Marinka mengintai adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Tapi beda ceritanya jika tugas mengintai itu dia lakukan bersama Leon. Tanpa dimintapun Marinka akan dengan senang hati melakukannya. Seperti sekarang ini, tanpa ada perintah, tanpa ada izin dan tanpa ada persetujuan dari Leon. Jelas saja Marinka senang, dengan alasan menyamarkan kegiatan mengintai mereka, Marinka mengembil kesempatan dalam kesempitan. Contoh paling nyata kalau Marinka mengambil kesempatan dalam kesempitan adalah, tangan Marinka yang tengah memeluk lengan Leon saat ini. Dengan tidak tau malunya Marinka tadi memaksakan tangannya untuk masuk ke lengan Leon. Dan Leon tidak menunjukan penolakan atau keberatan kelakuan Marinka itu, jadilah Marinka terus memeluk Leon hingga sekarang. Hari ini Marinka benar-benar menggunakan prinsip sambil bekerja sekalian modusnya. Saat mobil keluarga yang mereka intai telah keluar dari parkiran, Marinka pikir kalau Leon akan menghentikan pengintaiannya. Tetapi ternyata tidak, lihat saja mata Leon yang tetap bekerja dengan mencoba menangkap nomor plat mobil intaiannya. "Udah?" tanya Marinka penasaran. Leon tidak menjawab Marinka, dia hanya memutar tubuhnya ke arah Marinka lalu menengadahkan tangannya. "Apa?" tanya Marinka bingung. "Lo bawa mobilkan? Siniin kuncinya," kata Leon seolah tanpa beban. Marinka membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Saat itu otak liciknya langsung bekerja untuk menggunakan segala kesempatan dalam kesempitan yang dia punya. "Bisa nggak lo mintanya sambil baik-baikin gue dulu gitu?" Marinka pura-pura protes sambil menatap wajah Leon secara langsung. Berharap dengan dia memasang aksi begitu, Leon akan membujuknya. Tapi, boro-boro bujukan didapatkan Marinka karena pada akhirnya Marinka hanya mendapatkan tatapan datar khas Leon, plus telapak tangan yang tetap mengadah de depan wajahnya. Tidak mau langsung menurut seperti biasanya, Marinka ngotot dengan aksinya. Sepertinya Marinka memang ditakdirkan untuk kalah dengan Leon, hingga membuat Marinka hampir menyerah. Menyerah dengan memberikan kunci mobil miliknya, namun akhirnya Leon mengeluarkan suaranya. "Lo tadi ngedeketin gue buat kerja apa main-main?" Tanya Leon kejam yang Marinka memberengut keki. Marinka memang mau Leon menanggapinya, tapi bukan perkataan yang seperti ini yang Marinka mau. "Lo ngomong emang hanya sekali-sekali, tapi sekalinya ngomong nggak ada enak-enaknya.” Setelah berjeda sebentar, Marinka kembali melanjutkan perkataannya. “Kalau ngomong pake Ajinomoto kek biar kalau lo ngomong bisa sedap dikit," sungut Marinka sambil mengambil kunci dari tas kecil miliknya. Lalu menyerahkannya di tangan Leon yang masih saja mengadah sampai kunci itu berada ditangannya. Tanpa menunggu Marinka, Leon langsung berjalan menuju mini cooper Marinka. Marinka yang masih sebel tetap diam ditempatnya tidak mau bergerak. Marinka pikir pria itu akan meninggalkannya begitu saja, memilih untuk melanjutkan tugas memata-matainya sendiri dengan meminjam mobilnya. Tapi pemikiran itu hilang saat mobilnya memutar dan berhenti dihadapannya, saat itu Marinka sadar kalau Leon ingin membawanya. Cengiran lebar langsung muncul diwajahnya. Iya, secepat itu seorang Leon membolak balik mood Marinka. Bodohnya Marinka belum menyadari hal itu sampai saat ini. Marinka terlalu buta dengan ambisinya untuk membatalkan pernikahannya dengan Leon, hingga tidak menyadari perubahan itu. "Ayang Leon paling bisa deh. Ayang pasti punya prinsip sambil spying sekalian dating ya?" tanya Marinka yang sudah kembali semangat. Semangat Marinka untuk mengusili Leon kembali muncul melihat pria itu tidak meninggalkannya tadi. Tapi seperti biasa, Leon tidak menanggapi memilih untuk menghubungi seseorang melalui HP miliknya. Memerintahkan orang diseberang untuk mencaritau dimana orang yang mereka intai dengan memberikan plat mobil yang Leon hapal tadi. * Setelah mendapatkan info dari orang yang Leon hubungi tadi, disinilah Marinka dan Leon sekarang. Mereka melanjutkan pengintaian mereka yang sempat terputus. Kali ini Marinka benar-benar mengamati keluarga itu. Fokus Marinka kini terpusat pada si ibu dari keluarga itu. Menurut Marinka wanita itu sama seperti istri-istri biasanya, tapi tidak seperti ibu biasanya. Marinka baru menyadari itu sekarang saat anak-anaknya tidak pernah menggenggam tangan wanita itu. Sedangkan si wanitapun tidak pernah berusaha menggenggam anak-anaknya. Anak-anak pria itu tampaknya sangat menjaga jarak dari si ibu. Hanya melihat gerak-gerik itu, Marinka menduga 80% wanita itu adalah ibu tiri dua anak itu. Kalaupun wanita itu ibu kandung mereka, wanita itu pasti berlaku kasar sehingga membuat dua anak itu tidak nyaman dekat denganya. Marinka lalu memalingkan matanya dari keluarga itu ke arah Leon, dia mau bertanya apakah dugaannya benar. Namun bukannya bertanya Marinka malah terpanah. Hari ini Marinka benar-benar banyak menemukan sisi lain dari seorang Leon. Tadi Marinka melihat Leon mendelik untuk pertama kalinya, selanjutnya soal kesediaan Leon untuk menjawab dia meski itu masih jarang, datar sekaligus kejam. Lalu sekarang, Marinka terpanah dengan wajah Leon yang ternyata sangat mempesona, apalagi saat sedang serius seperti sekarang ini. ‘But let's think about that again, kapan dia tidak serius. He always serious, it means he always handsome right?’ Marinka menggelang-gelangkan kepalanya, dia tidak akan membiarkan pesona seorang Leon mempengaruhinya. Marinka tidak akan membiarkan dirinya kalah dengan seorang Leon, kalau Leon tampan dia juga cantik kok. Jadi kalau Marinka mengakui Leon mempesona, Leon juga harus mengakuinya mempesona. Cukup absurd memang, tapi begitulah Marinka dan harga dirinya. Apalagi ini karena Marinka menganggap Leon adalah musuhnya. "Leon lihat gue deh," minta Marinka sambil memasang wajah dengan senyum 1000 watt nya. Tapi, lagi-lagi diabaikan oleh Leon. Tidak mau menyerah Marinka mencobanya lagi. "Ayang lihat aku deh," kata Marinka lagi dengan sok manis dan nada genit, tapi tetap juga tidak digubris oleh Leon. "Leon lihat gue deh," kata Marinka kali ini dengan gaya yang normal. "Yakh, Doleon Airlangga Putra lihat gue bisa nggak?" kata Marinka akhirnya mengeluatkan sosok aslinya. Marinka pikir dia akan diabaikan lagi tapi kemudian dilihatnya wajah Leon teralih kepadanya. Tapi belum lagi Marinka menanyakan apakah dia mempesona pada Leon, Leon terlebih dahulu berbicara. "Lo ada cara biar kita bisa mendekat ke mereka tanpa ngebuat mereka curiga?" tanyanya mengabaikan wajah keki Marinka. Marinka mendengus menahan kekesalannya, tapi tetap melirik ke arah keluarga yang sedang menunggu antrian untuk memasuki arena ring ice skating. "Lo ikut main ice skating jugalah.” Saran Marinka. “Tapi bakal aneh sih kalau lo sendiri yang masuk. Lo nggak lihat yang ada disana banyakan cewek, keluarga ama orang pacaran?" lanjut Marinka setelah dia mengucapkan sarannya. Leon kembali menatap ke arah keluarga yang sudah masuk itu. Entah kenapa Marinka bisa merasa kalau Leon sangat ingin masuk juga di arena ice skating itu. Diliriknya arena ice skating tadi. lalu tatapannya beralih lagi pada Leon. Begitu terus, hingga beberapa kali dia melakukannya. "Lo tau nggak main ice skating? gue temani lo ke dalam biar lo nggak perlu malu," tawar Marinka. Leon menoleh sebentar lalu mengangguk. "Oke gue temani, tapi lo harus pegang dan jaga gue terus. Gue nggak tau mainnya" kata Marinka bohong. Hei, bagaimana mungkin dia tidak tau ber-skating kalau dia saja sudah pernah ke Sopporo Jepang, hanya ndemi permainan di arena es itu. Tapi yang namanya Marinka, dia akan melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi. Marinka tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan modus meskipun itu dalam keadaan kesempitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD