Marinka memeluk lengan Leon dengan erat, bukan karena takut jatuh tapi mau mempergunakan kesempatan modus ini dengan sebaik-baiknya. Baru kali ini Leon memberikan lengannya dengan sukarela untuk dipeluk Marinka tanpa adanya paksaan. Sekedar pemberitahuan saja, sebenarnya niat modus Marinka semakin membesar ketika tadi Marinka menyadari kalau lengan Leon ternyata pelukable banget.
Terlalu girang dengan kesempatan langka yang didapatnya, membuat Marinka lupa untuk berpura-pura tidak tau skating.
"Lo mau kemana?" tanya Marinka saat Leon membawanya mengitari arena ice skating.
"Lo mau kemana? Lo mau kemana? Lo mau kemana?" tanya Marinka terus berulang bahkan dengan nada yang sama karena Leon lagi-lagi tidak menjawabnya.
Dan, "Awww!" Marinka meringis saat wajahnya tidak sengaja menabrak tubuh Leon yang tiba-tiba berhenti.
"Gue kesini itu buat kerja bukan buat main," jawab Leon datar dengan tatapan tepat di mata Marinka.
Marinka terdiam sebentar, mengedipkan matanya hingga terlihat bingung.
Padahal itu semua hanya akting dari Marinka saja. "Yang bilang kita main siapa Yang?" tanyanya dengan nada sok polos miliknya.
Leon mendengus kecil, membuat Marinka lagi-lagi terkejut dan terpaku seperti tadi. Pertama mendelik, kedua bicara banyak dan sekarang mendengus. Wow, dalam satu hari ngelihat 3 ekspresi berbeda Leon, seharusnya Marinka dapat penghargaan untuk itu.
Butuh usaha satu bulan dari Marinka hanya untuk melihat itu semua. Belum lagi ditambah pengorbanan lain dari Marinka seperti dicuekin, menahan malu dan makan hati. Jadi, Marinka memang pantas itu mendapatkan penghargaan untuk melihat 3 ekspresi itu sekaligus. Marinka bahagia? Jawabannya bahagia sekali. Dia tidak perlu gaji kalau bisa membuat Leon berekspresi seperti sekarang.
“Oh iya, ngomong-ngomong soal gaji. Bukankah Sabtu kemarin waktunya gajian ya?” tanya Marinka dalam hati.
Marinka baru sadar belum mendapatkan gajinya bulan ini. Dengan cepat Marinka mencari sosok Leon untuk menuntut gajinya. Biar kata gaji itu mungkin lebih kecil dari uang jajan mingguan Marinka, tapi gaji itu Marinka dapat dari hasil keringatnya. Sudah seharusnya Marinka menuntut dan mendapatkannya.
"Leon!" panggil Marinka sambil menggerakkan kakinya dengan cepat kearah Leon. Tapi seolah tidak mendengarkan Marinka, Leon malah berlari dan 'brukkk' Leon terjatuh namun dengan seorang anak dipelukannya.
"LEEOOOONNNN!!!" teriak Marinka panik, dengan cepat dia berlari ke arah Leon yang terlihat menahan kesakitannya.
"Lo nggak papa?" tanya Marinka sambil memeriksa keadaan Leon yang malah khawatir dengan anak dipelukannya.
"Kamu nggak papa?" tanya Leon lembut.
Lagi, Marinka terpesona dengan sosok lain Leon. Leon terlihat mengeluarkan aura yang hangat saat menanyai anak tadi. Mengalihkan tatapannya dari Leon, Marinka melihat anak yang diselamatkan Leon. Anak itu hanya menggeleng kecil untuk menjawab pertanyaan Leon, dia masih terlihat sangat syok.
"Rio!!!" teriak panik seorang pria.
Mendengarkan teriakan itu membuat Marinka, Leon dan si anak memalingkan tatapan mereka ke pria itu.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya pria itu terlihat begitu khawatir sambil memeluk anak bernama Rio tadi.
Mungkin baru sadar dari rasa syoknya, barulah anak itu akhirnya menangis sebagai bentuk pelepasan rasa terkejutnya.
"Makasih mas udah nolongin anak saya," kata pria itu, lalu menggendong anaknya.
"Ayo ma," ayah si anak segera menarik istrinya yang ternyata ada dekat dengan mereka.
Marinka memperhatikan tubuh si istri bergetar hebat, 'mungkin saking terkejutnya' pikir Marinka.
Tetapi sebelum keluarga itu menjauh, Leon segera menahan mereka lagi. "Pak maaf, boleh saya membawa ibu ke kantor polisi?" kata Leon dengan nada tenang.
Meski Leon berbicara dengan nada tenang, Marinka masih bisa melihat kalau Leon sempat meringis kecil tadi, ketika menggerakkan tangan kanannya.
Pria itu terdiam lalu menatap tajam Leon. Namun sebelum si pria itu mengatakan apapun, Leon sudah duluan menunjukkan kartu identitasnya sebagai polisi.
Marinka langsung melihat kearah si wanita untuk melihat reaksinya. Dan ternyata reaksi wanita itu terlihat mencurigakan sekaligus menyedihkan. Wanita itu sepertinya sangat ketakutan hingga terlihat begitu gemetaran, lebih dari yang tadi, saat anaknya jatuh.
"Saya Doleon Airlangga Putra dari kepolisian. Kalau bisa, saya ingin membawa istri bapak untuk ditanyai tentang beberapa hal," kata Leon begitu formal.
Marinka yang awalnya masih terduduk di es memilih untuk berdiri dan bergerak ke samping Leon dengan sedikit di belakang Leon. Sempat hening beberapa saat antara Leon dan pria yang dihentikannya, sampai si pria menjawab Leon.
"Besok saya sendiri akan mengantarkan istri saya kepada bapak," kata pria itu begitu pelan.
Mendengar jawaban suaminya, istri si pria segera menggeleng kepalanya cepat. "Nggak pa, Mama nggak mau!" teriak wanita itu.
Namun pria itu tidak menjawab, memilih untuk melanjutkan langkahnya dengan tenang walau kekecewaan tampak jelas diwajahnya. Merasa suaminya meninggalkannya, membuat si wanita sedikit tergesa untuk mengejar suaminya.
"Lo nggak papa?" tanya Marinka saat Leon sudah mulai berajalan menjauh dari arena ice skating. Seperti biasa, Leon kembali tidak menggubris pertanyaannya. Hal itu mau tidak mau membuat Marinka sebal karena dia bertanya itu untuk memastikan keadaan Leon yang terlihat meringis tadi. Dengan cepat Marinka menyusul Leon, lalu ditariknya lengan Leon hendak marah kepadanya. Tapi, "Awwww..." ringis Leon keras karena kesakitan.
Cepat-cepat Marinka melepaskan pegangannya pada lengan Leon. Setelah itu dia mencoba membuka lengan panjang milik Leon dengan hati-hati dan warna biru lebam adalah hal pertama yang Marinka temukan disana.
"Tulang tangan lo kayaknya ada yang patah deh. Kita ke dokter sekarang." Kata Marinka mutlak, dia benar-benar khawatir dengan kondisi lengan Leon.
Marinka tidak menyangka kejadian tadi bisa melukai Leon hingga separah itu. Hingga akhirnya Marinka memutuskan untuk membawa Leon ke rumah sakit milik om-nya yang kebetulan dekat dengan posisi mereka sekarang.
"Gimana om? Parah nggak?" tanya Marinka tidak sabaran.
Melihat biru di tangan Leon jelas membuat Marinka yakin kalau laki-laki itu sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Leon nggak papa kok, tulangnya sedikit retak yang mengakibatkan adanya penggumpalan darah. Makanya tangan dia bisa selebam ini." kata Zio, om Marinka yang menangani Leon saat ini.
"Tapi nggak perlu sampai diamputasi kan om?" tanya Marinka heboh, mendengar kata retak tadi benar-benar membuat Marinka ketakutan.
"Kenapa harus diamputasi, itu cuma kecelakaan ringan kok. Nggak patah juga," kata Zio geli dengan kehebohan Marinka.
Leon sendiri memilih untuk tetap diam, mencoba untuk menggerakkan tangannya pelan-pelan.
"Ya mana taukan om. Kan Leon Mickey-nya Inca bukan Sasuke-nya Sakura om," kata Marinka ngelantur.
Zio kembali terkekeh geli. Terbiasa dengan segala celetukan ajaib Marinka membuat Zio tidak mau diam-diam kalau sedang menertawai Marinka.
"Ya udah om kita pulang dulu ya," pamit Marinka setelah tangan Leon sudah diperban dan diberi penyangga.
Zio tersenyum dan mengangguk untuk mempersilahkan Marinka pulang bersama Leon.
Sebenarnya Zio terlalu muda untuk Inca panggil om, bayangkan saja beda umur mereka hanya terpaut 5 tahun. Tapi karena om-nya itu adalah produk kebobolan oma opa-nya Marinka, maka Marinka tetap saja harus memanggilnya om meski umur mereka tidak jauh berbeda.
"Oh iya Ca, Inca udah kerja ya?" tanya Zio saat Marinka berdiri dari duduknya.
"Iya om," jawab Marinka bangga.
"Selamat ya.” Kata si Zio menyelamati Marinka yang Marinka balas dengan anggukan bangga.
“Oh iya titip salam buat mama papa sama kakak kamu," kata Zio saat mengantarkan Marinka keluar dari ruangannya.
Marinka mengangguk lalu memeluk io sebelum benar-benar pergi bersama Leon meninggalkan rumah sakit tempat om nya berkerja
"Gue minta gaji," kata Marinka tiba-tiba tanpa peduli dimana dia dan Leon sekarang. Dengan tidak tau malunya Marinka menengadahkan dua tangannya kehadapan Leon.
Leon terdiam sejenak, lalu berlalu begitu saja meninggalkan Marinka entah kemana. Tidak mau terlihat bodoh, Marinka mengejar Leon yang ternyata menuju swalayan. Baru saja Marinka mau mengomeli Leon karena mencueki dan meninggalkannya tapi keburu terhenti ketika Leon menyodorkan sebuah es krim magnum buatnya.
"Gaji lo," katanya langsung melengos pergi meninggalkan Marinka yang melongo bego.
'WTF, just Magnum ice cream? For her payment?'