" kamu. . . "
Hani menautkan alisnya, pada seseorang yang langsung merangkul lengannya.
" Rin, Ram, kalian pergi aja ,biar Hani ikut mobilku aja. " Mega datang ,merusak rencana Hani.
" Gak usah Ga ,aku naik mobil ini aja. gak apa - apa kan Rin?. " Hani membungkukkan tubuhnya, menatap mata karina yang sedang menatap lurus ke depan.
" Gimana Rin?. " tanya Rama pada kekasihnya.
kenapa Rama harus bertanya?. Bukankah sudah jelas jawabannya, karina pasti menolak.
" Kalian kan harus mengurus beberapa hal lagi untuk pernikahan nanti. sudah ,pergi sana, biar Hani sama aku, aku juga mau ngobrol - ngobrol. banyak yang harus kita bicarakan. " Mega kembali menyela.
" Tapi ,aku. . . "
Sebelum Hani selesai bicara , Mega sudah menarik tubuhnya. Mega membungkuk, lalu mengedipkan matanya pada karina, yang dibalas senyum tipis oleh karina.
" thanks Ga. " ucap karina dalam hati. jika Mega tidak muncul, pasti hani dengan tidak tau malu akan masuk kedalam mobil milik Rama.
Rama langsung mengemudikan mobilnya,meninggalkan gedung pertemuan itu.
Karina menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. pikirannya melayang ke masa saat Karina dan Hani masih baik - baik saja.
15 tahun yang lalu.
" Kamu liatin apa Rin?. " Hani mengikuti arah pandangan karina, yang menatap ke lapangan olah raga. disana sedang berlangsung pertandingan antar kelas. kelas 10 IPA1 melawan kelas 10 IPA2.
" Eh? enggak. " jawab karina dengan tersipu.
" kamu liatin kelas 10 yang lagi tanding?. "
senyum karina membuat hani semakin curiga.
" Yang mana ?. "
" apanya ?. " karina menatap Hani. bingung.
" Yang mana ,yang menarik perhatian kamu?. "
" kok kamu tau ?. "
hani tertawa mendengar pertanyaan karina.
" kelihatan jelas gitu diwajah kamu, wajah - wajah orang kesemsem gitu. " Hani ikut memperhatikan adik kelasnya yang sedang bertanding futsal.
" itu, yang itu tuh. yang gak pakai kaos olahraga, yang kaos ijo. " Karina berbisik pada Hani.
" yang itu?. "
hani memastikan dengan menunjuk seorang lelaki memakai kaos ijo, dengan rambut belah pinggir yang sedikit basah karena keringat. alisnya tebal, namun matanya sipit. kulitnya putih, dangan hidung yang cukup mancung. tubuhnya tidak gemuk, tidak juga kurus.
" ish jangan tunjuk - tunjuk. Nanti ketauan. " Karina dengan cepat menurunkan telunjuk Hani.
Bagus juga selera karina. Batin hani.
" gimana?. cakep kan?. " karina berkata sambil tersenyum, semua gigi putihnya terlihat.
" lumayan juga sih. nemu aja kamu yang cakep gitu. "
karina mengulum bibirnya.
" Namanya siapa?. " tanya hani. senyum karina seketika hilang.
karina mengubah duduknya menjadi menghadap hani.
" aku gak tau, aku cuma tau dia kelas 10 IPA1, aku juga baru liat pas mulai classmeeting ini. Aku liat dia pas main gitar didepan kelasnya kemarin. " Sahut karina.
hani manggut - manggut.
" mau aku bantuin gak? aku bisa tanyain nama dan nomor teleponnya berapa. " Hani menawarkan diri.
" kamu mau?.emang kamu berani?. "
" yaelah, gitu doang. kenapa enggak. Kita kan kakak kelas, pasti dia bakalan ngasih. "
karina nampak berpikir. lalu senyumnya mengembang.
" tapi, nanti kamu bilangnya buat siapa ?.jangan bilang buat aku, aku malu. " belum apa - apa wajah karina sudah memerah.
" tenang aja. aku bisa ngarang seribu alasan kok. "
" oke . aku ngandelin kamu ya " karina kembali menatap ke lapangan. melihat lelaki berkaos ijo yang belum dia ketahui namanya siapa. lelaki itu terlihat berlari - lari mengejar bola, sambil sesekali tertawa bersama temannya.
melihat adik kelasnya itu tertawa, karina ikut tertawa. Di mata karina, lelaki itu begitu menarik dan , ganteng. Sepertinya karina sedang merasakan apa yang dikatakan cinta monyet pada masa sekolah.
Hani yang melihat karina tidak melepas senyum dari wajahnya sedikit heran. memang adik kelasnya itu cukup tampan, tapi Hani belum menemukan sesuatu yang menarik dari lelaki itu.
saat para adik kelasnya selesai bertanding bola, Hani melihat lelaki berkaos ijo itu berjalan menuju kantin, hani pun segera meluncurkan aksinya.
" Tunggu sini. aku mau minta nomor telepon dia. " ucap hani berdiri dari duduknya, lalu meninggalkan karina yang sedang menikmati debaran di dadanya. padahal bukan dia yang meminta langsung . tapi dia tetap deg - degan.
setelah sepuluh menit, Hani datang dengan sedikit berlari, senyumnya cerah.
" gimana ?. " karina tidak sabar.
" dapet dong. Nih . " Hani menunjukkan deretan nomor telepon di telapak tangannya. dengan sebuah nama
" Andri ?. " gumam Karina.
" iya ,namanya Andri . ini nomor telepon rumahnya. "
" kamu mintanya gimana ?. "
" ada deh , udah kamu tenang aja. aku gak bilang buat kamu kok. "
" makasihhhh ,kamu baik banget. " karina memeluk hani, dapat hani rasakan debaran jantung karina yang berdetak cepat. sesenang itukah karina?. batin hani.
Tanpa karina tau, ini semua awal dari renggangnya persahabatan mereka. seharusnya, sejak awal dia tidak pernah meminta bantuan Hani.
Hani menatap karina yang senyum - senyum melihat nomor telepon Andri. Karina tidak tau, jika Andri sendiri yang menuliskan nomor teleponnya ditelapak tangan Hani, juga ,betapa wanginya parfume yang andri pakai, dan tatapan senang andri saat melihat Hani menghampirinya.
" Rin, karina. . . sayang ?. "
Rama memanggil karina yang tampak asyik dengan lamunannya sendiri.
" kamu mikirin apa ?. " Tanya Rama lembut. sejak di acara reuni tadi, kekasihnya nampak sedikit aneh.
" enggak. gak apa - apa kok. " Karina menundukkan kepalanya, menatap cincin bermata satu yang melingkar di jari manis tangan kirinya.
" Aku gak nyangka ya, Hani itu sahabat kamu. kebetulan banget ya. kalian sangat dekat dulu ?. "
Karina benci membahas ini.
" Kamu gak bilang sama dia kalau kamu sudah punya tunangan dan akan segera menikah?. " Karina menatap Rama Lekat.
" Enggak. memangnya harus?. "
" Haruslah. Biar dia tau kalau kamu udah ada yang punya. " Karina cemberut. Rama hanya tertawa.
" Dia gimana di kantor?. "
" Gimana apanya sih maksud kamu ?. "
" ya, semuanya. cara dia jalan ,cara dia ngomong ,cara dia menatap kamu. ada yang aneh gak?. "
Rama makin tertawa.
" kamu kenapa sih?. dulu sama sekretaris ku yang lama ,kamu gak segininya. Padahal kan Hani sahabat kamu. Harusnya kamu merasa lebih tenang dong, aku bekerja dengan orang yang kamu kenal. bahkan sahabat kamu, jadi aku gak bisa macam - macam kan di belakang kamu?. "
karina tertawa sinis dalam hati. kamu gak tau aja Ram, wanita seperti apa dia. batin Karina.
" Tapi ,Hani memang cantik sih, di kantor aja banyak lho karyawan lelaki yang ngedeketin dia, padahal dia baru kerja satu minggu. "
" Termasuk kamu ?. " tanya Karina kesal.
" Enggak dong. aku kan udah punya yang paling cantik. " rama mengacak - acak rambut karina.
" Masa ?. kalau dia yang ngedeketin kamu, gimana ?. " pancing Karina.
" Kamu tuh kenapa sih?. gak biasanya nanya yang seperti itu. lagi juga, mana mungkin Hani ngedeketin aku, aku kan atasannya, sekaligus calon suami sahabatnya. pikiran kamu aneh - aneh aja. " Rama heran ,namun tetap tertawa.
" Dia memang sahabat aku , dulu. Tapi kan udah lebih dari lima belas tahun gak ketemu. Jaman aja bisa berubah ,apalagi manusia. " Balas karina.
Rama tidak mengerti apa maksud dari ucapan wanita yang duduk disebelahnya. namun enggan mengambil pusing, rama tidak menyahuti lagi. fokus pada kemudi yang ada ditangannya.
" Sekarang kita mau kemana ? " Tanya Rama.
" Karena aku udah dandan cantik, gimana kalau ke butik, lihat - lihat gaun pernikahan, kali aja ada yang terbaru. "
" oke. "
Rama melajukan mobilnya kesebuah butik yang berada di mall terbesar di jakarta.
Karina menghela nafasnya, entah kenapa perasaannya tidak enak sejak pembicaraan dengan Hani di toilet tadi.
Dalam diam , Karina meremas tali tas tangannya. Tidak ,dia tidak akan diam saja. kali ini ,dia akan melindungi miliknya.
***
" Lepas. apa - apaan sih. "
Hani melepas paksa tangan Mega yang melingkar di lengannya. Mega hanya mengangkat bahu, lalu meninggalkan Hani di parkiran.
" Ngapain kamu masuk kedalam lagi ?. " Hani menghentikan Mega yang kembali masuk kedalam gedung pertemuan. Bukankah tadi mega bilang akan mengantarnya, apa mega berbohong?.
" berisik banget sih lo. " Mega kesal pada hani yang tidak berhenti bicara.
" kamu sengaja ya , bilang gitu biar aku gak ikut mobil Rama ?. " Hani melipat tangannya di d**a.
" kamu aku kamu aku. Gak usah sok imut lo. " Hardik Mega. Entah kenapa dia kesal sekali dengan wanita ini.
" iya gue sengaja, kenapa ?. gak suka ?. "
" kok lo gitu sih?. gue kan mau ikut mobilnya Rama. lagi juga, gue udah lama gak ketemu karina, gue mau ngobrol - ngobrol juga sama dia. " jawan hani, kali ini dia berbicara dengan lebih santai.
" PAK RAMA. Dia atasan lo, ingat. "
" cckk . . Dia atasan kalau lagi dikantor, lagi juga dia calon suami sahabat gue dulu. Gak apalah kalau gue manggil dia Rama doang. " Hani memainkan kukunya yang berwarna merah.
" Mantan sahabat. " Ralat Mega.
mendengar itu, hani tertawa. Ya ,benar. mantan sahabat. ucap hani dalam hati.
Saat Hani dan Mega sedang berbicara, seorang lelaki muncul dari sebuah mobil sedan berwarna putih. lelaki dengan alis tebal dan hidung mancung. kulit putihnya tertutup dengan jaket jeans berwarna hitam. Rambut belah pinggirnya tumbuh menutupi alisnya, namun tidak mengurangi ketampanannya.
Hani tentu saja mengenali lelaki itu. Andri. Dia lalu memanggil lelaki itu,
" Andri ?."
Andri memicingkan mata sejenak, lalu setelah mengenali siapa yang memanggilnya ,dia menghampiri.
" Andri mantan aku kan?. Ya ampun, kamu makin ganteng ya. " Mata Hani berbinar melihat Andri. sedang Andri nampak acuh saja.
" Ya. Gue Dengar lo gak akan datang. Ternyata datang juga. " Andri mengedarkan pandangannya ke sekeliling. seperti mencari keberadaan seseorang.
" Kenapa?. kamu pasti pengen banget ketemu sama aku ya?. "
mendengar perkataan hani,mega memutar bola matanya, malas. lalu berjalan hendak meninggalkan Hani dan Andri. Malas melihat kehadiran dua orang itu. namun langkahnya terhenti saat mendengar apa yang andri ucapkan.
" siapa bilang gue mau ketemu lo. gue datang karena dengar kabar kalau Karina juga datang. Sudah lama gue nyari kabar karina tapi gak ketemu - ketemu "
Mega melebarkan telinganya , langkahnya terhenti ,mendengar nama karina disebut.
" Ngapain kamu nyari dia?. Dia aja gak nyariin kamu tuh . " Ketus hani
Andri tertawa sumbang.
" Gue harus nyari dia. karena gue harus meluruskan kesalah pahaman lima belas tahun yang lalu, gara - gara ulah orang yang ngakunya sahabat karina. "
Mendengar itu tenggorokan Hani mendadak kering. bagaimana mungkin Andri masih mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu. Bukankah harusnya Andri melupakannya saja?. Toh, karina juga sebentar lagi akan menikah.
" ayolah, itu kejadian lama banget. gak usah diinget - inget lagi. Lagi juga karina belum tentu inget sama kamu . "
" enak banget lo ngomong gitu. kalau bukan gara - gara lo, cewek yang jadi pacar gue dulu pasti karina, dan dia gak akan salah paham dan ngejauhin gue, dan ngilang gitu aja tanpa kabar. "
eh?. gimana - gimana?. andri ngomong apa barusan?. mega yang masih mendengarkan mereka berbicara mengerutkan wajahnya, heran dan bingung.
Hani menatap mega yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bingung dan penasaran. gawat, Mega tidak boleh mendengar lebih dari ini. batin hani. Namun ucapan andri selanjutnya membuat mega memajukan langkahnya, mendekati Andri.
" Kalau bukan gara - gara lo ,gue ga akan kehilangan Karina. "
- tbc -