MEN—FIVE

1080 Words
"WOYY BOCAH KERDIL KELUAR LO!" teriak Zaidan sambil menggedor pintu rumah Zea. Ceklek!  "Apaan? Sopan ngedar ngedor pintu orang?" tanya Zea dengan tatapan sinisnya. "Bodoamat! Lo kan ambil kunci motor gw?" tanya Zaidan. "balikin! Gw mau sekolah" sambung nya sambil mengarahkan tangan nya. Zea bersedekap d**a dan menyenderkan tubuhnya di ambang pintu. "Perasaan gak ada deh" jawab Zea santai. "Lo apa-apa pakai perasaan, pantesan aja jomblo" ejek Zaidan tanpa menatap ke arah Zea. "Wah parah ya lo, gw masih punya 12 pacar! Emang lo, mantan di banyakin pacar gak punya!" Zaidan ikut bersedekap d**a. "Buat apa punya pacar banyak- banyak, kalau nanti nya jadi Jones?" "Amit-amit tabang bayi gw jadi Jones!" ucap Zea sambil memukul-mukul pintu. "Udah cepetan mana kunci gw? Atau gw berantakin ni rumah" ancam Zaidan. Zea menaikkan bahunya acuh, ia berjalan melintasi Zaidan dengan seragam yang sudah melekat di punggungnya. "Bodoamat gw mau sekolah" ucap Zea sambil berjalan menuju gerbang rumahnya. Zaidan mengacak rambutnya frustrasi, ia sangat lupa mencabut kunci motornya. Bahkan kemarin ia tau bahwa Zea di rumahnya. "ZEA KUNCI MOTOR GW!" teriak Zaidan sambil berlari mendekati Zea yang sudah naik ojek. Zea menjulurkam lidahnya, dan sekarang ia sudah benar-benar menjauh dari Zaidan. "Awas ya lo, KERDIL. Gw bales lo entar!" *** Zea berjalan memasuki lingkungan sekolah, namun baru beberapa langkah seseorang laki-laki menarik tangannya.  "Dion ya?" tanya Zea sambil menunjuk laki yang memegang tangannya. "Iya, kamu lupa?" tanya nya dengan nada lembut membuat Zea ingin muntah di tempat.  "Hmm gak sih, kenapa emang?"  tanya Zea sambil melepaskan tangan laki itu dari lengannya.  "Nanti jalan yuk, kan sekarang kita aniv yang ke 1 bulan" ucap Laki itu membuat Zea melotot tajam.  "Satu bulan?" tanya Zea kaget. Biasanya Zea akan pacaran paling lama 3 hari, dan sekarang bisa-bisanya nyampe sebulan.  Dion menganggguk. "Biasa in kali mukanya"  Zea menggeleng cepat. "Okey, gw mau putus bay" ucap Zea cepat dan langsung pergi meninggalkan Dion yang masih berdiri disana.  Zea berjalan cepat di koridor, ia memasuki kelas dan langsung duduk di mejanya.  "Sel!" panggil Zea kepada Selly yang sibuk menyisir rambutnya.  "Apa? Kenapa muka lo kayak gitu?" tanya Selly sambil sedikit melirik ke arah Zea.  Zea menyampingkan badannya, agar bisa berhadapan dengan Selly.. "Gw punya pacar yang namanya Dion ya?" tanya Zea membuat Selly menatap tajam-tajam.  "Ya mana gw tau, yang pacaran kan elo, nama nanya ke gw?" ucap Selly dengan ketusnya.  "Ya siapa tau, masak iya gw udah sebulan pacaran sama dia"  "WHAT?" ucap Selly kaget membuat siswa yang sudah berada di kelas menatap Zea tajam.  "Apaan si lo! Biasa aja kali, suara toa!" ejek Selly.  "Lo sebulan sama Dion itu? Lo lupa kalau punya pacar?" tanya Selly dengan nada sedikit berbisik. "Berarti pacarlo sekarang 13 dong?" sambung Selly.  Zea meletakkan kedua tangannya di dagu. "Iya yak! Gw lupa pacar gw yang mana aja, gw cuman inget satu!" ucap Zea dan kembali menatap ke arah Selly.  "Siapa?"  "Tuhsi Rio IPS 5" ucap Zea dan lagi-lagi membuat Selly menatap tajam.  "Rio Wijayanto? Seriusan lo pacaran sama dia?" tanya Selly.  Zea memutar bola matanya malas. "Lo dikit-dikit heboh, biasa aja kali" ucap Zea dengan nada malasnya.  Selly hanya cenggesan tidak jelas. "Ya habisnya lo pacaran sama ganteng-ganteng, dan lo gak tau kalau Rio incaran siswa disini?" ucap Selly membuat Zea menatapnya.  "Serius lo?"  Selly mengangguk. "Mending lo putusin aja tuh si Rio, atau gak lo putusin dulu semua pacar lo. Nah udah tu kan trus nanti lo cari pacar lagi" ucap Selly dan dibalas gelebgan oleh Zea  "Enggak ya, tadi aja gw udah di bilang jomblo sama si Cebong, ntar kalau gw putusin semua, trus gw gak punya pacar lagi, makin di ejek gw" jawab Zea dengan ketusnya.  "Zea Zea, lo tuh ya sama Zaidan berantem aja, udah tetanggan, kamar juga dejetan satu kelas satu sekolah. Sampai kapan lo mau akur sama dia?" tanya Selly sambil mengusap wajahnya kasar. Selly memang sudah bosan melihat dan mendengarkan pertengkaran Zea dan juga Zaidan.  " Sampe kucing bertelur! " bentak Zea dan berjalan pergi dari keluar kelas.  " Boro-boro nungguin kucing bertelur, nungguin Ayam bertelur aja lama" gerutu Selly.  *** Zea berjalan di koridor, ia sangat bosan berada di dalam kelas. Walau ia baru saja datang namun bisa saja membuat dia bosan.  Plak!  Botol plastik melayang dengan mulusnya di kepala Zea, Zea berbalik badan dan melihat Zaidan dan ke empat kembaran ya berdiri di sana.  "Apaan si! Tong sampah tu disini" ucap Zea sambil menunjuk tempat sampah di sampaing Zea.  Mereka berjalan mendekati Zea. "Yang bilang tong sampah disana siapa?" tanya Gibran membuat Zea mendengus kesal.  "Bisa gak sih gak usah ganggu gw sehari aja ya 5 cebong" ucap Zea dengan nada yang se lembut mungkin.  Zaidan menatap Zea tajam. "Balikin dulu kunci motor gw" ucap Zaidan sambil mengadakan tangannya.  Zea tersenyum gentir, ia memukul pelan lengan Zaidan. "Kuncinya gw gak sengaja lempar ke got" ucap Zea dengan santainya. "and kayaknya udah ilang!" sambungnya dan langsung berlari terbirit-b***t.  "WOY ZEA AWAS YA LO!" teriak Zaidan dan langsung lari menyusul Zea.  Sementara keempat kembarannya masih berdiri di sana.  "Udah kayak Tom and jery" ucap Rehan sambil menggelengkan kepalanya.  "Gak di sekolah, di rumah ribut aja kerjaannya" sambung Dafa sambil memasukkan tangannya kesaku celananya.  "Cobak bayangin ya, si Zaidan nikah sama Zea?" ucap Devan membuat mereka menatap dirinya.  "KDRT!" ucap mereka serempak dan diiringi gelak tawa.  "Sayang Gibran!" teriak seorang wanita dari jauh membuat mata Gibran berbinar, terkecuali para kembarannya.  "Ada apa sayang?" Tanya Gibran sambil memeluk pinggang ramping wanita itu.  Uwekkk!  "kresek mana kresek!" ucap Dafa sambil memeragakan orang muntah.  Pletak! Gibran menyitak jidat Dafa. "Kurang asem lo jadi adek!"  "Beda 15 menit aja belagu" jawab Dafa tajam.  "Nanti ke bioskop yuk sayang" ucap Wanita itu lagi.. "Iya sayang, apasih yang gak buat kamu"  Devan, Rehan, Dafa berngidik ngeri melihat Abang mereka yang sangat bucin kepada pacarnya.  "iya sayang, apasih yang gak buat kamu eleh taik, diajak n***e aja paling gak mau" ucap Rehan meniru gaya ucapan Gibran. "Belum halal Rehan, kamu iri ya?" tanya wanita itu.  Rehan menatapnya tajam-tajam. "Gw iri sama kalian? Ogah mending gw jomblo aja" ucap Rehan dan langsung pergi dari hadapan mereka.  "Trus? Kalian berdua kenapa masih disini?" tanya Gibran tajam sambil menatap Dafa dan Devan tajam.  "Songong bener lo, nanti kalau ke balasan sering berduaan. Jangan minta tolong 'Fa beliin kakak ipar lo gini gw gak mau punya anak ngileran' ogah ya!" bentak Dafa seolah-olah ia akan tau apa yang akan terjadi.  "Ngaur lo! Sana pergi!" usir Gibran membuat mereka dua mendengus kesal dan langsung pergi dari hadapan mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD